komuter

Arsip untuk ‘blogor’ Kategori

berteman embun pagi

In biker, blogor, jalan, jurnal, polusi, seli, sepeda on November 23, 2011 at 1:55 pm

selain bersepeda

In blogor on Januari 20, 2011 at 11:40 am

tetap maju

In b2w, biker, blogor, jakarta, jurnal, pengendara, seli, sepeda on Desember 3, 2010 at 2:29 pm

alhamdulillah ada teman yang bisa diajak gowess bareng, walau penuh perjuangan. dikatakan penuh perjuangan karena rumah saya di parung, jika langsung b2w, maka tinggal tarik garis lurus sesuai rute yang ada di googlemaps. namun hari ini Jumat 03-12-2010 ada yang menawarkan gowess AKAP bersama, dengan senang hati saya menanggapi.

dimulailah petualangan itu. rute perjalanan dari rumah saya ambil arah ke bogor… benar sodara-sodara, bukannya langsung ke jakarta tapi balik arah dulu ke bogor. tepatnya stasiun bojong gede. saya sempat ada janjian untuk tikum (titik kumpul) di situ. saat b2w normal saya hanya butuh waktu kurang lebih satu jam, tapi hari itu beda. berangkat pukul 05.45 sampai kantor pukul 07.00.

sampai di kantor pas lagi apel pagi. jadi tidak sempat ikutan apel pagi karena sekalian diguyur hujan pagi itu. baju basah dikit, celana basah kuyup. perjuangan tiada akhir.

teman duet adalah seorang gowel dari bogor. karena baru sekali itu bertemu, jadi tidak begitu tahu banyak. namanya mang Iman Chandra. apa khabar ??

berikut foto-fotonya :

foto mang iman

.

berikut gantian saya

waktu pertama bertemu, mang iman seperti tidak mengenali saya (ya iyyalah..). jadi mang iman cuma membunyikan bel dan terus berlalu. merasa kenal, saya ikuti. merasa diikuti, mang iman tungaktengok ke belakang curiga. merasa dicurigai, segera saya buka percakapan “ada janji dengan anak gowel” jrenggg mang iman langsung “oh mang zaenal yah, saya iman”. dan keakrabanpun terjalin.

terus-terang ini gowes duet pertama saya yang direncanakan. yang tidak direncanakan sih sering tapi jadi tidak banyak bicara. duet ini tidak terlalu jauh, karena menjelang stasiun citayam, saya lurus terus ke arah rawa denok, sementara mang iman ambil jalur kanan melewati stasiun citayam.

terima kasih mang iman, kapan-kapan gowess bareng lagih…

ternyata

In b2w, blogor, jakarta, jalan, sepeda on November 29, 2010 at 2:27 pm

gara-gara tinggal di pinggir kota, banyak hal yang tidak saya ketahui dari kota tempat tinggal saya. walau baru benar-benar pindah selama kurang lebih empat bulan di kota kabupaten Bogor, saya selalu melihat ke Jakarta tempat kerja saya. Parung adalah kota kecil di kabupaten Bogor, secara geografis lebih mendekat ke Jakarta. bukan hanya saya yang berkegiatan di Jakarta, namun hampir sebagian besar orang yang saya kenal memiliki aktifitas di Jakarta. jika menyebutkan nama suatu daerah di Jakarta seperti blok m atau jalan thamrin, maka tinggal sebut saja. tapi jika ingin pergi untuk beraktifitas di suatu daerah di Bogor maka hampir semua orang menyebutkannya Bogor. dalam arti tidak familier dengan nama daerah yang ada di Bogor.

mungkin di Bogor ada nama jalan yang sama dengan nama jalan di Jakarta. terutama nama jalan besar. tapi jika disebutkan nama jalannya, pasti dalam benak banyak orang di sekitar saya akan berfikir bahwa jalan itu ada di Jakarta. saking Jakarta minded.

hari ini, tanpa disengaja saya melihat dan membaca serta baru mengetahui bahwa ada kegiatan b2w di kota Bogor. selama ini saya masuk dalam komunitas b2w yang ada di selatan Jakarta. setelah lihat-lihat website b2wbogor, coba-coba untuk ikut di dalamnya. kira-kira bakalan bisa gowess bareng ga’ yah dengan sesama b2wbogor?

ini logonya :

dapat dari situsnya : http://b2wbogor.org

anda anggota b2wbogor ?? salam kenal

garong duet atau duet garong

In b2w, biker, blogor, jalan, pengendara, seli, sepeda on November 6, 2010 at 7:37 pm

tak seperti biasanya, pagi itu hati rasa riang gembira. entah mengapa beban yang biasa menggayut bisa terlupakan. mungkin karena sikap pasrah ini yang tertunjukkan dengan doa dan rela.

pagi buta, eh.. tidak ah, sudah beberapa minggu ini saya tidak pernah lagi merasakan yang namanya pagi buta. saat buka hordeng kala terbangun suasana sudah menerang. padahal hp jadul masih menginformasikan bahwa waktu baru menunjukkan pukul 04.30 pagi. hal seperti ini sudah terjadi kurang lebih empat mingguan lah. sebelum-sebelumnya pukul lima pagipun suasana masih gelap. mulai meremang sekitar pukul 05.30. kemudian menerang sekitar pukul 05.45. tapi sekarang, pukul setengah enam saja sudah terasa panas menyengat. naze ?? <– (artinya : mengapa??).

jumat pertama di awal bulan minggu pertama, hari di mana para blogor mengadakan jumper yang tak pernah bisa ku datangi. naze ??

belum lagi waktu menunjukkan pukul 05.00, pintu gerbang sudah terbuka. sepeda sudah dikeluarkan. perabotan lenong sudah tergantung di punggung. lampu sepeda menyala walau terang mentari sudah menyapa. penguasa rumah tangga dan sang pangeran berdiri melepas kepergian ini untuk beranjak bekerja. assalamualaikum … daaaahhh..

rute seperti biasa melalui depan kompleks memutari komplek kemudian masuk pengasinan <–(nama daerah). keluar pengasinan masuk jalan mukhtar, atau biasa disebut sawangan <–(juga nama daerah). naik turun tanjakkan terlalui dengan mulus. menjelang tanjakan setan yang berlokasi di depan sma yappan, persiapan diperketat. disebut tanjakan setan karena tingkat kecuramannya sekitar empat puluh lima derajat miring. hampir-hampir tegak (lebay).

ancang-ancang, tambah kecepatan, berdiri dengan tubuh agak condong ke depan, tancap gass. wussss….. alhamdulillah berhasil melahap tanjakan dengan panjang kurang lebih lima puluh meter (pendek yah.. xixixi).

tapi jangan salah itu baru tanjakan setan yang pertama. yang kedua adalah tanjakan saat akan memasuki parung bingung <–(nama daerah yang membingungkan). tanjakkannya cukup landai namun panjangnya itu loh…. dengan tekad baja, terselesaikan juga dengan sukses.

belok kiri ke meruyung <–(sekali lagi; nama daerah) perjalanan lumayan datar. sempat bertemu teman yang sedang menunggu bis antar jemput menuju kantor. setelah ber-hai dan sedikit sapa canda, sepeda kembali melaju dengan santai.

masuk limo <–(nama daerah; cape deeeh) naik turun tanjakan kembali ditemui. kali ini tidak terlalu ekstrim jadi tidak perlu ada pertunjukan. bertemu rekan yang tidak dikenal namun sering berpapasan dengan sepeda. ternyata sedang melepas sepatu di depan ruko tempatnya bekerja dengan keringat mengucur deras.

hal yang menyenangkan dari bersepeda adalah rasa kekeluargaan yang hangat antar pengguna sepeda. saat melihat rekan itu saya langsung berteriak sambil mengangkat tangan dan menyapanya. serasa ada saudara.

gowes berlanjut, masuk jalan cinere perasaan ada yang mencurigakan, begitu tengok ke belakang ternyata ada sepeda berwarna hitam sedang membuntuti dengan manisnya. segera saya pelankan laju sepeda dan berusaha untuk bisa sejajar. tetapi pesepedah itu malah melewati saya. mungkin karena saya terlalu pelan jadi tidak bisa berbarengan jalannya. sambil melewati, pesepeda itu menyapa dan menanyakan arah tujuan. setelah dijawab, saya persilahkan dia untuk melaju dengan diiringi saya dari belakang.

mengiringinya ternyata butuh elan (efford) yang kuat. saya terbiasa gowess santai, sepeda itu terbiasa speed. akhirnya di persimpangan menuju gandul sepeda warna hitam itu berbelok, sementara saya lurus ke arah cinere mall. setelah saling berbasa-basi kami berpisah.

terbiasa garong eh ketemu pesepeda lain, jadi duet deh.

sesama garong besok duet lagi yukss…….

blogor : pria itu memilih menjanda

In blogor, pengendara on Mei 19, 2010 at 8:42 am

Cukup lama rasanya cukup sering sepertinya bagi saya melewati jalan raya yang menghubungkan antara Jakarta – Bogor.
Namun sebaik apa saya mengetahui apa yang ada di sana ternyata jika dibuat skala satu hingga sepuluh, maka pengetahuan saya bertengger di kisaran tiga sampai empat.

Ketidakmampuan saya mengetahui apa yang ada dan patut diketahui dari satu sudut jalan yang sering terlalui mungkin karena konsentrasi yang harus selalu terjaga.
Karena saat melewati jalan tersebut saya selalu bertindak sebagaimana layaknya seorang pengendara.

..FOKUS..

Ada satu tempat bersahaja yang selama ini terabaikan ternyata patut ditolehi bahkan harus disinggahi.
Letaknya di daerah Cibinong, lokasi tepatnya tidak tahu.
Tapi mudah saja, buka mbah google, ketikkan keyword mie janda. Atau kunjungi blog pemiliknya.

Apa yang istimewa dari tempat ini.
Saya tidak tahu.
Kenapa patut ditolehi atau disinggahi, saya juga tidak tahu.
Pentingkah bagi saya untuk tahu??

..TIDAK PENTING..

Yang ingin saya sedikit sharing di sini adalah pilihan.
Tidak bisa tidak memilih dalam hidup ini.
Selalu tersedia pilihan bagi hidup yang sedang dijalani.
Apakah anda akan memilih atau tidak, juga sebuah pilihan.

Pemilik tempat bersahaja tersebut di atas ternyata baru saja memilih.
Membuat sebuah pilihan dalam hidupnya.
Bukan lagi sebagai seorang pekerja profesional. Kali ini dia memilih untuk hanya menjadi seorang ‘tukang mie’. “hanya menjadi seorang ‘tukang mie’

..TIDAK PROFESIONAL..

Bagaimana dengan anda? Pilihan apa yang tepat kiranya jika dihadapkan pada pilihan seperti pemuda pemilik mie janda ini.

Setelah sedikit berbincang dengannya, saya bisa menarik kesimpulan menarik atas pilihannya. Mengapa harus menjadi seorang profesional jika ada kesempatan untuk menjadi seorang enterpreneur.

..TENTUKAN PILIHAN ANDA..

Blogor : komunitas seorang konsumtif dan lekuk tubuhnya

In blogor on Desember 23, 2009 at 7:33 pm

Senang berbelanja, shopaholic, tukang ngabisin barang dagangan orang, dan lain-lain yang berkaitan dengan membeli barang secara tidak sadar. Demikianlah perilaku seseorang yang disebut konsumtif.  Telah komuter cari dengan cara gogling, dan tidak ada definisi yang saklek menjelaskan bahwa konsumtif adalah : ………., namun dari sekian banyak hasil, rata-rata menjelaskan bahwa konsumtif adalah membeli barang-barang yang belum tentu dibutuhkan. Bisa jadi saat dipajang, sebuah barang begitu sangat menyilaukan mata. Bahkan batu-bata yang ditaruh sedemikian rupa di etalase sebuah toko bisa menggerakkan tangan seorang konsumtif untuk merogoh kantongnya, mengeluarkan sejumlah uang dan membawanya pulang untuk kemudian diletakkan saja di sudut rumah, yang entah kapan dia bisa mengingat kembali kapan pernah beli.

Sadarkah seseorang bahwa dia memiliki jiwa pemberani konsumtif ? Ada yang sadar, namun pastinya banyak yang tidak sadar. Komuter termasuk salah satu yang ‘nyadar’. Menyadari memiliki jiwa patriot konsumtif tetapi selalu berusaha ingkar akan hal itu.

Beruntunglah mereka yang menyadari ke-konsumtifan yang ada dalam dirinya. Saat berusaha untuk menghambat/membatasi keinginan liarnya, akan selalu ada jalan. Ada dua hal yang komuter andalkan mengatasi jiwa ksatria konsumtif ini. Pertama, pengaturan keuangan. Kedua, miliki belahan jiwa.

Ada saja kesempatan seorang konsumtif untuk membeli barang. Tidak harus pada saat belanja. Ketika kesempatan itu datang, dua hal andalan yang bisa mengatasi keinginan itu harus bekerja ekstra keras. Pengaturan uang dan belahan jiwa.

Minggu, 20 Desember 2009. Karena hari sebelumnya beraktifitas hingga pukul 12.00 malam, komuter bangun kesiangan. Baru bangun pukul 08.lewat. padahal ada acara yang harus diikuti (harusss). Setelah mandi makan beres-beres, berangkatlah kami berempat : komuter, javanese dan raja ali haji serta sepeda motor menuju blogor mancing jilid 3.

Saat kumpul, ketua blogor mengeluarkan barang dagangan. disebut barang dagangan karena dijajakan. Kata kang achoey wajib dimiliki. Sebenarnya, sebelum tahu dijual, komuter sudah lirik-lirik kaos itu. Karena jiwa kuat konsumtif komuter dapat mengendus barang dagangan dari jarak 500 meter.

Sebenarnya bermaksud membeli 3 sekaligus, karena ada komuter, javanese dan raja ali haji. Namun di sinilah jurus andalan dari belahan jiwa berperan. Katanya “ga’ usah, satu aja yang ukuran L”

Padahal komuter inginnya ukuran M. biar terlihat ketat dan junkies. Saat javanese tidak melihat, komuter ambil yang ukuran M kemudian taruh di tas yang ada di sepeda motor. Saat akan pulang, javanese periksa-periksa tas. Melihat kaos yang baru beli, melotot, katanya “ yang L” akhirnya popoho blogor yang sedang gotong-gotong rambutan tiga satu kardus, berhenti sejenak, mengeluarkan barang dagangannya, ….. pokoknya repot deh.

Itulah untungnya punya jurus andalan menghindar dari keinginan liar berbelanja seorang konsumtif. Kalau ambil yang ukuran M mungkin lebih parah dari ini nih…..

ukuran L ternyata sempit……….

apalagi ambil yang ukuran M

Di ketiak terasa sesak, karena sayap ade rai nempel di situh…..

Padahal komuter tidak tahu ukuran tubuh sendiri, namun yang namanya belahan jiwa, hafal setiap lekuk tubuh komuter.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.