komuter

jurnal komuter : facebook, iklan dan tabloid (pengendaraan bermotor)

In jurnal on Desember 11, 2009 at 10:21 am

komuter ikutan sebuah group yang ada di facebook. group itu berdasarkan pada kesukaan satu merek motor. (garing amat intronya).

beberapa kali komuter masuk dan membaca status yang tertulis. seperti juga facebook pribadi, anggota group sering menuliskan pemikirannya di status. dan dari beberapa status yang masuk, ada yang mengganjal di hati komuter.

barusan gwe berhasil melibas motor ****** di jalur lurus.

atau

siang tadi sebuah motor **** ngebut, langsung aja gwe tarik **** gwe, ketinggalan tuh motor.

kemudian status tersebut banyak yang menanggapi dengan komentar yang cenderung provokatif (ngomporin). hal ini menimbulkan …. apa namanya ? pokoknya sesuatu yang berkecamuk di kepala komuter mengenai berkendara di jalan raya.

dan bukan hanya di facebook saja hal ini terungkap, media televisi pun seringkali menayangkan betapa kencangnya sebuah merek motor. seakan-akan, jika pengendara menggunakan motor tersebut maka akan cepat sampai alam barzakh tujuan.

komuter adalah pengguna sepeda motor sebagai alat transpotasi sehari-hari. karena itu,  komuter merasa perlu untuk memiliki sedikit pengetahuan tentang motor. agar jika ada sedikit kerusakan, bisa segera dibetulkan sendiri. atau minimal saat ke bengkel, komuter sudah tahu apa yang harus diapakan. maka berlanggananlah komuter sebuah tabloid motorplus yang terbit mingguan. seperti juga facebook di atas, dan iklan di televisi, maka tabloid inipun sering mengulas tentang bagaimana cara membuat motor menjadi kencang. dan sepertinya pembaca tabloid ini rata-rata penyuka kecepatan.

fenomena diatas menggambarkan apa yah ??

Jurnal komuter : renyahnya martabak keju (diantara apitan paha waria)

In jurnal, sharing on Desember 5, 2009 at 9:56 pm

Lagi cerita masa lalu. Kali ini cerita sekian puluh tahun yang lalu, saat komuter masih muda belia gagah perkasa.

Ceritanya komuter masih kuliah. Waktu itu kuliah di ABA Borobudur yang ada di Jl. Kalimalang Jakarta Timur. Komuter ambil kelas malam karena harus kerja untuk bertahan hidup di siang hari. Boleh dibilang ’sambil bekerja minum kuliah’.

Seperti juga mahasiswa yang lain, komuter juga laraklirik cewe walau tidak jelalatan hingga juling tujuh keliling. Kebetulan hidung komuter mencium aroma wangi nan lembut dari dalam ruang kelas tempat biasa komuter datangi setiap hari (kecuali sabtu minggu). Pemilik wangi tersebut seorang gadis cantik berwajah lembut, berwarna putih (kulitnya + gigi), dengan tubuh seksi, kalau tersenyum bikin mata kelilipan, pokoknya kalau sekedar mpok nori mah lewaaaaaaaaaaaaat.

Melalui pendekatan yang intens (maksa-maksa ngancem), akhirnya bisa juga komuter anter-anter doi pulang, walau Cuma sampai setengah jalan. Kalau sampai rumahnya, jauuuuhhhhh di Pinang Ranti Pondok Gede, padahal komuter harus pulang ke Tangerang.

Tersebutlah malam, di mana komuter pulang kuliah sambil mengantarnya + pukul 09.30. hanya sempat bisa mengantar sampai terminal Cililitan. Waktu itu belum ada PGC tapi masih terminal. Sampai Cililitan, turun angkot, doi langsung minta dibelikan martabak keju, yang pada saat itu masih menjadi barang mewah bagi komuter. Karena jangankan buat beli martabak, buat makan aja susah (tapi udah berani ngelirik cewe). Dia berdiri di samping tukang martabak dengan wajah ngambek…………

Sebagai lelaki perkasa, komuter merasa malu kalau tidak mengabulkan permintaannya. Turunlah titah dari sang komuter kepada abdi dalem pembuat martabak “martabak kejunya satu !”. Tanpa banyak cakap, bak.. bik.. bugg.. jder.. jadilah martabak impian yang disemayamkan dalam kotak karton bertuliskan selamat menempuh hidup baru menikmati. Komuter langsung bayar dengan kontan harga martabak yang Cuma 4.000 perak tersebut.

.

Senyum manis gadisku mengembang, hatiku pun riang, terbang melayang ke awang-awang girang.

Begitu terima martabak doi langsung masuk ke sebuah angkot yang sepertinya si sopir sudah mengincar-incar, karena kelihatan matanya nanar, berbinar-binar.. moga tidak buat onar.

Angkot jalan, komuter melambaikan tangan dengan mesra, wajah sumringah bungah…

Ketika angkot sudah tidak terlihat lagi, dada komuter yang tadinya tegap meloyo, muka yang senang melongo, mengingat duit untuk pulang ke tangerang hanya tersisa 500 perak……..

Bayangkan

Cililitan – perum 2 tangerang, Cuma punya uang 500 perak. Padahal jam menunjukkan pukul 10.30 malam.

Itinery :

  • jalan kaki sampai cawang uki.
  • Lanjut naik bis, dengan kelihaian komuter yang seperti belut. Selamat tidak tertagih oleh kondektur yang celingak-celinguk merasa ada yang belum bayar tapi siapa…. (knek bingung).
  • Citraland grogol, naik angkot (mobil elf) melalui daan mogot. Baru juga duduk mata sudah kriyap kreyep tidak karuan, kemudian lep bablasss lelap…

Di sinilah petualangan dimulai………. Saat tidur tangan komuter berada di samping. Kriyap kriyep lagi mendusin alias terbangun karena ada sesuatu, komuter sedikit membuka mata……. Pemandangan yang indah nan mengerikan. melirik ke kanan, sepasang kaki putih mulus hingga hampir mencapai pangkal paha terlihat dengan jelas di keremangan lampu angkot. Tangan kanan komuter terhimpit oleh paha ituh. Melirik ke kiri pemandangan yang sama membuat celana komuter segera mengecil minta dipermak agar muat dipakai malam itu juga.

OMG.. apa ini ??

Wangi ini, mengingatkan komuter pada tubuh cantik ayam kampus yang sering komuter temui saat pergi ke kantin untuk nongkrong bersama teman-teman (ga’ makan).

Setelah puas menikmati ketertundukkan komuter yang menghasilkan olah fikir fantasi liar tak terkendali, komuter memberanikan diri untuk menegakkan kepala, mencoba memastikan apa yang tengah terjadi. Dengan tangan terhimpit tak tergerak, komuter menengadah memandang tubuh gadis cantik yang ternyata ivan gunawan yang tengah terdiam manis dan melirik komuter dengan senyum seringai menggetarkan jiwa..

Sumpah kalaupun itu bukan ivan gunawan pria macho gemulai yang sering muncul di TV lalu siapa lagi ??

.

Tertengok terpatah-patah komuter memalingkan wajah ke arah kiri… SAMA

Gadis macho manis di sebelah kiri komuter segera menebar pesonanya dengan renyah tertawa manja menyorongkan wajah ke arah komuter yang pongah tak berdaya.

PERTOLONGAN itupun datang

Walau sempat marah karena harusnya bayar 700 perak, komuter hanya bayar 500. Kondektur angkot tersebut adalah dewa penyelamat…………………..

Berjalan kaki sekian ratus kilometer dari Tangerang kota hingga perum 2 Tangerang. Tidak masalah, semangat komuter tengah menyala. Dengan tekad membaja komuter menguatkan hati berusaha untuk selalu terjaga mengingatkan tubuh ini bersegera mandi junub sesampai di rumah………

.

n.b. setelah sekian tahun, komuter baru menyadari ke dua gadis bertubuh tinggi besar gagah gemulai yang pernah menghimpit komuter dengan kilau paha indahnya ternyata menggunakan stoking putih, yang kalau pada malam hari menampakkan tuahnya membuat pemakainya serasa memiliki tungkai indah nan renyah…….

.

.

Sumber gambar : klik aja gambarnya langsung

IBSN : Prita mulyasari

In sharing on Desember 5, 2009 at 8:43 am

.

Gambar dapat dari beliau

IBSN : Indonesia’s Beautiful Sharing Network

Sekeping Koin untuk Prita!

Sahabat sekalian, kalau boleh jujur, baru kali ini saya kebingungan harus memulai sebuah tulisan. Hal itu disebabkan karena permasalahannya sudah jelas bahwa keadilan itu adalah barang yang mewah di negeri ini. Keadilan hanya bagi mereka yang berduit, pemilik modal dan pemilik kekuasaan, sedang bagi kita hal itu hanyalah sebuah mimpi indah.

coin ibsn1

<a href="http://ibsn.web.id/ibsn-coin-peduli-prita/">
<img title="coin ibsn1"
src="http://ibsn.web.id/wp-content/uploads/2009/12/coin-ibsn1.gif"
alt="coin ibsn1" width="160" height="65"></a>

Prita! Adalah contoh nyata!
Habis sudah rasanya kata-kata untuk sekedar menuliskannya!

Hanya karena sebuah surat keluhan seorang pasien  yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak berbuah 204 juta! Fantastissss..dan di luar jangkauan pemikiran akal sehat kita

Memang bagi segelintir orang yang menguasai hukum di negeri ini jumlah itu tidak seberapa, tapi bagi kita yang harus mengumpulkan koin demi koin untuk sekedar bertahan hidup jumlah itu tentu fantastis dan jumlah yang tidak masuk akal untuk bisa kita kumpulkan sendirian.

Sahabat sekalian, inilah saatnya kita berbagi yang sesungguhnya! Saya tahu bagi sebagian besar kita adalah berat menyisihkan beberapa koin yang telah kita kumpulkan untuk kebutuhan kita sendiri, tetapi saya juga tahu bahwa anda sekalian punya hati nurani untuk sekedar menyisihkan sedikit saja dari yang telah anda kumpulkan itu!

Sahabat, tunggu apa lagi?

Jika anda berkenan sampaikan donasi koin anda pada rekening berikut No Rek BCA.No rek. 6760163196  a/n Isnaini Fitriyah. Kami mohon maaf jika medianya melalui rek BCA, karena minimal transfer bisa di bawah 50ribu.  Dari dana yang terkumpul akan ada laporan dari tim keuangan kami mulai data penyumbang serta besarannya.

Yakinlah bahwa yang sedikit itu sangat berarti bagi Prita dan demi keadilan di negeri ini!  Semoga apa yang sudah kita lakukan dapat balasan dari Tuhan YME amin..

NB: setelah transfer kami harap untuk konfirmasi melalui SMS no berikut  0813-2020-9562 atau Email: event@ibsn.web.id sambil menyebutkan nama anda, nama blog jika yg punya, kota, dan nominal yang anda kirimkan.. hal ini semata-mata untuk pertanggungjawaban kami semata.