bersujud bersyukur

Hari yang indah belum tentu yang terbaik. Sabtu, 10 Oktober 2009 diawali sebagai hari yang indah. Setelah ritual bangun pagi yang menyenangkan, pukul 09.00 papie dan abang aji berangkat menuju tempat kerja mamie di Ciputat. Dekat dengan Situ Gintung dan lokasi penembakan terhadap dua orang yang diduga sebagi teroris.
Dari serdang kemayoran, kami berangkat sengaja melalui Kuningan, tembus Mampang. Menjelang Kebun Binatang Ragunan, belok kanan arah Cilandak. Perempatan Cilandak belok kiri. Karena belum sarapan, papie memutuskan untuk makan bubur yang ada di pinggir jalan. menyantap bubur sambil menyaksikan pertunjukan terjun payung dan helikopter milik Marinir yang memang bermarkas di situ.
Jalan lagi setelaha bertanya pada beberapa orang yang ada di sana sampailah kami di kolam renang Marinir. Sebuah tempat yang menyenangkan. Kami berenang selama kurang lebih 2 jam. Selesai berenang, segera berangkat menuju tempat mamie bekerja, di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah milik Universitas Islam Negeri Jakarta.
Sesampai di sana, abang aji turun di depan Rumah Sakit dan langsung masuk ke dalam untuk menjumpai mamie. Papie parkir motor di pelataran mesjid. Tak lama kemudian, papie menyusul ke ruangan mamie dan memberikan botol susu dan susu abang aji. Lanjut mencari makan siang. Bertiga kami makan di restauran padang, belakang Universitas Islam Negeri. Papie makan banyak karena lapar setelah beraneang. Abang aji banyak minum, karena itulah hanya makan sedikit, tapi lumayan.
Selesai makan, mamie dan abang aji kembali ke ruangan mamie. Abang aji tidur siang di sana. Kebetulan pasien mamie sedang tidak begitu banyak. Kebetulan pula ada satu tempat tidur di pojok yang dikosongkan. Papie langsung ke mesjid untuk shalat dhuhur, dan sekalian merebahkan tubuh, alias ikutan tidur siang.
Pukul 15.00 setelah shalat ashar, papie ke ruang mamie untuk membangunkan abang aji. Karena jam kerja mamie sudah selesai pada pukul 14.30. butuh waktu setengah jam sampai abang aji bangun dan bersiap. Berangkatlah kami ke tempat resepsi pernikahan teman kerja mamie di daerah cengkareng.
Tidak seperti biasanya, kami bertiga memakai pakaian yang seragam. Kebetulan beberapa tahun yang lalu kami buat pakaian untuk menyambut lebaran bermotif batik. Menyenangkan sekali seharian itu.
Kami beranjak pulang saat azan maghrib berkumandang. Ini adalah kesalahan yang kami perbuat. Padahal di sebelah gedung resepsi pernikahan terdapat mesjid. Kami bukannya mampir dulu untuk menunaikan shalat maghrib, malah berangkat untuk pulang ke kemayoran.
Sepanjang jalan, papie mendapati godaan. Knalpot motor yang lewat, atau berjalana beriringan, sepertinya mengejek papie. Itulah sebabnya papie berusaha selalu ngebut. Tidak pernah papie terprofokasi dalam membawa motor. Sering motor-motor berjalan kencang saat papie bermotor, meninggalkan knalpot berisiknya, papie tidak ambil pusing. Walaupun sering juga papie membawa kendaraan dengan kencang, namun semata-mata karena kebutuhan, alias bukan karena berbalapan dengan motor lainnya.
Karena bukan untuk membalap motor lain, papie menjadi fokus dengan motor dan lingkungan. Namun malam itu sungguh naas. Rasanya kok ingin membalap motor yang berjalan beriringan. Padahal kalau dipikir lagi, knalpot mereka biasa saja suaranya. Adrenalin papie terpacu seperti anak muda yang membara tidak mau kalah.
Tepatnya di depan jembatan Kambing daerah jembatan lima, atau lebih tepat lagi, mesjid pekojan. Terdapat separator jalan yang kurang lebih hanya memiliki panjang 5 meter. Namun sepanjang jalan tidak ada separator, dan hanya disitu saja separator tiba-tiba nongol, menjadikan papi tidak bisa mengendalikan motor. Ban depan menyentuh separator, motor segera terbalik.
Alhamdulillah, papie hanya lecet di telapak tangan, namun mamie lumayan parah. Helm yang digunakan abang aji dan mamie, entah kemana…. abang aji aman dipelukan mamie.
Bahu kanan mamie lebam, pipi sebelah kanan tergores aspal, bibir atas sebelah kiri luka, jari-jari tangan luka bergesekan dengan aspal. Saat diperiksa dokter terdapat kerikil yang nyangkut di dalam jari. Dengkul kaki kanan dijahit, padahal pakai celana dobel.
Setelah terjatuh terlihat mamie memeluk abang aji dengan sangat erat. Pemandangan yang mengharukan. Abang aji sangat-sangat terlindungi saat itu. Masyarakat langsung berdatangan untuk menolong, abang aji langsung papie gendong. Mamie ditolong oleh orang-orang yang datang. Motor ?? tidak tahu.
Mamie mengaku tidak tahu apa yang terjadi alias sedang pingsan saat ditolong. Abang aji sempat mengeluhkan kaki kanannya yang katanya sakit. Para penolong seperti orang yang sedang berjualan di pasar, ribut sekalil ngomong ke papie. Papie jadi bingung mau melakukan apa.
Mamie sempat tidak sadarkan diri selama sekitar 10 menit. Saat sadar, papie tawarkan untuk ke dokter atau rumah sakit, tapi mamie menolak. Oke, papie tawarkan lagi untuk naik taksi, ditolak lagi. Akhirnya dengan sangat terpaksa papie kembali membonceng dengan motor. Untung masih bisa menyala.
Di perjalanan, menjelang stasiun kota atau beos, mamie minta ke dokter, katanya pusing. Akhirnya papie terpikir untuk membawa mamie ke UGD RSPAD. Sepanjang jalan papie ajak ngobrol mamie agar selalu tersadar. Alhamdulillah sampai di UGD rumah sakit Gatot Soebroto dekat terminal Senen.
Sekitar pukul 19.30 mamie masuk UGD. Abang aji yang kakinya sakit, tidak mau diperiksa. Katanya tidak mau disuntik. Padahal saat jalan kaki kanannya seperti kesakitan. Suster minta papi untuk tebus obat di apotik cito. Abang aji minta ikut. Belum berapa lama minta gendong. Daripada menyusahkan, papie pinjam kursi dorong. Abang aji naik kursi dorong.
Selama menunggu mamie yang sedang ditangani, papie dan abang aji beberapa kali keluar untuk tebus obat atau beli minum. Bahkan karena abang aji rewel, kebetulan ada ATM didekat loket, sekalian saja papie bayar listrik menggunakan ATM. Hitung-hitung jalan-jalan dari pada abang aji cerewet.
Menjelang selesai, mbah kung dan pakde mudji datang. Untunglah mereka datang, saat pulang, mamie naik taksi bersama mbah kung. Papie membawa motor, karena kalau ditinggal, percuma. Keesokan harinya harus balik lagi untuk ambil motor.
Abang aji tidak mau ikut taksi. Papie tidak tahu kenapa, namun dari pada ribut, abang aji ikut papie naik motor. Karena sedikit trauma, papie membawa motor pelan. Sesampai di rumah, mamie dan mbah kung sudah ada dalam rumah, begitu juga pakde mudji yang naik motornya sendiri. Padahal papie dan abang aji duluan keluar dari RSPAD, tapi tibanya paling belakangan.
Malamnya, papie dan abang aji tidur di luar kamar, mami di kamar sendirian. Namun pintu kamar terbuka lebar. Sepanjang malam papie beberapa kali terbangun untuk melihat keadaan mamie. Katanya tidak tidur semalaman, kasian mamie.
Kami menutup hari itu dengan sedikit rasa sedih.
Hanya karena lupa bersujud bersukur di hadapan-Nya, teguran itu datang di hari yang indah.