Cuma tertawa saja

Bersepeda di siang hari bersama anak semata wayang. Hampir seharian kami berkeliling keluar masuk hutan di sekitar komplek. Walau panas tapi menyenangkan. Cukup menyenangkan karena hampir di setiap tikungan kami berhenti. Dan hampir dari setiap perhentian kami nongkrong di warung.

Berangkat sekitar pukul dua belas siang, setelah shalat dzuhur. Kembali lagi di rumah pukul lima belas ba’da shalat ashar. Pulang balik dibuka dan ditutup dengan shalat. Alhamdulillah perjalanan kami lancar.

Walau pakai sepeda mtb, tapi sepeda saya single speed, alias hanya satu percepatan. Sebelumnya dapat musibah ketika sedang gowes di sekitar rumpin. Anting rear delairure (rd) patah. Ketika itu terpaksa pulang naik angkot. Sekarang anting sudah dipasang setelah pencarian yang cukup lama. Tapi baru sekedar pasang antingnya dan rd saja. Kabel penghubung antara rd dan shifter belum dipasang. Jadilah sepedah mtb single speed.

Untungnya dengkul ini sudah beradaptasi dengan tandjakan, jadi walau bagaimanapun untuk tandjakan di sekitar komplek masih bisa ditolerir. Kecuali satu tandjakan yang gagal digowes karena kebanyakan tertawa.

Bicara tertawa, diakhir perjalanan menjelang masuk gang ke rumah ada seorang ibu mengendarai motor matik membonceng seorang ibu dengan ukuran yang sama dengannya (ndut) dan seorang anak di depan. Jalan dalam kondisi kosong, tapi karena bertegur sapa dengan seseorang di pinggir jalan, ibu itu agak kesulitan mengendalikan motornya. Gundukan selokan di ujung jalan bikin motor matiknya kurang tenaga. Komplikasi yang unik.

Padahal jalan lega dan dalam kondisi kosong, tapi karena sempat menengok ke pinggir jalan untuk bertegur sapa, ditambah motor matiknya loyo melewati gundukan, eh malah sepedah yang disalahkan. Saya cuma tertawa saja. Tapi sempat juga saya ingatkan padanya karena sembarangan menyalahkan sepedah. Saya katakan ” pakai helm kalau naik motor!”. Karena sedang kesal, jawabannya singkat saja “au ah”.

Sekali lagi saya cuma tertawa saja.