pengalaman remove pertemanan

jauh sebelum adanya pemilu, sekitar satu tahun yang lalu (atau dua tahun). saya juga pernah meremove pertemanan di facebook gara-gara postingannya di facebook yang tidak berkenan di hati saya. saat itu satu-satunya pertemanan di facebook yang saya remove, bahkan hingga sekarang tidak pernah remove teman lagi. mungkin karena sumbu saya masih pendek, hingga mudah meledak. padahal jika dibandingkan dengan suasana saat ini, banyak sekali status dari pertemanan di facebook yang sangat-sangat tidak berkenan di hati saya bahkan boleh dibilang sangat menohok.

tentu saja saya punya pertimbangan tersendiri saat itu yang membuat saya removed her dari pertemanan. dan itu permasalahan yang sama dengan pakdhe Heri Cahyo, yaitu permasalahan agama. kebetulan pertemanan itu dengan seseorang yang berbeda agama dengan saya. terus-terus saja dia menuliskan pendapatnya tentang agama yang saya anut dengan cara seperti yang sekarang disebut black campaign.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha (membiarkan engkau bebas bergerak menjalankan aqidah dan rutinitas agamamu) sampai engkau mengikuti millah mereka [QS. Al-Baqarah [2]: 121]

memang saat itu bulan desember menjelang natal. seperti biasa yang namanya ucapan selamat kepada mereka menjadi perdebatan hangat yang panas, bahkan menyakitkan. mereka menghujat dan merendahkan ajaran dan umat islam karena tidak mengucapkan selamat pada hari yang mereka rayakan. menurut mereka kita sebagai umat islam tidak memiliki toleransi karena tidak mengucapkan selamat. pokoknya bagaimana caranya, mereka ingin umat islam mengucapkan selamat pada mereka. #maksa

silahkan difikir dan ditelaah bagi teman yang beragama islam atau non islam. kenapa sih hanya ucapan seperti itu saja diributkan dan diperdebatkan. bahkan hingga menjelek-jelekkan agama islam dengan perkataan tidak toleran dan lain sebagainya yang merujuk pada buruknya ajaran agama islam.

apakah dengan tidak mengucapkan selamat, kemudian umat islam menjadi musuh mereka?

apakah dengan tidak mengucapkan selamat, kemudian mereka menjadi punah/mati?

yang anehnya banyak yang mengaku beragama islam juga menyerang ajaran agamanya sendiri. padahal ketika mereka merayakan hari rayanya, ya sudah rayakan saja. kecuali ada gangguan terhadap mereka bolehlah mereka bereaksi. bahkan kita juga akan membantu jika ada orang/kelompok yang ingin mengganggu kehidupan umat manusia lainnya.

nah, pertanyaannya adalah ketika kita umat islam tidak mengucapkan selamat kepada mereka apakah itu merupakan gangguan??

arogan sekali mereka itu, menganggap apapun yang tidak sejalan dengan mereka dianggap gangguan. padahal jelas-jelas mereka yang mengganggu akidah umat islam dengan memaksakan umat islam mengucapkan selamat.

itulah yang terjadi saat itu.

sekarang sumbu saya sudah agak panjang. tidak mudah removing pertemanan. padahal setelah sekian lama saya kemudian menyadari, ada banyak teman dalam pertemanan yang ternyata senyata-nyatanya merupakan musuh islam. yaitu mereka yang mengaku beragama islam tapi memiliki kelompoknya sendiri yang menjalankan keislamannya dengan cara yang bertentangan.

tapi saya tidak remove mereka, bahkan rajin membaca status dan postingan mereka. kenapa ?? setelah saya baca, saya makin yakin mereka salah. dan saya juga malah mendapat pencerahan dari tulisan mereka yang ditujukan untuk mendiskreditkan islam.

kemudian datanglah musim pemilihan umum. tentu saja saya sudah kebal terhadap kampanye yang saling menjelek-jelekkan tersebut. meskipun terus terang, ketika ada yang menyerang pak Jokowi, saya jadi marah, karena serangannya tidak mendasar. demikian juga ketika ada yang menyerang pak Prabowo dengan tulisannya yang sangat jelas merupakan kebohongan.

saya juga sudah tidak terlalu bergairah untuk menjadi pihak yang netral. saya menjadi diri saya sendiri saja yang swing voter.

adakah tim sukses yang minat pada suara saya?? silahkan lakukan serangan fajar, karena biar bagaimanapun akan saya usahakan untuk tidak golongan putih.