komuter

Arsip untuk ‘pengendara’ Kategori

mimpi

In bahan bakar, biker, jakarta, jalan, jurnal, motor, pengendara on Mei 6, 2013 at 8:43 am

aku bermimpi.

ternyata mimpi bukanlah terjadi ketika tertidur.

mimpi terjadi ketika tengah terjaga.

aku melihat aku terpana.

mp3

ini bukan ulasan tentang motor mp3 piaggio 500cc. ini ulasan tentang mimpiku. mimpi seorang pria pemimpi. yang selalu bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan mimpi. aku ingin memiliki mp3. mungkin sepuluh tahun lagi baru terwujud. tapi tetap mimpi yang melenakan. aku senang memiliki mimpi ini.

mimpiku yang lain telah terwujud atas perkenan Allah swt. dan masih banyak mimpi yang juga belum terwujud. tapi aku yakin. man jadda wa jadda. terus bermimpi. terus berusaha. terus terjaga.

kemping di taman nasional gede pangrango [teks]

In bahan bakar, jalan, jurnal, motor, pengendara, sharing on Juli 4, 2012 at 12:29 pm

jika posting sebelumnya dalam bentuk gambar, maka kali ini disajikan dalam bentuk teks.

pendahuluan. setelah sekitar dua belas tahun tidak pernah lagi menjejakkan kaki di gunung gede pangrango. hari itu sabtu 30 Juni 2012 dengan sangat nekad saya memutuskan untuk pergi kemping di sana membawa anak dan keponakan. saya sebut ini nekad, karena selain sudah lama tidak naik (hiking), beberapa minggu lalu ada 14 orang yang saya kenal tersesat di TNGP. dan mereka dianggap mendaki secara ilegal karena memasuki kawasan TNGP tanpa laporan kepada petugas. tapi mungkin ini juga yang menyebabkan saya kangen naik lagi ke sana. dan karena tidak ingin salah seperti ke empat belas orang itu, saya memutuskan untuk kemping di lokasi yang sudah disediakan untuk kemping keluarga.

persiapan. perjalanan dimulai sekitar pukul dua pm. kami mempersiapkan barang yang akan dibawa. kami bertiga masing-masing membawa barangnya sendiri-sendiri. barang yang dibawa hanya pakaian ganti untuk besok pulang dan pakaian tangan panjang untuk tidur nanti malam. tak lupa bawa pakaian renang karena kami berencana untuk main air di sungai. dan pukul tiga lewat, kami beranjak dari rumah. setelah salim dengan nenek, kami pergi ke rumah teman abang aji terlebih dahulu untuk menyerahkan kado ulang tahun. karena tidak bisa menghadiri perayaan ulang tahun, terpaksa pemberian kado disegerakan dalam perjalanan pergi.

awal. keberangkatan kami begitu terasa ketika menyetop angkot untuk keluar komplek. sampai di jalan besar, kami turun berganti angkot lagi. sampai di terminal Merdeka – Bogor, kami bermaksud ganti angkot lagi. tapi yang namanya abang aji tidak boleh lihat jajanan. langsung saja minta dua ribu beli cireng. ketika berjalan menuju angkot kami melewati Museum Perjoangan bogor. foto-foto dulu dari luar, karena pagar ditutup. naik angkot lagi turun di ekalos. bingung naik apa lagi, mampir dulu ke atm. ambil uang secukupnya. keluar atm ada yang jualan ayam goreng. kami beli satu. setelah tanya ke penjual mengenai kendaraan yang akan kami naiki, kami akhirnya memilih naik angkot lagi tujuan ciawi. dalam perjalanan, abang aji membuka hadiah ulang tahun temannya yang berupa nasi plus ayam ala kentaki. nasinya saya bagi dua yang sebagian saya taruh di penutup makanan dan ayam yang barusan dibeli ditaruh di situ dan diberikan ke keponakan. jadilah mereka berdua makan nasi + ayam di dalam angkot. saya hanya telan ludah saja.

sampai ciawi, bingung lagi. abang aji mau pipis. putar-putar dulu cari tempat yang bisa dipipisi. dapat informasi jika mau ke cibodas lebih baik naik mobil elf warna putih. teringat melihat mobil itu di ujung jalan selepas jalan tol. balik lagi ke perempatan ciawi. saat itu sudah menjelang maghrib. tapi tujuan kemping masih belum pasti, walau sudah tergambar dalam benak.

perjalanan panjang. naik elf putih tujuan cianjur. masuk mobil, langsung penuh. langsung berangkat. menjelang gadog kendaraan kami dihentikan polisi. ternyata baru saja dimulai penutupan jalan. -OMG- angkot putar balik, masuk jalur alternatif. melewati palalangon tembus cisarua. sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi saya karena jadi tahu jalan alternatif. kemudian tragedi. masuk kembali ke jalur utama, ternyata kami masih tertinggal kendaraan yang naik alias harus stop karena penutupan jalan. dengan sedikit bandel, supir menjalankan kendaraan dengan tersendat-sendat di bahu jalan. selain mobil kami, ada juga beberapa mobil pribadi lainnya melakukan hal yang sama. setelah beberapa meter melakukan hal tersebut, mobil berhenti sama sekali. tanya supir, katanya masih lama berangkatnya. akhirnya kami ijin untuk cari makan dulu. waktu itu sudah sekitar pukul tujuh pm.

mundur mengambil jalur turun, kami menemukan warung makan. nasi rames dua, nasi goreng satu. untungnya saya dan anak termasuk manusia yang makan cepat. yang kasian keponakan. selain makannya normal, nasi gorengnya masih digoreng ketika kami sudah selesai makan. seharusnya ini bukanlah sebuah masalah, karena kalau ditinggal oleh mobil, kami akan mengambil mobil lainnya. khan belum bayar. namun pemikiran tinggal pemikiran. baru saja nasi goreng panas datang, tiba-tiba elf yang kami tumpangi datang. dengan segera kami perintahkan keponakan kami untuk makan cepat. bahkan lebih cepat dari bayangannya yang terlihat masih mangap. teh manisnya dibungkus. setelah tanya, kenapa elf balik arah, ternyata digerebek polisi. semua kendaraan yang parkir di sana di suruh turun. wow :matabelo: kemudian mobil kembali masuk ke jalur alternatif. jalanya sempit dan putar-putar. dengan pemandangan rumah-rumah layaknya di jakarta, berdempetan dan pagar tinggi. kiri kanan orang arab. lah.. kenapa jadi banyak arab di sini??

keluar lagi masuk jalan utama. mobil stag lagi. mengingat pengalaman sebelumnya, sang supir menagih sewa ke seluruh penumpang. karena kalau ada penumpang yang tercecer bisa-bisa tidak membayar seperti kejadian yang hampir menimpa kami sebelumnya. tak sempat menghitung waktu, ketika penutupan jalan selesai, kami segera masuk mobil dan berangkatlah mobil ke tujuan yang masih samar tapi terbayang jelas di pelupuk mata. lewat Mesjid At taaun, abang aji mengajak mampir. tapi nanti susah cari kendaraanya. melewati rindu alam, menjelang warung mang ade, sempat terpikir untuk berhenti saja dan menginap di situ. tidak jadi. mobil mulai menurun. dataran tertinggi telah terlewati. abang aji bingung, “kok turun pi?” katanya. setelah saya berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak dan tidak dimengerti saya, abang aji manggut-manggut tanda tak mampu (halahh..).

cibodas. setelah turun dari elf warna putih. kami menyeberang jalan. sepi….. . . . . baru menyeberang jalan, datang angkot berwarna …… entah kuning entah orange entah khakhi entah krem. pokoknya saya tahu bahwa mobil itu yang akan membawa kami ke atas. ternyata masih ada juga masyarakat yang naik turun di malam sepi ini. bahkan ibu-ibu dengan bayinya.

sampailah kami di ujung perjalanan. jreng jrengngng..ngng………….. turun angkot bayar lima ribu dikembalikan seribu. langsung masuk ke toko yang masih buka (sepertinya satu-satunya yang masih buka). kami tanya ke pamilik warung, “kemping sudah disediakan tenda?” ternyata tidak. harus bawa sendiri. kalau mau menyewa boleh. bingung sewa di mana nih, tanya lagi sama pemilik warung itu “ada tenda yang bisa disewa?”. dan alhamdulillah pemilik warung segera kontak temannya yang ternyata penjaga di sana (jagawana ??). dan kami mendapat satu tenda untuk tiga orang, katanya yang tersisa tinggal itu. tidak ada matras karena sudah habis. saya dengan sombong dan angkuh menyatakan, “tidak apa-apa yang penting tenda”.

dan keberuntungan masih berpihak pada kami. penjaga tersebut membawa tenda pluss sleeping bag, tiga buah. walau tidak pesan saya ambil juga. semuanya termasuk pasang Rp. 100.000,-. masuk ke perkemahan, kami ditanya mau kemah di mana.. karena sudah malam dan malas eksplorasi, kami malah minta masukan dari dia. katanya di sini saja. pas di bawah tangga masuk. yang penting tenda berdiri, saya katakan boleh…… tendapun berdiri.

eksplorasi. saat tenda didirikan, kami melihat ada api unggun di seberang jalan. foto-foto dulu. selesai tenda berdiri, kami masuk dan persiapan tidur. guling sana guling sini, mungkin karena terlalu lelah, kami susah tidur selain itu abang aji takjub dengan pengalaman pertamanya ini akhirnya kami keluar tenda. pertama jalan tidak jauh. kemudian kami menemukan ada sebuah goa yang gelap gulita dan menyeramkan. ternyata itu gua komodo. panjangnya cuma sekitar lima mater. dari ujung goa terlihat sinar dan masuklah beberapa orang dari ujung gua lainnya melewati kami. karena penasaran, akhirnya saya beranikan diri untuk masuk. dan ternyata kami keluar di ujung gua lainnya dan bertemu warung. okay.. something new buat kami. berkelilinglah kami kesana kemari hingga bertemu sungai. abang aji seperti biasa, pipis.

ternyata malam itu, banyak sekali yang kemping. (baru nyadar). dan mereka jalan-jalan bukannya tidur. tersadarkan akan hal ini, kami seperti layaknya anak-anak yang mendapat mainan baru so excited. berkeliling berkeliling berkeliling dalam gelap tanpa rasa takut. di sana kami seperti berada di pasar malam. dibantu oleh sinar bulan yang lumayan terang, kemudian lampu dari warung dan lampu dari tenda-tenda lainnya, kami berkeliling berkeliling berkeliling.

terakhir kami sampai di mushola yang terletak di ujung dekat kali. kami sebut ujung karena sudah tidak ada lagi jalan di sana. dan abang aji mengajak kami untuk shalat isha. berjamaah kami shalat. dengan air yang dingin kami wudhu. khusyu dan nikmat. selesai shalat dengan wajah tanpa dosanya abang aji bilang bahwa dia BAB di celana. gubrakss…… segeralah kami beranjak ke toilet umum yang ada di sebelah musholla. selesai mencuci celana dan celana dalam abang aji, kami memutuskan kembali ke tenda. abang aji kembali ke tenda tanpa menggunakan celana. untungnya pakaian yang digunakan adalah jersey untuk bersepeda yang di bawahnya ada karet. jadi tidak terlalu ketahuan bahwa dia tidak bercelana.

tidur tak tidur. sampai di tenda dengan segera kami persiapan tidur. masuk sleeping bag. setelah terlihat bahwa anak-anak tidur, segera saya pejamkan mata. tidak bisa. makan snack berbunyi krauk-krauk. abang aji bangun sambil tertawa. kami makan snack bersama. inilah suasana kemping. mungkin karena rasa kantuk sudah mulai datang, abang aji segera merebahkan diri. terdengar ada suara satu keluarga yang sedang mendirikan tenda. abang aji bilang “berisikk..” segera suara-suara itu berbisik. abang aji tidur.

Cuma tertawa saja

In b2w, biker, motor, pengendara, sepeda on Mei 16, 2012 at 7:59 am

Bersepeda di siang hari bersama anak semata wayang. Hampir seharian kami berkeliling keluar masuk hutan di sekitar komplek. Walau panas tapi menyenangkan. Cukup menyenangkan karena hampir di setiap tikungan kami berhenti. Dan hampir dari setiap perhentian kami nongkrong di warung.

Berangkat sekitar pukul dua belas siang, setelah shalat dzuhur. Kembali lagi di rumah pukul lima belas ba’da shalat ashar. Pulang balik dibuka dan ditutup dengan shalat. Alhamdulillah perjalanan kami lancar.

Walau pakai sepeda mtb, tapi sepeda saya single speed, alias hanya satu percepatan. Sebelumnya dapat musibah ketika sedang gowes di sekitar rumpin. Anting rear delairure (rd) patah. Ketika itu terpaksa pulang naik angkot. Sekarang anting sudah dipasang setelah pencarian yang cukup lama. Tapi baru sekedar pasang antingnya dan rd saja. Kabel penghubung antara rd dan shifter belum dipasang. Jadilah sepedah mtb single speed.

Untungnya dengkul ini sudah beradaptasi dengan tandjakan, jadi walau bagaimanapun untuk tandjakan di sekitar komplek masih bisa ditolerir. Kecuali satu tandjakan yang gagal digowes karena kebanyakan tertawa.

Bicara tertawa, diakhir perjalanan menjelang masuk gang ke rumah ada seorang ibu mengendarai motor matik membonceng seorang ibu dengan ukuran yang sama dengannya (ndut) dan seorang anak di depan. Jalan dalam kondisi kosong, tapi karena bertegur sapa dengan seseorang di pinggir jalan, ibu itu agak kesulitan mengendalikan motornya. Gundukan selokan di ujung jalan bikin motor matiknya kurang tenaga. Komplikasi yang unik.

Padahal jalan lega dan dalam kondisi kosong, tapi karena sempat menengok ke pinggir jalan untuk bertegur sapa, ditambah motor matiknya loyo melewati gundukan, eh malah sepedah yang disalahkan. Saya cuma tertawa saja. Tapi sempat juga saya ingatkan padanya karena sembarangan menyalahkan sepedah. Saya katakan ” pakai helm kalau naik motor!”. Karena sedang kesal, jawabannya singkat saja “au ah”.

Sekali lagi saya cuma tertawa saja.

menjadi lebih baik atau tidak menjadi lebih baik (hanya tetap baik)

In b2w, biker, jakarta, jalan, jurnal, motor, pengendara, seli, sepeda on Februari 10, 2012 at 8:54 am

dalam hidup selalu penuh dengan pilihan. bagi saya, pilihan itu selalu dua : kanan atau kiri. dan dari setiap pilihan akan selalu melahirkan pilihan lagi. dan pilihan lagi. dan pilihan lagi. ketika kedua pilihan adalah pilihan baik, maka pilihlah yang terbaik.

pertanyaannya adalah bagaimana menentukan yang terbaik dari yang baik agar bisa menjadi lebih baik ??

pertanyaan di atas terkait dengan terus adanya perbaikan jalan di daerah saya. jalan-jalan yang selama ini kami gunakan adalah jalan makadam yang penuh dengan kubangan dan berbatu. kemudian diaspal dan menjadi baik. sekarang kemana-mana jadi enak. pinggang tidak pegal lagi. tangan tidak tremor lagi. sepertinya NJOP juga ikutan naik nih.

perbaikan jalan ternyata tidak berhenti di jalan utama saja. tapi masuk ke jalan-jalan kecil atau gang-gang penghubung antar desa dan antar komplek. sekilas ini merupakan satu kemajuan. betulkah demikian ……….

ada pro ada kontra. ada kelemahan ada kelebihan. ada kiri ada kanan. ada jin ada (u) jang. demikian juga dengan program perbaikan jalan-jalan yang menjangkau hingga pelosok desa. benarkah itu merupakan program untuk memajukan desa ??

saya akan menjawab pertanyaan di atas secara saya. dengan sudut pandang saya. sesuai dengan keuntungan dan kerugian yang saya alami. bukan atas kepentingan orang lain, apalagi orang banyak. tapi kepentingan saya sendiri.

melewati jalan utama ketika berangkat atau pulang kerja berarti harus memutar sejauh kurang lebih 2 kilometer. selama ini tidak masalah karena jalan utama sudah diaspal dan bagus. sekitar sebulan lalu jalan kecil antara komplek tempat saya tinggal dan perkampungan penduduk dicor beton. melewati jalan itu untuk berangkat dan pulang kerja menghemat jarak tempuh. lumayanlah selain memutar dua kilo yang terpangkas, akses jalan ini juga mengarah ke rute yang lebih memendekkan jarak lagi. jadi kalau ditotal sekitar lima kilometer terpangkas secara signifikan. wow :matabelo::matabelo:

tapi timbul juga penyesalan dalam diri. kenapa mesti dibetonisasi… kenapa :mewek: padahal jalan-jalan perkampungan penduduk adalah rute favorit saya bersepeda. keluar masuk perkampungan bersepeda merupakan kegiatan rutin sabtu minggu. kegiatan ini dilakukan tidak perlu jauh-jauh, karena perkampungan di sekitar komplek perumahan saya merupakan track terbaik dalam bersepeda. selain persawahan dan perbukitan terdapat juga hutan-hutan kecil yang terkadang menurut saya masih perawan. karena beberapa kali saya buka jalan di sana.

jalan-jalan kecil atau gang-gang yang sudah dibetonisasi membuat lalulintas menjadi ramai. sebenarnya mayoritas penduduk perkampungan bukanlah pekerja kantoran. karena itu mereka lebih banyak berada di sekitar rumah sehari-harinya. ketika jalan belum dicor, penduduk hanya nongkrong-nongkrong saja di depan rumah. ketika jalan sudah dicor dengan beton, penduduk menjadi memiliki mobilitas yang tinggi. berseliweran ke sana kemari menggunakan sepeda motor. tempat tongkrongan menjadi lebih banyak dan lebih jauh, tidak hanya sekedar depan rumah.

bersepeda di jalur yang ramai mengurangi kenyamanan. tapi berangkat-pulang kerja dengan variasi rute yang bisa diubah-ubah juga menjadi keenakan tersendiri.

sebenarnya betonisasi perkampungan penduduk itu adalah sesuatu yang menjadi lebih baik atau tidak menjadi lebih baik (hanya tetap baik) ????

touring bersepeda ke bandung

In b2w, pengendara, seli, sepeda on Juni 7, 2011 at 8:47 am

sepedahan kali ini tidak jauh-jauh, masih di Indonesia bahkan masih di pulau Jawa juga yaitu ke Bandung. awalnya cuma berbalas komen di situs b2w-indonesia, saat itu saya membaca kilas balik perjalanan oom Moch Suparyanto ketika touring ke bandung sendirian. kemudian oom Moch Suparyanto berbaik hati mengirimi saya nomor HP milik oom Theo ‘the ranger’ yang berencana touring ke bandung bersama pasukan ranger. karena memang tidak ada jadwal acara, maka malam kamis di waktu yang mepet, saya mengirimi oom theo SMS tentang keinginan saya gabung dan mencegat mereka dengan gagah berani di ujung gang komplek rumah saya di parung bogor.

berikutnya mari simak gambar untuk cerita touring NEWBIE saya ini, silahkan :

yang benar yang mana sih : b2w atau funbike

In b2w, pengendara, sepeda, sharing on April 11, 2011 at 1:29 pm

mau funbike atau b2w? karena keduanya memiliki tingkat kesulitan keasikan yang sama.

bagi saya, awal bersepeda di usia senja adalah menikmati saat-saat genjot di sepulang kantor. karena pagi hari sedikit riweuh, deg-degan takut terlambat sampai kantor.  tapi sore hari ‘nyantai men‘.

nah, keenakan bersepeda membuat hati tergerak lirik-lirik cari teman seperjalanan. selain di jalan raya, juga lirik di millist. masuk milist mulanya cuma saling komen, kemudian ikutan gowes di hari libur. selanjutnya kecapean gowes maka b2w sedikit terabaikan.

sekarang saya bingung.

funbike atau b2w ??

Bukan cerita fiksi

In b2w, biker, jakarta, pengendara, sepeda on Januari 6, 2011 at 10:42 am

Ini kisah hati yang terpana pada satu titik seksi bergenre fiksi.

Siang terik di jalan letjen s. parman

.Tahun delapan puluhan di jalan letjen s. parman memang sudah seramai sekarang. Namun belum ada jalan tol diantara kedua belah jalur. Pagar pembatas antar jalur terpasang dengan kokohnya. Sekokoh hati para penyeberang yang menyeberangi jalan tanpa peduli pada jembatan penyeberangan. Terik siang tidak menyurutkan kayuhanku menyusuri jalan anggrek rosliana slipi. Sesampai di ujung jalan, tepatnya di samping slipi plaza jalan terputus. Belum ada jembatan layang seperti sekarang yang menghubungkan slipi dan tanah abang. Yang ada hanya jembatan penyeberangan.

Tahun delapan puluhan memang sudah tidak sepi lagi. Lalu lalang kendaran dari arah tomang menuju bundaran slipi sangat ramai. Demikian pula sebaliknya. Dengan mata yang tertatap waspada, kami bersiap berjibaku mengadu nyawa dengan para pengguna kendaraan bermotor untuk menyeberangi jalan letjen s. parman di bawah jembatan penyeberangan. Genggaman tanganku erat menuntunnya menyeberangi jalan diburu raungan pengguna kendaraan bermotor yang tidak bersahabat tentunya.

Tahun delapan puluhan di terik berdebu lintas jalan letjen s. parman sangat mendebarkan. Adrenalin terpacu menyeberang dengan gegas. Satu jalur terseberangi. Pengendara kendaraan bermotor seakan dapat dikalahkan dengan telak. Satu kemenangan terendus dari satu sudut bibir berminyak keringat terik siang berdebu. Garis pembatas. Besi pagar kokoh melintang menjadi handicap berikutnya bagi kami para penyeberang jalan. Aku tidak sendiri. Yang lain sendiri walau wanita. Rok bukan penghalang. Besi tajam di setiap inci pagar pembatas bagai penggaruk tak berbayar bagi selangkangan (mereka) yang gatal.

Tahun delapan puluhan dan ramai lalu lalang tak terbilang. Yang ku sayang dapat dengan mudahnya menyelusup menembus pagar pembatas melalui celah bawah pagar walau sempat bergesekan dengan tanah kotor di bawahnya lagi. kerampingannya merupakan satu anugerah terindah yang memudahkan melewati celah sekecil jarak antar pagar. Merebah kemudian berdiri untuk kembali bersiap menyeberangi satu jalur lagi jalan letjen s. parman. Ketegangan mulai merayap, memicu adrenalin yang sempat lepas setelah pagar pembatas.

Tahun delapan puluhan beriring keberhasilan kami menuntaskan misi penyeberangan jalan letjen s. parman di kedua jalur. Ketibaan kami di sisi lain jalur jalan letjen s. parman menimbulkan rasa haru yang dalam. Bukan yang pertama aku berjibaku menghadapi kerasnya kehidupan lalu lintas jalan bersamanya. Dan aku yakin bukan yang terakhir pula hal seperti ini kami lakukan. Tapi ternyata itu yang terakhir. Terakhir kalinya aku menggenggam erat saat menghantarnya menyeberangi jalan. Layaknya seorang gentleman terhadap lady. Kenangan terakhir.

Era y2k kini. Era digitalisasi di segala bidang. Aku terpana padanya. Satu sosok yang mirip dirinya. Yang kugenggam erat saat menyeberangi jalan. Seperti yang ku tahu dari televisi sang dewa pengetahuan. clbk cinta lama bersemi kembali.

Era y2k kini. Bahkan sudah masuk tahun yang kesepuluh. Kutemukan kembali sosok dirinya yang pernah setia menemaniku selama tiga tahun menempuh perjalanan hidup di tahun delapan puluhan. Tahun-tahun yang membangkitkan kenang.

Era y2k kini. Dan memang bukan cerita fiksi di tahun delapan puluhan. Kutemukan sosok dirinya sekarang untuk menemaniku kembali menjalani arung kehidupan berlalu lintas antar rumah ~ kantor.

Era y2k kini. Sekali lagi bukan tentang cerita fiksi di tahun delapan puluhan yang ku miliki dan temani diri dengan setia. Ini adalah kebangkitan satu kenang tentangnya saja. Dan tentu akan temani ku arung jalan antar parung ~ cinere setiap perjalanan kerja.

Salam atas kembalinya dirimu teman. Lupakan lintas jalan letjen s. parman yang makin ramai. Ramping dirimu tak perlu lagi mengepit di antara pagar pembatas. Cukup menyempil di ruang tamu kecil berbagi bersama kami.

Bersamanya :

Catatan : fiksi adalah kata yang kuberikan untuk satu jenis sepeda yang sebutan sebenarnya adalah fixed gear. Sebuah sistem dalam mengayuh sepeda, dimana kayuhan sepeda tak kan berhenti selama roda berputar. Dulu kami menyebutnya : dultrap.

jumat itu

In b2w, biker, jakarta, jalan, pengendara, sepeda on Desember 8, 2010 at 12:44 pm

.

pgi itu terasa berbeda. betapa tidak! rute perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam menjadi molor hingga dua jam lebih. itu semua karena keinginan saya mendapatkan teman gowess di pagi hari saat berangkat kerja. dengan sedikit memutar atau lebih tepatnya menjauh dari arah ke kantor, saya berangkat menuju tkp alias tikum alias lokasi rendevuw di daerah stasiun bojong gede. padahal bojong gede ke kantor jaraknya sama dengan dari rumah ke kantor , kerumah lagi. tapi demi bisa duet, saya paksakan gowess lebih jauh lagi.

alhamdulillah bertemu dengan teman yang dijanjikan. tidak terlalu jauh kami gowess bersama. hanya dari stasiun bojong gede sampai menjelang stasiun citayam. itupun terpotong karena kami bertemu tidak benar-benar di stasiun bojong gede melainkan di pertengahan antara stasiun bojong gede dan stasiun citayam.

apapun yang telah terjadi, saya senang.

ternyata setelah pertemuan dan kemudian perpisahan, hujan datang tanpa diundang. Allah manurunkan berkahnya dalam basah. saya pasrah. setelah berjas hujan, saya lanjutkan perjalanan. tapi apalah artinya jas hujan yang cuma bisa menutupi barang-barang yang memang tidak boleh basah. karena tubuh saya tetap saja kuyup.

beruntung di ruang kerja saya, setiap orang mendapat meja kerja. walau di luar hujan saya masih dapat menjemur pernak-pernik yang basah oleh hujan di meja kerja saya. itupun setelah sebelumnya larak-lirik memantau kegiatan atasan. takutnya sedang berkeliling memantau anak buahnya, seperti saya.

meja kerja saya memang tidak banyak kertas atau sejenisnya, karena saya selalu rapihkan dalam tempat yang berbentuk rak warna coklat di atas meja. komputer berada di samping, dengan meja tersendiri. walhasil saya masih dapat bekerja di meja komputer. dan memang hari itu lumayan sibuk, jadi ketika tiba saatnya pulang saya sedikit kaget, karena ternyata jemuran saya sudah kering.

ini gambar meja komputer di samping meja kerja saya :

.

isinya, seperangkat komputer merek hp pavilion dan printer k7100. webcamnya saya pasang menghadap ke depan meja kerja saya dengan alasan untuk memantau aktifitas orang yang lalulalang. kebetulan pula saya senang buat foto bernuansa candid.

demikian postingan yang sebenarnya hanya ingin menampilkan meja di jumat itu menjadi postingan yang diikutkan dalam kontes. semoga menang *ngarep

tetap maju

In b2w, biker, blogor, jakarta, jurnal, pengendara, seli, sepeda on Desember 3, 2010 at 2:29 pm

alhamdulillah ada teman yang bisa diajak gowess bareng, walau penuh perjuangan. dikatakan penuh perjuangan karena rumah saya di parung, jika langsung b2w, maka tinggal tarik garis lurus sesuai rute yang ada di googlemaps. namun hari ini Jumat 03-12-2010 ada yang menawarkan gowess AKAP bersama, dengan senang hati saya menanggapi.

dimulailah petualangan itu. rute perjalanan dari rumah saya ambil arah ke bogor… benar sodara-sodara, bukannya langsung ke jakarta tapi balik arah dulu ke bogor. tepatnya stasiun bojong gede. saya sempat ada janjian untuk tikum (titik kumpul) di situ. saat b2w normal saya hanya butuh waktu kurang lebih satu jam, tapi hari itu beda. berangkat pukul 05.45 sampai kantor pukul 07.00.

sampai di kantor pas lagi apel pagi. jadi tidak sempat ikutan apel pagi karena sekalian diguyur hujan pagi itu. baju basah dikit, celana basah kuyup. perjuangan tiada akhir.

teman duet adalah seorang gowel dari bogor. karena baru sekali itu bertemu, jadi tidak begitu tahu banyak. namanya mang Iman Chandra. apa khabar ??

berikut foto-fotonya :

foto mang iman

.

berikut gantian saya

waktu pertama bertemu, mang iman seperti tidak mengenali saya (ya iyyalah..). jadi mang iman cuma membunyikan bel dan terus berlalu. merasa kenal, saya ikuti. merasa diikuti, mang iman tungaktengok ke belakang curiga. merasa dicurigai, segera saya buka percakapan “ada janji dengan anak gowel” jrenggg mang iman langsung “oh mang zaenal yah, saya iman”. dan keakrabanpun terjalin.

terus-terang ini gowes duet pertama saya yang direncanakan. yang tidak direncanakan sih sering tapi jadi tidak banyak bicara. duet ini tidak terlalu jauh, karena menjelang stasiun citayam, saya lurus terus ke arah rawa denok, sementara mang iman ambil jalur kanan melewati stasiun citayam.

terima kasih mang iman, kapan-kapan gowess bareng lagih…

garong duet atau duet garong

In b2w, biker, blogor, jalan, pengendara, seli, sepeda on November 6, 2010 at 7:37 pm

tak seperti biasanya, pagi itu hati rasa riang gembira. entah mengapa beban yang biasa menggayut bisa terlupakan. mungkin karena sikap pasrah ini yang tertunjukkan dengan doa dan rela.

pagi buta, eh.. tidak ah, sudah beberapa minggu ini saya tidak pernah lagi merasakan yang namanya pagi buta. saat buka hordeng kala terbangun suasana sudah menerang. padahal hp jadul masih menginformasikan bahwa waktu baru menunjukkan pukul 04.30 pagi. hal seperti ini sudah terjadi kurang lebih empat mingguan lah. sebelum-sebelumnya pukul lima pagipun suasana masih gelap. mulai meremang sekitar pukul 05.30. kemudian menerang sekitar pukul 05.45. tapi sekarang, pukul setengah enam saja sudah terasa panas menyengat. naze ?? <– (artinya : mengapa??).

jumat pertama di awal bulan minggu pertama, hari di mana para blogor mengadakan jumper yang tak pernah bisa ku datangi. naze ??

belum lagi waktu menunjukkan pukul 05.00, pintu gerbang sudah terbuka. sepeda sudah dikeluarkan. perabotan lenong sudah tergantung di punggung. lampu sepeda menyala walau terang mentari sudah menyapa. penguasa rumah tangga dan sang pangeran berdiri melepas kepergian ini untuk beranjak bekerja. assalamualaikum … daaaahhh..

rute seperti biasa melalui depan kompleks memutari komplek kemudian masuk pengasinan <–(nama daerah). keluar pengasinan masuk jalan mukhtar, atau biasa disebut sawangan <–(juga nama daerah). naik turun tanjakkan terlalui dengan mulus. menjelang tanjakan setan yang berlokasi di depan sma yappan, persiapan diperketat. disebut tanjakan setan karena tingkat kecuramannya sekitar empat puluh lima derajat miring. hampir-hampir tegak (lebay).

ancang-ancang, tambah kecepatan, berdiri dengan tubuh agak condong ke depan, tancap gass. wussss….. alhamdulillah berhasil melahap tanjakan dengan panjang kurang lebih lima puluh meter (pendek yah.. xixixi).

tapi jangan salah itu baru tanjakan setan yang pertama. yang kedua adalah tanjakan saat akan memasuki parung bingung <–(nama daerah yang membingungkan). tanjakkannya cukup landai namun panjangnya itu loh…. dengan tekad baja, terselesaikan juga dengan sukses.

belok kiri ke meruyung <–(sekali lagi; nama daerah) perjalanan lumayan datar. sempat bertemu teman yang sedang menunggu bis antar jemput menuju kantor. setelah ber-hai dan sedikit sapa canda, sepeda kembali melaju dengan santai.

masuk limo <–(nama daerah; cape deeeh) naik turun tanjakan kembali ditemui. kali ini tidak terlalu ekstrim jadi tidak perlu ada pertunjukan. bertemu rekan yang tidak dikenal namun sering berpapasan dengan sepeda. ternyata sedang melepas sepatu di depan ruko tempatnya bekerja dengan keringat mengucur deras.

hal yang menyenangkan dari bersepeda adalah rasa kekeluargaan yang hangat antar pengguna sepeda. saat melihat rekan itu saya langsung berteriak sambil mengangkat tangan dan menyapanya. serasa ada saudara.

gowes berlanjut, masuk jalan cinere perasaan ada yang mencurigakan, begitu tengok ke belakang ternyata ada sepeda berwarna hitam sedang membuntuti dengan manisnya. segera saya pelankan laju sepeda dan berusaha untuk bisa sejajar. tetapi pesepedah itu malah melewati saya. mungkin karena saya terlalu pelan jadi tidak bisa berbarengan jalannya. sambil melewati, pesepeda itu menyapa dan menanyakan arah tujuan. setelah dijawab, saya persilahkan dia untuk melaju dengan diiringi saya dari belakang.

mengiringinya ternyata butuh elan (efford) yang kuat. saya terbiasa gowess santai, sepeda itu terbiasa speed. akhirnya di persimpangan menuju gandul sepeda warna hitam itu berbelok, sementara saya lurus ke arah cinere mall. setelah saling berbasa-basi kami berpisah.

terbiasa garong eh ketemu pesepeda lain, jadi duet deh.

sesama garong besok duet lagi yukss…….

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.