mudik 2016

mudik, sebagai seseorang yang lahir dan dibesarkan di Jakarta dimana setiap tahunnya terjadi pergerakan mudik dari para pemudik, baik itu tetangga, teman kantor dan saudara yang punya kampung nun jauh di sana, belum pernah sekalipun mengalami secara langsung yang namanya mudik. selalunya mendengar dari cerita-cerita dan dari media.

akhirnya di tahun 2016 ini merasakan juga apa itu mudik. entah karena benar-benar ingin merasakan mudik atau ingin mengukur batas kemampuan berkendara. sebagai informasi, Alhamdulillah tahun ini Allah memberi kami mobil. bukan mobil baru tapi setidaknya bisa dipakai sekeluarga karena motor sudah tidak bisa lagi menampung kami semua.

cuti bersama yang panjang tahun ini dimulai pada tanggal 2 Juli s.d. 10 Juli 2016, kurang lebih 9 hari. persiapan mudik boleh dibilang tidak dadakan tapi juga tidak seriusan. karena satu dan lain hal kami hanya berani merencanakan mudik tapi tidak berani menetapkan akan mudik.

Alhamdulillah sekali lagi kondisi dan situasi sangat memungkinkan bagi kami untuk mudik, maka berangkatlah kami mudik. Kutoarjo, kota di Jawa tengah tujuan kami mudik sudah kami pantau melalui google maps.

Jumat, 1 Juli 2016 masih masuk kantor. hari itu adalah hari terakhir sebelum libur panjang. sesuai keputusan Menpan maka semua pegawai wajib untuk hadir/masuk kantor. setelah pelaksanaan apel khusus yang langsung diambil oleh pimpinan sekitar pukul 10.00, satu persatu teman kantor meninggalkan kantor untuk mudik atau hal lainnya. kami sudah memutuskan untuk berangkat mudik dari kantor. jadi, mobil dan segala persiapan mudik sudah dipersiapkan di dalam mobil. siang menjelang sore kantor sudah sepi. istri dan printilan sisapun datang untuk ikut bermalam di kantor. Alhamdulillah banyak kamar kosong. jadi kami bisa isi selama satu malam.

Sabtu, 2 Juli 2016 selesai makan sahur kami beranjak meninggalkan kantor di Pondok Labu. sengaja tidak masuk tol karena kami ingin shalat subuh dulu di masjid yang akan kami temui dalam perjalanan. dapat masjid di Pondok Gede. setelah itu sempat putar-putar cari pintu tol. akhirnya kembali ke Pasar Rebo, balik arah masuk tol lagi di dekat taman mini. tidak jadi masuk JORR karena ternyata tol mengarah ke cawang. akhirnya keluar cawang, masuk tol lagi di Halim. bablas terus sampai rest area km 19. kami terpaksa berhenti di sana karena jalan padat tersendat.

sejauh ini perjalanan mudik biasa-biasa saja. tidak ada yang spesial. jelang siang kami masuk rest area cikopo km 102. istirahat shalat dzuhur. barulah kami melihat keanehan. banyak yang makan dan sembarangan saja makannya. bahkan ada yang makan di masjid. benar-benar yang berpuasa harus menghormati mereka yang tidak berpuasa.

selepas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. ada keanehan lain lagi. setiap beberapa kilometer mobil tersendat karena macet. setelah macet, kami melihat tidak ada halangan yang seharusnya menyebabkan macet. hal ini terus berulang selama beberapa kali sampai akhirnya kami keluar di pintu tol kertajati. setelah kami telaah ternyata itu adalah rekayasa lalu lintas dari petugas jalan raya untuk menghindari penumpukan kendaraan di ujung tol yaitu pintu keluar tol pejagan. semacam stop n’ go.

kemudian, mengapa harus pintu tol kertajati? sebelum berangkat, kami sudah banyak bertanya di komunitas. kira-kira jalur mana yang sebaiknya kami ambil agar tidak terjebak macet. seorang anggota komunitas yaitu oom teten zaeni yang berdomisili di Majalengka memberikan kami jalur mudik bebas macet yaitu melalui Majalengka tembus ke Ciamis.

takdir menghantar kami untuk bermalam di Majalengka. mobil mengalami overheat yang cukup parah. semua setingan diatur ulang. bahkan sempat beli busi dan platina baru untuk mengganti busi dan platina yang kami anggap sudah tidak bagus. Alhamdulillah, walau tidak mengenal sebelumnya namun kami bisa menginap secara kekeluargaan di rumah oom teten bahkan sempat diajak keliling kota Majalengka keesokan harinya.

Minggu, 3 Juli 2016 kami sempat menunggu kedatangan anggota komunitas lain yang juga mudik untuk berjalan bersama. tapi ternyata tunggu punya tunggu, malahan dapat berita mereka bablas ke tol cipali untuk exit di Pejagan. sudah ditunggu sampai siang malah tidak jadi. akhirnya kami terpaksa berangkat sendiri. sempat juga ditawari konvoi dengan oom teten, karena beliau dan keluarga akan mudik juga malamnya ke Kebumen. tapi kami tidak berani memberatkan beliau dan keluarga karena kami merasa sudah cukup merepotkan. biarlah kami berjalan santai tanpa perlu injak gas dalam-dalam mengingat ini pengalaman pertama bermobil melintasi pulau Jawa. menikmati perjalanan adalah tujuan utama.

lepas dari Majalengka kami mengalami pengalaman yang tak terlupakan. bahkan bisa menjadi kenangan perjalanan mudik yang bikin ketagihan. antara Majalengka dan Ciamis terdiri dari gegunungan. kalau ada yang pernah melintasi jalur puncak Bogor, maka tingkat keekstriman jalur yang kami lalui melebihi jalur puncak bogor. 5 kali lipatnyalah mengingat jarak tempuhnya juga jauh dan gunung-gunung yang dilalui juga banyak.

masuk Ciamis sekitar pukul 08. … lelah sebenarnya tapi mobil sedang on fire jadi rada segan untuk berhenti di Ciamis. sesuai arahan dari abang ipar, kami terus melaju ke arah Jogjakarta. ternyata banyak pemudik yang melalui jalur selatan. tapi Alhamdulillah tidak mengalami kemacetan.

rasa lelah yang menyerang membuat kami memutuskan untuk mengistirahatkan supir yang cuma satu-satunya. masuklah mobil ke spbu Ciungwanara. shalat Isha kemudian gelar tikar di depan mobil. lelap.

mungkin sekitar satu jam lebih beristirahat, masuk telepon dari oom teten yang menanyakan kabar kami. beruntungnya perjalanan dipantau teman satu komunitas. setelah menjawab telepon kami berangkat kembali karena memang sudah tidak bisa tidur lagi.

…bersambung..