komuter

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘bea cukai’

Lintas kota

In jakarta, sharing on Maret 31, 2010 at 7:58 am

Pola pikir orang yang berasal dari kota kecil ternyata berbeda dengan yang berasal dari kota besar seperti Jakarta. Bukannya ingin membedakan bahwa yang satu lebih baik dari yang lain. Tapi ada sedikit kelucuan di saat berusaha berbincang.

Barusan ada tamu, temannya kakak ipar. Berhubung yang dituju sudah pindah rumah, jadilah kami yang menemani. Terbiasa dengan pemikiran bahwa semua orang dalam satu kota bisa dikenal, maka dengan seenaknya saja dia menyebut beberapa nama dengan kepastian kami mengenal nama-nama tersebut.

Orang Jakarta, tetangga saja belum tentu kenal nama.

Komuter ingat saat tinggal di Tanjung Pinang – Bintan, Kepulauan Riau. Banyak hal yang membuat hidup komuter penuh warna. Pertama, saat dipindahkan ke sana komuter masih teenager. Senang bisa melihat amoy-amoy yang cantik-cantik. Kedua, karena biasa hidup di Jakarta komuter sedikit kaget melihat minimnya penerangan di malam hari, dan sepi pula tuh… ketiga, kemana-mana dekat. Satu kota hanya lima kilometer persegi. walau ada transportasi seperti angkot, namun namanya jalan bareng teman-teman. Lebih baik jalan kaki sambil ngobrol ngalor ngidul.

Kosa kata mengagetkan yang komuter masih ingat adalah saat baru beberapa hari masuk sekolah. Ada senior yang bertanya “yang semalam tidak masuk siapa?” terus terang komuter kaget, karena tidak ada pemberitahuan bahwa sekolah dibuka pada malam hari. Ternyata setelah degdegan takut dibilang bolos, barulah komuter sadar bahwa yang namanya ‘semalam’ adalah sama dengan ‘kemarin’.

Landskap Tanjung Pinang adalah berbukit, naik turun. paling rendah tepi laut tentunya. setiap kilometer diukur dari pusat kota (sebelah mana?) dinamakan dengan jarak kilometernya. Seperti satu kilometer pertama setelah pusat kota disebut ‘batu satu’. Demikian seterusnya sampai entah batu berapa. Komuter sendiri tinggal di kilometer empat, atau batu empat. Di sebuah jalan yang disebut batu kucing.

Tinggal di Tanjung pinang di akhir-akhir tahun 80′an. Tiga tahun menimba ilmu. Walau tidak tahu akan di sekolahkan di sana karena diajak naik kapal laut untuk jalan-jalan, ternyata ditinggal untuk bersekolah di sana. Kalau tiap tahun tradisi mudik dilakukan dari kota terutama Jakarta ke kota-kota yang lebih kecil lainnya, maka komuter mudik ke Jakarta.

Pengalaman mudik adalah pengalaman yang sangat mengesankan. Karena sarana transportasi sangat minim. Hanya bisa menggunakan kapal laut atau pesawat udara. Berhubung keuangan tipis, biasanya selalu menggunakan kapal laut. Mencari tiket adalah sebuah dinamika kehidupan yang menegangkan. Karena saat-saat libur sekolah, banyak orang yang ingin berlibur.

Pernah suatu waktu, komuter tidak dapat tiket kapal laut. Seorang saudara mengirim komuter ke Tanjung Balai Karimun. Dari sana komuter dititipkan ke kapal milik bea cukai. Saat menggunakan kapal laut dari Pelni, komuter sangat menikmati perjalanan yang memakan waktu tiga hari dua malam. Kapal yang besar membuat ombak laut tidak terlalu terasa. Berbeda dengan kapal milik bea cukai. Kapalnya kecil. Dan menjelang Tanjung Priok, Teluk Jakarta, entah mengapa kapal terhenti. Seperti ada kerusakan mesin. Kapal yang kecil terombang-ambing ombak setinggi gedung tiga lantai.

Maaf, jika biasanya komuter tidak pernah merasa mual atau pusing saat menggunakan segala moda transportasi, maka untuk yang satu ini, isi perut tidak hanya keluar melalui mulut, namun dari semua lubang. Sekali lagi maaf.

Kegiatan libur pendek. Biasanya komuter melakukan perjalanan ke Pantai Trikora. Di sana kami menghabiskan waktu selama tiga hari untuk kemping. Tidak tahu kondisi Pantai Trikora sekarang-sekarang ini, tapi tahun 80′an akhir, suasana masih sangat sepi. Pantainya putih, lautnya terlihat indah. Dan belum dieksploitasi untuk kegiatan apapun, seperti pariwisata. Yang kami lakukan selama di sana paling cari binatang kecil-kecil seperti gong-gong, semacam siput yang memiliki batu di ujung kakinya. Saat siput masuk ke cangkang, tertutup batu tersebut. Batunya seperti batu akik berwarna putih hijau atau biru.

Pernah selama tiga hari kami hanya makan dan minum air kelapa. Makanan lainnya paling mie instan. Gila-gilaan deh. Walau terpencil, pernah juga kami bertemu dengan turis mancanegara. Dua orang wanita paruh baya. Mereka menikmati sekali berlibur di sana. Keduanya berasal dari Jepang. Kami ajak ngobrol dengan bahasa Inggris yang patah-patah dijawab mereka dengan bahasa Inggris yang pendek-pendek. Yang penting kedua belah pihak saling mengerti apa yang dibicarakan. Ditambah lagi gesture.

Tanjung Pinang lebih dekat dengan Malaysia, dibanding dengan ibukota negara atau ibukota provinsi. Budaya Malaysia lebih melekat dibanding budaya Indonesia. Bahkan pernah mata uang yang berlaku di sana adalah dollar Singapura dan ringgit Malaysia. Rupiah tidak terlalu dihargai di sana. Seiring berjalan waktu, ada kebijakan pelarangan penggunaan mata uang asing, hingga sekarang ini.

Siaran radio dan televisi lebih banyak dan lebih populer yang dari negeri jiran. Seperti lagu-lagu Malaysia yang sempat ngetop di Jakarta, di sana sudah duluan populer. Lagu milik Search, grup band yang memopulerkan ‘isabella’ sudah dinyanyikan saat perpisahan sekolah. Sekian bulan kemudian lagu itu meledak di pasaran Jakarta.

Sekian dulu nostalgilanya……. Tidak tahu kapan akan dilanjutkan kembali

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.