di Brunei #9

Minggu, 19 Agustus 2012. Hari terakhir puasa malah tidak makan sahur karena kesiangan. Mandi dan berkemas, saya segera turun untuk menunggu Liaison Officer yang berjanji untuk mengantar saya ke pusat kota. Tidak jadi. Ijin tidak diberikan karena saya akan pergi tanpa kawalan. Sejujurnya setelah empat hari berada di sini saya terfikir bahwa kami adalah prisoners.Lanjutkan membaca “di Brunei #9”

di Brunei #8

Sabtu, 18 Agustus 2012. Kami tiba di mes Penanjong garison kurang lebih pukul enam tiga puluh pagi. Sudah diwanti-wanti sebelumnya oleh AO kami, lieutenant Majiidah untuk segera bergabung dengan teman lainnya di mes sebelum pukul tujuh. Sedianya kami mengajukan opsi untuk bergabung dengan teman yang akan berangkat di lokasi tujuan. Tetapi mungkin dengan alasan keamananLanjutkan membaca “di Brunei #8”

di Brunei #7

Jumat, 17 Agustus 2012. MERDEKA Pagi kami dijemput oleh supir dari Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Brunei pada pukul 06.00 am. Berita yang kami terima adalah kami akan melaksanakan Upacara Bendera kemerdekaan Republik Indonesia di kedutaan. Pakaian yang dikenakan adalah batik. Terus terang ketika masih di Jakarta saya sempat akan membeli atau menjahit jas untukLanjutkan membaca “di Brunei #7”

di Brunei #6

Kamis, 16 Agustus 2012. Sahur terbangun dengan bantuan alarm. Selama ini saya tidak terpikirkan untuk mengaktifkan alarm di HP, karena saya pikir sudah aktif. Hanya saja saya tidak sekalipun mendengar karena sempat terpikir bahwa ketika alarm berbunyi saya tidak dengar. Ketika dicek, ternyata alarm tidak diaktifkan :julurlidah: At the kitchen, bertemu dengan seorang pengurus mesLanjutkan membaca “di Brunei #6”

di Brunei #5

Rabu, 15 Agustus 2012. Lelap tidur terbangunkan oleh suara ketukan. Seorang petugas dapur dengan senyum mengatakan “sahur..!”. Alhamdulillah ada yang membangunkan. Makan sahur, tidak lupa saya pesan teh manis panas. Entah mengapa kami selalu disediakan minuman yang dingin. Saya sempat lihat di dapur, batu es berjibun di tempat penyimpanannya. Tidak siang, tidak malam, saya perhatikanLanjutkan membaca “di Brunei #5”

di Brunei #4

Selasa, 14 Agustus 2012. Gara-gara dugem di dunia maya, terlambat bangun sahur. No sahur oke, ngantuks? tidak kereeen!! (Tn. Crabb:episodesekian). Acara hari ini adalah Opening Ceremony. Sedianya secara jadwal akan dibuka pukul 08.00. Sesuai dengan usulan saya sebelumnya, bahwa bersegeralah kita bangsa Indonesia mematenkan budaya jam karet. karena ternyata Opening Ceremony dilaksanakan sekitar pukul 11.00Lanjutkan membaca “di Brunei #4”

di Brunei #3

Senin, 13 Agustus 2012. Dari tiga puluh orang lebih siswa, hanya saya yang berpuasa. Maka sahur di pukul 4 pagi adalah kegiatan yang lumayan memicu adrenalin. Kamar kami di lantai 2 menuju ruang makan di lantai dasar adalah uji nyali. Kalau boleh saya gambarkan situasi di sini seperti gedung-gedung tua tak berpenghuni yang ketika siangLanjutkan membaca “di Brunei #3”

di Brunei #2

Pukul 17 lewat sekian, terjejak kaki di Brunei. lorong demi lorong kembali kami jalani ketika tiba di bawah tangga menuju booth imigrasi, seorang pria dengan ramah menyapa nama saya. Alhamdullillah … kami pikir inilah penjemput kami. orang itu bernama Eko, asli orang Indonesia. Dia meminta passport kami dan meminta menunggu. Tidak butuh waktu lama urusanLanjutkan membaca “di Brunei #2”

di Brunei #1

baru dapat wifi gratisan. Bukan yang pertama kali saya menjejakkan kaki di tanah borneo. tapi ini adalah jejak pertama saya di negara Brunei. Negara kecil di utara pulau Kalimantan atau Borneo. Sebagai catatan perjalanan, saya akan membuat tulisan ini dalam bentuk jurnal. Minggu, 12 Agustus 2012. pukul 07.00 kami terdiri dari saya beserta anak danLanjutkan membaca “di Brunei #1”

kemping di taman nasional gede pangrango [teks]

jika posting sebelumnya dalam bentuk gambar, maka kali ini disajikan dalam bentuk teks. pendahuluan. setelah sekitar dua belas tahun tidak pernah lagi menjejakkan kaki di gunung gede pangrango. hari itu sabtu 30 Juni 2012 dengan sangat nekad saya memutuskan untuk pergi kemping di sana membawa anak dan keponakan. saya sebut ini nekad, karena selain sudahLanjutkan membaca “kemping di taman nasional gede pangrango [teks]”