komuter

Arsip untuk ‘jakarta’ Kategori

mimpi

In bahan bakar, biker, jakarta, jalan, jurnal, motor, pengendara on Mei 6, 2013 at 8:43 am

aku bermimpi.

ternyata mimpi bukanlah terjadi ketika tertidur.

mimpi terjadi ketika tengah terjaga.

aku melihat aku terpana.

mp3

ini bukan ulasan tentang motor mp3 piaggio 500cc. ini ulasan tentang mimpiku. mimpi seorang pria pemimpi. yang selalu bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan mimpi. aku ingin memiliki mp3. mungkin sepuluh tahun lagi baru terwujud. tapi tetap mimpi yang melenakan. aku senang memiliki mimpi ini.

mimpiku yang lain telah terwujud atas perkenan Allah swt. dan masih banyak mimpi yang juga belum terwujud. tapi aku yakin. man jadda wa jadda. terus bermimpi. terus berusaha. terus terjaga.

kemping di taman nasional gede pangrango

In jakarta, sharing on Juli 2, 2012 at 4:38 pm

ini adalah jawaban atas tulisan saya sebelumnya, yang menanyakan tentang  -+-kemana..kemana..kemana-+- tujuan wisata berikutnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

tujuan wisata berikutnya

In bahasa, jakarta, sharing on Juni 30, 2012 at 10:42 am

hari ini, sabtu 30 Juni 2012. abang aji menerima raport kenaikan kelas. walau tidak bermaksud untuk mendahului kehendak Allah. tapi InsyaAllah kami yakin bahwa abang aji (akan) naik kelas. yang menjadi pertanyaan adalah : bagaimana nilainya?

memiliki anak tidak sama dengan memiliki barang/benda. seberapapun berharganya benda, seorang anak tidak dapat dibandingkan dengannya. dalam hal ini, kami selalu berusaha yang terbaik dalam menjaga dan mendidik anak kami sesuai dengan tuntunan dan tuntutan hidup.

tuntunan hidup adalah semua yang diajarkan dalam agama islam. dan kami menyadari bahwa kami sangat berkekurangan dalam mengamalkannya. namun tetap saja kami harus mengajarkannya kepada abang aji. jadi kami belajar agama hingga setua ini dengan cara mengajarkannya kepada abang aji. memang dari hasil membaca/blogwalking kami sering sekali menemukan bahwa menjaga pelajaran agar tidak lupa adalah dengan mengajarkannya kembali kepada orang lain. hal ini terbukti secara pribadi dari pengalaman saya.

karena jabatan saya di kantor adalah Widyaiswara. maka saya berkecimpung dalam kegiatan belajar mengajar di kantor. pelajaran yang diajarkan adalah pelajaran tingkat pradasar hingga tingkat dasar. jadi siswa belajar dari nol hingga mencapai tingkat dasar. dalam standart noryoku shiken (Japanese Language Proficiency test) siswa akan mencapai hasil level empat dari lima level yang ada. level satu yang tertinggi, level lima yang terendah.

awal-awal mulai mengajar, saya getol sekali meningkatkan kemampuan keilmuan saya. ketika itu ada pemikiran bahwa jika mengajar siswa dalam level tertentu, maka saya harus memiliki kemampuan minimal satu level di atasnya. tapi setelah dua belas tahun mengajar, saya mendapat pemahaman baru, karena program yang kami miliki adalah dari tingkat pradasar hingga tingkat dasar, ilmu yang saya miliki tidak terpakai semuanya. bahkan karena jarang dipakai, maka banyak lupa dan hilang, menguap seiring usia.

terbukti bahwa pelajaran yang selalu diamalkan dengan cara diajarkan kembali kepada orang lain akan mendarah daging. tapi pelajaran yang tidak pernah diamalkan/diajarkan kembali kepada orang lain, akan hilang musnah. untuk mendapatkannya kembali harus belajar kembali.

demikianlah yang terjadi pada kami. banyak tuntunan agama yang terlupa dalam menjalani hidup. ketika memiliki anak, kami ingin dia mengikuti semua aturan agama. dan konsekwensinya adalah kami harus juga menjalaninya. untuk menjalaninya, kami harus tahu ilmunya. untuk tahu ilmunya : belajar lagi.

tuntutan hidup adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bertahan hidup di dunia ini. semua hal yang berkaitan dengan cara-cara bertahan hidup sebagai bekalnya berperang nanti kami berikan/ajarkan. dan seperti juga tuntunan hidup, mengajarkan abang aji agar bisa bertahan hidup nantinya juga cukup sulit.

bagi saya pribadi, untuk dapat bertahan hidup maka harus memiliki ketrampilan dan keahlian. semua itu bisa didapatkan dengan cara dipelajari. untuk lebih memudahkan kami mengajarkan abang aji agar bertahan dalam hidupnya, kami masukkan dia ke sekolah. kami masukkan dia ke bimbel. dan kami masukkan dia dalam kegiatan olah raga.

saya yakin para orang tua pasti juga melakukan hal yang sama. tapi pasti juga caranya berbeda. karena setiap anak adalah unik. mereka berbeda-beda. dan setiap orang tua juga memiliki cara yang berbeda juga dalam menangani anaknya. kompleks sekali hidup ini.

kami pusing dan lelah dalam keseharian bertahan hidup. abang aji juga pusing dan lelah dalam keseharian belajar bertahan hidup. oleh karena itu, kami secara keseluruhan bermaksud untuk dormansi sejenak.

ngapain ?

wisata pastinya

kemana ??

kemana….. kemana….. kemana ??

lah.. ayu ting ting aja bingung. apalagi kami.

jadi…

tujuan wisata berikutnya adalah : …..

hujan

In b2w, jakarta, sepeda on Maret 5, 2012 at 7:48 pm

di sebuah milis yang saya ikuti ada teman yang bilang sekarang lagi musim ekstrim. maksudnya adalah pas hujan, hujannya ekstrim sampai banyak sekali yang tertumpah dari langit. pas tidak hujan, panasnya ampun-ampunan. dan tidak ada prediksi yang tepat untuk kedatangan hujan. karena baik hujan maupun panas bisa datang bergantian di saat yang tidak pernah tepat.

firman Allah dalam Qur’an surat Az-Zukhruf juz 25 ayat 11 :

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut ukuran (yang diperlukan), lalu Kami (Allah) hidupkan dengan air   itu negeri yang mati (tandus), seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)”.

berarti hujan yang turun masih dalam tahap bisa ditolerir, karena Allah hanya menurunkan hujan sesuai dengan yang bisa ditampung oleh alam ini. bagaimana jika terjadi banjir ???

minggu lalu dapat undangan kerja bakti dari lingkungan rt. namun berhubung ada hal yang secara skala prioritas harus didahulukan, maka terpaksa absen dari kerja bakti. minggu ini dapat lagi undangan yang sama. bahkan ketua rt yang hanya berbeda tiga rumah sampai mencegat di jalan pas lagi sepedahan, minta datang di acara kerja bakti minggu.

alhamdulillah, dapat kesempatan untuk ikutan kerja bakti.

ternyata yang dikerjakan adalah mengembalikan fungsi got/parit di jalan utama. kami yang tinggal di gang dalam semangat sekali kerja bakti. walaupun tidak langsung di depan rumah, tapi jalan utama ini adalah jalan yang kami lewati tiap hari. saat hujan turun, air menggenangi jalan. pernah saat sedang jalan bersama anak di jalan tersebut, tiba-tiba sandal anak terlepas. segera saya kejar. dan saya menyadari bahaya tersembunyi namun nyata dari genangan air saat hujan adalah arusnya yang deras. saya khawatir ada anak yang terperangkap masuk got/parit. mengerikan.

got/parit di perumahan kami banyak yang ditutup. pemilik rumah tidak peduli dengan keberadaan got/parit tersebut, ketika hujan turun, air menggenang di depan rumahnya, malah marah-marah. tidak sadar bahwa salah satu penyebab genangan air tersebut adalah dirinya.

Hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ ظَلَمَ قِيْدَ شِبْرٍ مِنَ الأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

“Barang siapa yang berbuat zhalim (dengan mengambil) sejengkal tanah maka dia akan dikalungi (dengan tanah) dari tujuh lapis bumi.”

di jalan tempat saya tinggal hanya di depan rumah saya saja yang tidak tergenang oleh air ketika hujan datang. kiri kanan, terutama di ujung jalan, air menggenang ketika hujan. saya sadar bahwa penyebabnya adalah akses menuju got/parit tertutup oleh bangunan. walau begitu ketika hujan datang, tetap saja saya terganggu karena akses jalan tertutup air.

selain menutup got/parit, banyak pemilik rumah membangun rumahnya melewati got/parit. padahal got/parit yang ada di depan rumah mereka bukanlah milik mereka. itu milik umum. tapi kemudian menjadi milik pribadi dengan dibangun hingga got/parit tersebut tidak ada lagi.

coba kepada teman-teman yang membaca postingan ini untuk melihat kembali rumahnya. sudahkah dibangun di atas tanah milik sendiri??

menjadi lebih baik atau tidak menjadi lebih baik (hanya tetap baik)

In b2w, biker, jakarta, jalan, jurnal, motor, pengendara, seli, sepeda on Februari 10, 2012 at 8:54 am

dalam hidup selalu penuh dengan pilihan. bagi saya, pilihan itu selalu dua : kanan atau kiri. dan dari setiap pilihan akan selalu melahirkan pilihan lagi. dan pilihan lagi. dan pilihan lagi. ketika kedua pilihan adalah pilihan baik, maka pilihlah yang terbaik.

pertanyaannya adalah bagaimana menentukan yang terbaik dari yang baik agar bisa menjadi lebih baik ??

pertanyaan di atas terkait dengan terus adanya perbaikan jalan di daerah saya. jalan-jalan yang selama ini kami gunakan adalah jalan makadam yang penuh dengan kubangan dan berbatu. kemudian diaspal dan menjadi baik. sekarang kemana-mana jadi enak. pinggang tidak pegal lagi. tangan tidak tremor lagi. sepertinya NJOP juga ikutan naik nih.

perbaikan jalan ternyata tidak berhenti di jalan utama saja. tapi masuk ke jalan-jalan kecil atau gang-gang penghubung antar desa dan antar komplek. sekilas ini merupakan satu kemajuan. betulkah demikian ……….

ada pro ada kontra. ada kelemahan ada kelebihan. ada kiri ada kanan. ada jin ada (u) jang. demikian juga dengan program perbaikan jalan-jalan yang menjangkau hingga pelosok desa. benarkah itu merupakan program untuk memajukan desa ??

saya akan menjawab pertanyaan di atas secara saya. dengan sudut pandang saya. sesuai dengan keuntungan dan kerugian yang saya alami. bukan atas kepentingan orang lain, apalagi orang banyak. tapi kepentingan saya sendiri.

melewati jalan utama ketika berangkat atau pulang kerja berarti harus memutar sejauh kurang lebih 2 kilometer. selama ini tidak masalah karena jalan utama sudah diaspal dan bagus. sekitar sebulan lalu jalan kecil antara komplek tempat saya tinggal dan perkampungan penduduk dicor beton. melewati jalan itu untuk berangkat dan pulang kerja menghemat jarak tempuh. lumayanlah selain memutar dua kilo yang terpangkas, akses jalan ini juga mengarah ke rute yang lebih memendekkan jarak lagi. jadi kalau ditotal sekitar lima kilometer terpangkas secara signifikan. wow :matabelo::matabelo:

tapi timbul juga penyesalan dalam diri. kenapa mesti dibetonisasi… kenapa :mewek: padahal jalan-jalan perkampungan penduduk adalah rute favorit saya bersepeda. keluar masuk perkampungan bersepeda merupakan kegiatan rutin sabtu minggu. kegiatan ini dilakukan tidak perlu jauh-jauh, karena perkampungan di sekitar komplek perumahan saya merupakan track terbaik dalam bersepeda. selain persawahan dan perbukitan terdapat juga hutan-hutan kecil yang terkadang menurut saya masih perawan. karena beberapa kali saya buka jalan di sana.

jalan-jalan kecil atau gang-gang yang sudah dibetonisasi membuat lalulintas menjadi ramai. sebenarnya mayoritas penduduk perkampungan bukanlah pekerja kantoran. karena itu mereka lebih banyak berada di sekitar rumah sehari-harinya. ketika jalan belum dicor, penduduk hanya nongkrong-nongkrong saja di depan rumah. ketika jalan sudah dicor dengan beton, penduduk menjadi memiliki mobilitas yang tinggi. berseliweran ke sana kemari menggunakan sepeda motor. tempat tongkrongan menjadi lebih banyak dan lebih jauh, tidak hanya sekedar depan rumah.

bersepeda di jalur yang ramai mengurangi kenyamanan. tapi berangkat-pulang kerja dengan variasi rute yang bisa diubah-ubah juga menjadi keenakan tersendiri.

sebenarnya betonisasi perkampungan penduduk itu adalah sesuatu yang menjadi lebih baik atau tidak menjadi lebih baik (hanya tetap baik) ????

gowes rabu pagi

In b2w, biker, jakarta, jalan, seli, sepeda on Mei 4, 2011 at 10:18 am

ketika menggapai asa

In b2w, biker, jakarta, sepeda on April 18, 2011 at 12:45 pm

sempat terfikir, alangkah enaknya komuter hingga Jakarta dengan sepeda. namun memang tidak bisa gowes sejauh itu dan butuh pergantian moda. sabtu 16 april 2011, dengan sedikit ragu saya tetapkan untuk beranjak ke jakarta dalam rangka melakukan beberapa kegiatan sekaligus selama dua hari.

itinery :

keluar dari rumah tepat pukul 07.00 : jalan yang dilalui adalah komplek inkopad tajurhalang menelusuri jalur aspal sasak panjang, pasar selasa, tembus stasiun bojong gede.

stasiun bojong gede pukul 08.00 : tanya petugas di peron, ternyata tidak ada kereta ekspress. tanya kereta yang akan berangkat, ternyata kereta ac ekonomi. dengan tekad bulat, beli dua tiket, satu untuk saya satu untuk sepeda. dengan memberanikan diri melewati petugas pemeriksa karcis di peron dengan menenteng xtrada 4. lolos.

dalam kereta : sudah siap-siap adu argumen jika kondektur memarahi. ternyata tidak ada masalah, dan saya memberikan hanya satu tiket tanpa ada komentar. tiket satunya lagi mubazir deh.

stasiun gondangdia pukul 09.15 : sampai dengan selamat, alhamdulillah.. sedikit foto kemudian turun. ampun dah turun tanggga gotong xtrada 4.

gedung senatama kwitang pasar senen : masuk kuliah di lantai 3. xtrada titip di parkiran motor. modal nekat meninggalkan strada di sana dengan asumsi, dekat dengan petugas satpam, semoga aman.

selesai kuliah pukul 11.00 : keluar kelas bertemu dengan oom sambas dari setbadiklat. haha -hihi sebentar, turun ke parkiran dan …. alhamdulillah masih ada. bayar parkir seribu rupiah, ancang-ancang keluar dari basement pakai gigi terringan.

keluar gedung ketemu teman yang lagi nongkrong, ikutan nongkrong makan mie ayam. siippp. dibayarin.

gowess lagi sekitar pukul 11.30 : kwitang – pasar senen – galur – sumur batu. beli oleh-oleh buat mertua. sampai di rumah mertua cuma sekedar mampir, pergi lagi.

mampir di rumah abang ipar di daerah kebon kosong, ambil kaus untuk ikut funbike besok.

rumah susun dakota kemayoran pukul 12.30 : tempatnya memang kecil cuma satu kamar, tapi lumayan buat kilas balik waktu bujangan dulu tinggal di sini. kegiatannya : nonton tv, secara di rumah tc error, dan nonto dvd. tidur malam pukul 24.00.

pagi setelah shalat subuh pukul 05.30 : berangkat funbike ke RSPAD  Gatot Soebroto. makan bubur sebagai sarapan.

karena malas menunggu, pukul 08.500 : selesai funbike langsung pulang tidak menunggu pembagian doorprize.

stasiun gambir pukul 09.00 : mau beli karcis kereta ekspress, ternyata dijadwalkan berangkat pukul 11.00. jadi selama dua jam ngapain aja……………… akhirnya pindah stasiun ke gondangdia.

stasiun gondangdia pukul 09.05 : setelah angkat-angkat xtrada 4 dengan disaksikan banyak mata, sampailah di loket. kereta terdekat yang akan datang adalah kereta ekonomi. nekat, beli satu tiket Rp. 2.000,- angkat xtrada lagi ke peron, ampuuun dach……

sukses masuk kereta ternyata di dalam juga ada mtb yang dibawa oleh seorang yang mungkin sudah pensiun karena terlihat tua tapi bugar. sukurlah ada temannya. mpet-mpetan di dalam kereta dinikmati saja.

berhubung funbike cuma keliling Monas yang tidak pakai nandjak, maka jiwa petualangan bangkit. turun kereta di stasiun citayam.

stasiun citayam pukul 10.00 : keluar stasiun, bermacet ria kemudian mampir di tukang ketoprak. setelah makan, tanya-tanya rute jalan pada orang sekeliling, segera meneruskan perjalanan.

putar-putar dari citayam menuju rumah malah lebih lama karena sampai rumah sekitar pukul 13.00. berarti funbike sendirian lebih memuaskan dari pada funbike rame-rame di Monas.

untuk tidak menimbulkan rasa penasaran, cekidot :

Bukan cerita fiksi

In b2w, biker, jakarta, pengendara, sepeda on Januari 6, 2011 at 10:42 am

Ini kisah hati yang terpana pada satu titik seksi bergenre fiksi.

Siang terik di jalan letjen s. parman

.Tahun delapan puluhan di jalan letjen s. parman memang sudah seramai sekarang. Namun belum ada jalan tol diantara kedua belah jalur. Pagar pembatas antar jalur terpasang dengan kokohnya. Sekokoh hati para penyeberang yang menyeberangi jalan tanpa peduli pada jembatan penyeberangan. Terik siang tidak menyurutkan kayuhanku menyusuri jalan anggrek rosliana slipi. Sesampai di ujung jalan, tepatnya di samping slipi plaza jalan terputus. Belum ada jembatan layang seperti sekarang yang menghubungkan slipi dan tanah abang. Yang ada hanya jembatan penyeberangan.

Tahun delapan puluhan memang sudah tidak sepi lagi. Lalu lalang kendaran dari arah tomang menuju bundaran slipi sangat ramai. Demikian pula sebaliknya. Dengan mata yang tertatap waspada, kami bersiap berjibaku mengadu nyawa dengan para pengguna kendaraan bermotor untuk menyeberangi jalan letjen s. parman di bawah jembatan penyeberangan. Genggaman tanganku erat menuntunnya menyeberangi jalan diburu raungan pengguna kendaraan bermotor yang tidak bersahabat tentunya.

Tahun delapan puluhan di terik berdebu lintas jalan letjen s. parman sangat mendebarkan. Adrenalin terpacu menyeberang dengan gegas. Satu jalur terseberangi. Pengendara kendaraan bermotor seakan dapat dikalahkan dengan telak. Satu kemenangan terendus dari satu sudut bibir berminyak keringat terik siang berdebu. Garis pembatas. Besi pagar kokoh melintang menjadi handicap berikutnya bagi kami para penyeberang jalan. Aku tidak sendiri. Yang lain sendiri walau wanita. Rok bukan penghalang. Besi tajam di setiap inci pagar pembatas bagai penggaruk tak berbayar bagi selangkangan (mereka) yang gatal.

Tahun delapan puluhan dan ramai lalu lalang tak terbilang. Yang ku sayang dapat dengan mudahnya menyelusup menembus pagar pembatas melalui celah bawah pagar walau sempat bergesekan dengan tanah kotor di bawahnya lagi. kerampingannya merupakan satu anugerah terindah yang memudahkan melewati celah sekecil jarak antar pagar. Merebah kemudian berdiri untuk kembali bersiap menyeberangi satu jalur lagi jalan letjen s. parman. Ketegangan mulai merayap, memicu adrenalin yang sempat lepas setelah pagar pembatas.

Tahun delapan puluhan beriring keberhasilan kami menuntaskan misi penyeberangan jalan letjen s. parman di kedua jalur. Ketibaan kami di sisi lain jalur jalan letjen s. parman menimbulkan rasa haru yang dalam. Bukan yang pertama aku berjibaku menghadapi kerasnya kehidupan lalu lintas jalan bersamanya. Dan aku yakin bukan yang terakhir pula hal seperti ini kami lakukan. Tapi ternyata itu yang terakhir. Terakhir kalinya aku menggenggam erat saat menghantarnya menyeberangi jalan. Layaknya seorang gentleman terhadap lady. Kenangan terakhir.

Era y2k kini. Era digitalisasi di segala bidang. Aku terpana padanya. Satu sosok yang mirip dirinya. Yang kugenggam erat saat menyeberangi jalan. Seperti yang ku tahu dari televisi sang dewa pengetahuan. clbk cinta lama bersemi kembali.

Era y2k kini. Bahkan sudah masuk tahun yang kesepuluh. Kutemukan kembali sosok dirinya yang pernah setia menemaniku selama tiga tahun menempuh perjalanan hidup di tahun delapan puluhan. Tahun-tahun yang membangkitkan kenang.

Era y2k kini. Dan memang bukan cerita fiksi di tahun delapan puluhan. Kutemukan sosok dirinya sekarang untuk menemaniku kembali menjalani arung kehidupan berlalu lintas antar rumah ~ kantor.

Era y2k kini. Sekali lagi bukan tentang cerita fiksi di tahun delapan puluhan yang ku miliki dan temani diri dengan setia. Ini adalah kebangkitan satu kenang tentangnya saja. Dan tentu akan temani ku arung jalan antar parung ~ cinere setiap perjalanan kerja.

Salam atas kembalinya dirimu teman. Lupakan lintas jalan letjen s. parman yang makin ramai. Ramping dirimu tak perlu lagi mengepit di antara pagar pembatas. Cukup menyempil di ruang tamu kecil berbagi bersama kami.

Bersamanya :

Catatan : fiksi adalah kata yang kuberikan untuk satu jenis sepeda yang sebutan sebenarnya adalah fixed gear. Sebuah sistem dalam mengayuh sepeda, dimana kayuhan sepeda tak kan berhenti selama roda berputar. Dulu kami menyebutnya : dultrap.

jumat itu

In b2w, biker, jakarta, jalan, pengendara, sepeda on Desember 8, 2010 at 12:44 pm

.

pgi itu terasa berbeda. betapa tidak! rute perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam menjadi molor hingga dua jam lebih. itu semua karena keinginan saya mendapatkan teman gowess di pagi hari saat berangkat kerja. dengan sedikit memutar atau lebih tepatnya menjauh dari arah ke kantor, saya berangkat menuju tkp alias tikum alias lokasi rendevuw di daerah stasiun bojong gede. padahal bojong gede ke kantor jaraknya sama dengan dari rumah ke kantor , kerumah lagi. tapi demi bisa duet, saya paksakan gowess lebih jauh lagi.

alhamdulillah bertemu dengan teman yang dijanjikan. tidak terlalu jauh kami gowess bersama. hanya dari stasiun bojong gede sampai menjelang stasiun citayam. itupun terpotong karena kami bertemu tidak benar-benar di stasiun bojong gede melainkan di pertengahan antara stasiun bojong gede dan stasiun citayam.

apapun yang telah terjadi, saya senang.

ternyata setelah pertemuan dan kemudian perpisahan, hujan datang tanpa diundang. Allah manurunkan berkahnya dalam basah. saya pasrah. setelah berjas hujan, saya lanjutkan perjalanan. tapi apalah artinya jas hujan yang cuma bisa menutupi barang-barang yang memang tidak boleh basah. karena tubuh saya tetap saja kuyup.

beruntung di ruang kerja saya, setiap orang mendapat meja kerja. walau di luar hujan saya masih dapat menjemur pernak-pernik yang basah oleh hujan di meja kerja saya. itupun setelah sebelumnya larak-lirik memantau kegiatan atasan. takutnya sedang berkeliling memantau anak buahnya, seperti saya.

meja kerja saya memang tidak banyak kertas atau sejenisnya, karena saya selalu rapihkan dalam tempat yang berbentuk rak warna coklat di atas meja. komputer berada di samping, dengan meja tersendiri. walhasil saya masih dapat bekerja di meja komputer. dan memang hari itu lumayan sibuk, jadi ketika tiba saatnya pulang saya sedikit kaget, karena ternyata jemuran saya sudah kering.

ini gambar meja komputer di samping meja kerja saya :

.

isinya, seperangkat komputer merek hp pavilion dan printer k7100. webcamnya saya pasang menghadap ke depan meja kerja saya dengan alasan untuk memantau aktifitas orang yang lalulalang. kebetulan pula saya senang buat foto bernuansa candid.

demikian postingan yang sebenarnya hanya ingin menampilkan meja di jumat itu menjadi postingan yang diikutkan dalam kontes. semoga menang *ngarep

tetap maju

In b2w, biker, blogor, jakarta, jurnal, pengendara, seli, sepeda on Desember 3, 2010 at 2:29 pm

alhamdulillah ada teman yang bisa diajak gowess bareng, walau penuh perjuangan. dikatakan penuh perjuangan karena rumah saya di parung, jika langsung b2w, maka tinggal tarik garis lurus sesuai rute yang ada di googlemaps. namun hari ini Jumat 03-12-2010 ada yang menawarkan gowess AKAP bersama, dengan senang hati saya menanggapi.

dimulailah petualangan itu. rute perjalanan dari rumah saya ambil arah ke bogor… benar sodara-sodara, bukannya langsung ke jakarta tapi balik arah dulu ke bogor. tepatnya stasiun bojong gede. saya sempat ada janjian untuk tikum (titik kumpul) di situ. saat b2w normal saya hanya butuh waktu kurang lebih satu jam, tapi hari itu beda. berangkat pukul 05.45 sampai kantor pukul 07.00.

sampai di kantor pas lagi apel pagi. jadi tidak sempat ikutan apel pagi karena sekalian diguyur hujan pagi itu. baju basah dikit, celana basah kuyup. perjuangan tiada akhir.

teman duet adalah seorang gowel dari bogor. karena baru sekali itu bertemu, jadi tidak begitu tahu banyak. namanya mang Iman Chandra. apa khabar ??

berikut foto-fotonya :

foto mang iman

.

berikut gantian saya

waktu pertama bertemu, mang iman seperti tidak mengenali saya (ya iyyalah..). jadi mang iman cuma membunyikan bel dan terus berlalu. merasa kenal, saya ikuti. merasa diikuti, mang iman tungaktengok ke belakang curiga. merasa dicurigai, segera saya buka percakapan “ada janji dengan anak gowel” jrenggg mang iman langsung “oh mang zaenal yah, saya iman”. dan keakrabanpun terjalin.

terus-terang ini gowes duet pertama saya yang direncanakan. yang tidak direncanakan sih sering tapi jadi tidak banyak bicara. duet ini tidak terlalu jauh, karena menjelang stasiun citayam, saya lurus terus ke arah rawa denok, sementara mang iman ambil jalur kanan melewati stasiun citayam.

terima kasih mang iman, kapan-kapan gowess bareng lagih…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.