mengajar

Hari ini Selasa, tanggal 23 September 2014. Yang sedang happening di media sosial sesuai tanggal sekarang adalah tentang seorang kakak yang baik hati dan tidak sombong karena sering membantu adiknya dalam mengerjakan pekerjaan rumah dengan sang guru pemberi pekerjaan rumah. terjadi polemik di media sosial ketika sang kakak memposting hasil bantuannya, dimana nilai sang adik hanya ’20’ padahal menurut sang kakak, hasilnya sudah benar. ini penampakan pekerjaan rumah sang adik dan sedikit catatan pedas sang kakak :

10603806_706562426092949_7170321873362655339_n

Diawal hadirnya curhat sang kakak karena merasa benar, disalahkan adalah banyak yang menghujat sang guru. Saya sebagai pegiat media sosial tentu saja membela sang kakak, walau belum pernah sedikitpun melihat secara langsung gambar di atas pada saat itu. karena biar bagaimanapun, menghujat di media sosial adalah kegiatan yang ‘menyenangkan’ dilakukan karena terasa banyak teman senasib padahal palsu.

Kemudian hari ini saya tercerahkan dengan adanya beberapa komentar dari para bijak cendikia dalam menerangkan alasan pemberian nilai oleh sang guru yang tidak serta merta diberikan dengan sembarangan tapi merupakan konsekwensi atas apa yang harus diberikan sesuai ketentuan pemberian nilai. ketika satu hal dikatakan salah, maka sang guru harus tegas menyatakan itu salah. Demikian yang saya dapat dari pencerahan tersebut.

Kemudian muncul lagi pertanyaan : “kenapa salah?”.

Menilik dari jawaban sang adik yang dibantu sang kakak, saya berkesimpulan dan keukeuh menyatakan bahwa jawabannya benar. hingga kemudian kembali tercerahkan oleh beberapa komentar dari para bijak cendikia yang ternyata banyak bertebaran di jagat media sosial yaitu : “bukan hasil akhir yang dipersalahkan, tapi prosesnya”.

Ternyata proses jawabannya yang salah walau hasil akhirnya sama dan benar.

Kali ini saya tersentak terhenyak terbelalak mengingat dosa atas kebodohan saya selama ini yang senang jika ada kegiatan bullymembully yang sering tidak ikut terjun langsung tapi sangat senang ketika ada pihak yang dibully. manusia macam apa saya ini ? #mikir

Mengajar adalah pekerjaan keseharian saya sama dengan sang guru. bagaimana jika saya dipersalahkan dan dibully oleh sekian banyak orang di media sosial atas sesuatu yang belum tentu kesalahan saya … #merenung

Dan lagi banyak dari materi ajar yang saya ajarkan berdasarkan proses bukan langsung kepada hasil akhir. beruntunglah saya yang tidak dimediasosialkan oleh murid yang merasa benar disalahkan.

ini contoh proses yang bukan langsung hasil akhir yang saya ajarkan di kelas.

urutan kanji

Kotak besar paling atas adalah karakter kanji. Kotak kecil-kecil di bawahnya adalah proses penulisan karakter kanji tersebut. Urut-urutan penulisan karakter kanji tersebut harus sesuai dengan aturan yang telah ada dan disepakati bersama. Dan penulisan serta cara menuliskannya diujikan juga. Jadi tidak serta merta secara nalar dan logika setiap orang bisa bebas menuliskan kanji tanpa mengindahkan kaidah-kaidahnya.

Pemahaman polemik sang kakak dan sang guru, saya tuangkan dalam penulisan karakter kanji karena saya tidak tahu banyak tentang matematika. Tapi saya tetap mengerti jika dikatakan bahwa jawaban sang adik yang dibantu sang kakak adalah salah berdasarkan proses. Dan nilai yang diberikan sudah benar karena capaiannya memang baru segitu.

Sekali lagi saya salut dan bangga terhadap sang kakak yang mau meluangkan waktunya untuk membantu sang adik. Di rumahpun saya sering mendapat nilai buruk setelah membantu anak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Kesal dan sakit hati karena menurut saya sudah benar. menurut saya ….

sekian dulu dari saya karena sudah menjelang masuk kelas, jadi saya harus bersiap untuk mengajar.