komuter

Arsip untuk ‘jakarta’ Kategori

ternyata

In b2w, blogor, jakarta, jalan, sepeda on November 29, 2010 at 2:27 pm

gara-gara tinggal di pinggir kota, banyak hal yang tidak saya ketahui dari kota tempat tinggal saya. walau baru benar-benar pindah selama kurang lebih empat bulan di kota kabupaten Bogor, saya selalu melihat ke Jakarta tempat kerja saya. Parung adalah kota kecil di kabupaten Bogor, secara geografis lebih mendekat ke Jakarta. bukan hanya saya yang berkegiatan di Jakarta, namun hampir sebagian besar orang yang saya kenal memiliki aktifitas di Jakarta. jika menyebutkan nama suatu daerah di Jakarta seperti blok m atau jalan thamrin, maka tinggal sebut saja. tapi jika ingin pergi untuk beraktifitas di suatu daerah di Bogor maka hampir semua orang menyebutkannya Bogor. dalam arti tidak familier dengan nama daerah yang ada di Bogor.

mungkin di Bogor ada nama jalan yang sama dengan nama jalan di Jakarta. terutama nama jalan besar. tapi jika disebutkan nama jalannya, pasti dalam benak banyak orang di sekitar saya akan berfikir bahwa jalan itu ada di Jakarta. saking Jakarta minded.

hari ini, tanpa disengaja saya melihat dan membaca serta baru mengetahui bahwa ada kegiatan b2w di kota Bogor. selama ini saya masuk dalam komunitas b2w yang ada di selatan Jakarta. setelah lihat-lihat website b2wbogor, coba-coba untuk ikut di dalamnya. kira-kira bakalan bisa gowess bareng ga’ yah dengan sesama b2wbogor?

ini logonya :

dapat dari situsnya : http://b2wbogor.org

anda anggota b2wbogor ?? salam kenal

dan butuh berapa ratus ribu untuk bermain di halaman belakang kami

In jakarta, sepeda on November 18, 2010 at 7:53 am

pernah saat anak semata wayang masih duduk di taman kanak-kanak yang berlokasi di daerah kemayoran, kami ikut dalam acara jalan-jalannya. ternyata acaranya adalah jalan-jalan ke daerah citeurep. di sana ada sebuah lokasi wisata yang menampilkan wisata pedesaan, di mana anak-anak diperkenalkan pada persawahan dan perkebunan serta suasana pedesaan. butuh biaya cukup besar bagi kami bertiga mengikuti acara ini.

setelah lulus dari taman kanak-kanak, kami memutuskan untuk hidup mandiri. maka tinggallah kami bertiga di Parung – Bogor. hanya kami bertiga. di suatu komplek perumahan yang bernama komplek kartika sejahtera atau biasa disebut komplek inkopad.

yang tidak terbayangkan dari kepindahan kami adalah ……… ngapain mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu jika hanya untuk bermain lumpur di sawah atau bermain tanah di kebun. karena di belakang rumah kami, semua itu telah tersedia dengan gratiss. tidak percaya silahkan disimak :

.

dan jangan salah, ada hutannya juga…..

lokasi gambar di atas adalah sasak panjang – tajur halang, dan desa citayem.

hayo masuk hutan………………

NR = night ride

In b2w, biker, jakarta, jalan, jurnal, sepeda, sharing on Oktober 18, 2010 at 2:05 pm

night ride, kalau diterjemahkan secara bebas maka saya akan menterjemahkannya : bersepeda malam hari untuk bersenang-senang.

sudah hampir dua bulan, setiap sabtu malam saya ber NR bersama anak. awalnya hanya di dalam komplek berkeliling-keliling. kemudian meningkat dengan berkeliling sekitaran komplek. terakhir nekad berkeliling keluar masuk kampung, walau masih di sekitaran komplek.

untuk diketahui, saya tinggal di pinggiran Bogor, di suatu daerah yang berbatasan langsung dengan Depok dan tidak jauh dari Jakarta Selatan serta bisa dibilang berada di selatan jakarta.

sebagai daerah suburban, Parung tempat saya tinggal adalah daerah yang paling diincar oleh banyak pengembang untuk dijadikan penunjang kemakmuran penguasa negara yang ada di Jakarta. oleh karena itulah mulai banyak lahan-lahan hutan yang membotak karena ditebangi. jika sebelumnya saya hanya bisa melihat penggundulan hutan melalui televisi, kini saya melihatnya secara langsung hutan yang pitak dengan mata kepala saya sendiri. mungkin dulunya komplek tempat saya tinggalpun terjadi hal yang sama.

demi mendahului hilangnya hutan yang ada, maka saya bersegera menikmati yang masih tersisa di mulai dari saat bersepeda menjadi idaman hati. dengan sepeda jadul yang dirawat dengan baik, kami memulai petualangan.

laporan NR terakhir 16-10-2010 : berangkat dari rumah sekitar pukul 17.30. komplek inkopad sasakpanjang – tajurhalang Bogor. melaju berdua dengan dua sepeda dilepas oleh permaisuri tercinta. bergulir lima menit sampailah kami di perbatasan komplek. diawali dengan jalur tanah yang sedikit bagus, kami melaju meninggalkan komplek memasuki area perkampungan. tak lama terlihat di sebelah kanan perumahan penduduk yang jarang-jarang di sebelah kiri terhampar sawah dan sedikit pepohonan. saat itu sunset, pemandangan sangat memukau. gowes santai menjadi yang terindah bagi kami.

keluar jalan tanah, bertemu jalan aspal yang sudah berkubang. tapi tidak masalah, karena kami gowes dengan santai, maka tidak menjadi halangan berarti. kiri kanan jalan hanya ada satu satu rumah penduduk, selebihnya adalah persawahan. suasana temaram membuat NR menjadi sedikit horor. apalagi melewati rerimbunan pohon bambu. kalau sudah malam gelap mungkin tidak terlalu seram.

lanjut, melewati perkampungan penduduk yang mayoritas rumahnya dijadikan lapak sepeda motor kampakan. entah mengapa di daerah terpencil seperti ini  terdapat loakan barang bekas untuk kendaraan roda dua. mengingat sudah sepuluh tahun saya tinggal di sini dan lapak ini sudah ada jauh sebelum saya pindah ke sini berarti kampakan yang dijual laku keras. sayang sekali, coba kalau yang dijual kampakan sepeda. pasti saya bakalan nongkrong terus di sana.

lepas dari kampakan, kami bertemu kantor kelurahan citayam. lanjut, entah apa nama daerahnya, tapi memang sudah masuk perkampungan penduduk yang lumayan sepi. jalan menurun berkelok-kelok persis seperti di puncak. baru saya ketahui bahwa memang itu adalah daerah yang bernama lerengindah. lanjut lagi di malam yang gelap gulita tanpa perkampungan penduduk, berbekal lampu senter seharga enampuluhlima ribu rupiah, kami menyusuri jalan sepi dengan santai. bertemu warung kecil, beristirahat sejenak. minum teh yang di dalam botol dan makan snack, sambil ngobrol dengan penjualnya kami diberitahu arahan menuju rumah. ternyata daerah itu adalah kampung kaliputih.

setelah selesai rehat, perjalanan kami teruskan. kali ini masuk komplek ARCO di daerah pengasinan. karena masuk dari belakang, kami jadi sedikit bingung. namun dengan semangat nyasar 45′ kami berhasil masuk dan muncul di tengah komplek di jalur yang sering saya lalui saat bike to work. setelah bertemu jalan yang dikenal dan jarak tempuh tinggal sedikit lagi, kami memberanikan diri untuk leha-leha sebentar. maka mampirlah kami di .. mana lagi kalau bukan warung bakmi.

asik makan mi ayam sambil nonton finding nemo. selesai makan dan ele’-ele’an, perjalanan pulang kami lanjutkan. dengan gaya santai, sambil ngantuk kekenyangan, laps terakhir kami lewati dengan penuh riang gembira. alhamdulillah selamat sampai rumah. total perjalanan malam itu + empat jam perjalanan. malam minggu depan rencananya akan NR lagi. tapi kali itu mungkin bertiga, karena nyonya ngambek setelah ditinggal malam mingguan oleh dua pria kekasih hatinya.

ada yang mau ikut … ??? ……

komunitas b2w

In biker, jakarta, jalan on Agustus 19, 2010 at 8:25 am

bukan mentang-mentang bersepeda, terus selalu online di situs B2W, sementara blog tidak terurus. agar seimbang maka hari ini, detik ini juga komuter putuskan untuk menulis kembali walau yang ditulispun tidak jauh-jauh dari urusan bersepeda.
setelah bersepeda sekian lama, tiba-tiba komuter menemukan situs ini. bersegeralah komuter menyelam di dalamnya untuk mengetahui lebih dalam lagi. karena kebetulan ada banyak informasi mengenai bersepeda yang komuter butuhkan.
ternyata lagi, ada banyak komunitas bersepeda yang berdasarkan tempat dan rute bersepeda. komuter yang kebetulan bertempat tinggal di Parung dan bekerja di daerah cinere mencoba bergabung dengan komunitas yang kira-kira sesuai dengan tempat tinggal – tempat kerja dan rute tempuh. akhirnya terdaftarlah komuter di beberapa komunitas. ini komunitasnya :

alasan bergabung : komuter ingin membantu sesama goweser jika menemui kesulitan di jalan.

alasan bergabung : komuter adalah seorang (mengaku-ngaku) blogger.

alasan bergabung : rencana main sabtu minggu ke pemda cibinong………. khan kegiatan rutinnya jalan jalan ke pemda cibinong, sekalian jajan.

alasan bergabung : diundang oleh pak Joko, padahal komunitas ini adanya di Pulau sumatra sana, tepatnya di Linggau. berhubung ingin selalu berteman, maka ikut saja.

alasan bergabung : siapa tahu saat jalan ke depok ketemu di UI, khan kalau ke depok selalu lewat situh….

alasan bergabung : selatan jakarta adalah lokasi yang saya diami dan lalui. sering bertemu dengan gowesernya juga…..

yang terakhir adalah komunitas gowes ga ada rombongan, tapi berhubung tidak ada bannernya, maka tidak bisa ditampilkan…..

mari bersepeda…….

IBSN : sedia jas hujan sebelum hujan

In ibsn, jakarta, pengendara on April 13, 2010 at 10:16 am

Bagaimana jika kendaraan yang sudah menemani selama lima tahun lebih tiba-tiba menjadi terlihat baru kembali. bukan karena memiliki jiwa artistik yang tinggi, namun hanya keadaan yang mengharuskan sedikit kreatif agar tunggangan yang selama ini menemani menjadi enak dilihat.

Tidak bisa dipungkiri, usia sangat berpengaruh terhadap tampilan tunggangan. Karena setiap hari dipakai wara-wiri keliling Jakarta bahkan hingga Cianjur saat bulan madu yang kesekian bersama kekasih hati, maka sudah pasti dari segala segi apapun, tampilan tunggangan pasti akan merosot.

Untuk mesin, untunglah selalu terawat dengan baik karena rutin servis setiap satu bulan sekali. Tidak pernah terpikir untuk mengecek odometer perbulannya. Pokoknya minggu pertama awal bulan sudah harus masuk bengkel resmi untuk servis rutin.

Kembali lagi pada tampilan. Jalan-jalan di Jakarta yang sangat-sangat tidak mulus telah membuat kesing bodi menjadi hancur-hancuran, terutama setiap kali selesai servis rutin, ada saja kesing bodi yang tidak terbaut dengan baik. Sehingga ketika melewati sedikit guncangan, kesing bodi tersebut menjadi patah karena tidak kuat menahan getaran dan guncangan.

Setela dua kali ganti kesing bodi belakang kiri dan kanan, kali ini tidak lagi ganti, tapi langsung saja chopp bagian yang patah, kemudian disamakan kiri kanan. Setelah itu dengan sedikit keberuntungan patahan tadi dapat tertutupi dengan ditambahkan bagasi samping berbentuk bulat. Entah akan sampai kapan bagasi samping bulat itu bisa bertahan disana, karena saat ini penggunaan bagasi samping seperti ini sudah ketinggalan zaman.

Setelah beli dan pasang, sekarang mikir-mikir, kira-kira akan diisi dengan apa ya ?? karena ternyata walau terlihat cukup besar tapi volumenya kecil sekali. Hanya cukup untuk satu pasang jas hujan. Tapi sudahlah, daripada tidak ada tempat untuk membawa jas hujan.

Jas hujan dan motor seharusnya menjadi satu kesatuan seperti halnya penggunaan helm. Pemanasan global telah merubah iklim cuaca terutama di Jakarta ini. Banyak yang bilang, sebenarnya sekarang musim apa sih, sebentar panas sebentar hujan. Tidak ada prediksi yang tepat jika berbicara tentang hujan. Oleh karena itu membawa jas hujan kapanpun bepergian dengan menggunakan motor, jas hujan menjadi salah satu kelengkapan yang wajib dibawa.

Adalah sangat menyebalkan di saat sedang berkendara, hujan turun dengan tiba-tiba. Lebih menyebalkan lagi, sedang lucu-lucunya hujan yang mengguyur, tiba-tiba jalan menjadi macet. Ternyata banyak pengemudi kendaraan roda dua yang sangat-sangat ‘BOTOL’ alias bodoh dan tolol. Karena mereka tidak membawa jas hujan dan dengan seenaknya berteduh sementara motornya diparkir saja hingga meluber menghabiskan semua lajur dan jalur jalan.

Ini sekedar saran kepada pihak yang berwenang seperti institusi kepolisian, agar saat hujan berlangsung tilanglah para pengendara motor yang seenaknya meninggalkan motor dan berteduh. Sementara pengguna jalan lain harus sabar terutama para pengguna motor yang memakai jas hujan akhirnya menjadi percuma menggunakan jas hujan, karena setelah pakai jas hujan tidak bisa jalan juga. Jalan tertutup oleh mereka yang berteduh dengan sembrono.

——————————————————————————————————————————————————————————————————

update :

eh dapat KaBe dari seseorang ……………

Lintas kota

In jakarta, sharing on Maret 31, 2010 at 7:58 am

Pola pikir orang yang berasal dari kota kecil ternyata berbeda dengan yang berasal dari kota besar seperti Jakarta. Bukannya ingin membedakan bahwa yang satu lebih baik dari yang lain. Tapi ada sedikit kelucuan di saat berusaha berbincang.

Barusan ada tamu, temannya kakak ipar. Berhubung yang dituju sudah pindah rumah, jadilah kami yang menemani. Terbiasa dengan pemikiran bahwa semua orang dalam satu kota bisa dikenal, maka dengan seenaknya saja dia menyebut beberapa nama dengan kepastian kami mengenal nama-nama tersebut.

Orang Jakarta, tetangga saja belum tentu kenal nama.

Komuter ingat saat tinggal di Tanjung Pinang – Bintan, Kepulauan Riau. Banyak hal yang membuat hidup komuter penuh warna. Pertama, saat dipindahkan ke sana komuter masih teenager. Senang bisa melihat amoy-amoy yang cantik-cantik. Kedua, karena biasa hidup di Jakarta komuter sedikit kaget melihat minimnya penerangan di malam hari, dan sepi pula tuh… ketiga, kemana-mana dekat. Satu kota hanya lima kilometer persegi. walau ada transportasi seperti angkot, namun namanya jalan bareng teman-teman. Lebih baik jalan kaki sambil ngobrol ngalor ngidul.

Kosa kata mengagetkan yang komuter masih ingat adalah saat baru beberapa hari masuk sekolah. Ada senior yang bertanya “yang semalam tidak masuk siapa?” terus terang komuter kaget, karena tidak ada pemberitahuan bahwa sekolah dibuka pada malam hari. Ternyata setelah degdegan takut dibilang bolos, barulah komuter sadar bahwa yang namanya ‘semalam’ adalah sama dengan ‘kemarin’.

Landskap Tanjung Pinang adalah berbukit, naik turun. paling rendah tepi laut tentunya. setiap kilometer diukur dari pusat kota (sebelah mana?) dinamakan dengan jarak kilometernya. Seperti satu kilometer pertama setelah pusat kota disebut ‘batu satu’. Demikian seterusnya sampai entah batu berapa. Komuter sendiri tinggal di kilometer empat, atau batu empat. Di sebuah jalan yang disebut batu kucing.

Tinggal di Tanjung pinang di akhir-akhir tahun 80′an. Tiga tahun menimba ilmu. Walau tidak tahu akan di sekolahkan di sana karena diajak naik kapal laut untuk jalan-jalan, ternyata ditinggal untuk bersekolah di sana. Kalau tiap tahun tradisi mudik dilakukan dari kota terutama Jakarta ke kota-kota yang lebih kecil lainnya, maka komuter mudik ke Jakarta.

Pengalaman mudik adalah pengalaman yang sangat mengesankan. Karena sarana transportasi sangat minim. Hanya bisa menggunakan kapal laut atau pesawat udara. Berhubung keuangan tipis, biasanya selalu menggunakan kapal laut. Mencari tiket adalah sebuah dinamika kehidupan yang menegangkan. Karena saat-saat libur sekolah, banyak orang yang ingin berlibur.

Pernah suatu waktu, komuter tidak dapat tiket kapal laut. Seorang saudara mengirim komuter ke Tanjung Balai Karimun. Dari sana komuter dititipkan ke kapal milik bea cukai. Saat menggunakan kapal laut dari Pelni, komuter sangat menikmati perjalanan yang memakan waktu tiga hari dua malam. Kapal yang besar membuat ombak laut tidak terlalu terasa. Berbeda dengan kapal milik bea cukai. Kapalnya kecil. Dan menjelang Tanjung Priok, Teluk Jakarta, entah mengapa kapal terhenti. Seperti ada kerusakan mesin. Kapal yang kecil terombang-ambing ombak setinggi gedung tiga lantai.

Maaf, jika biasanya komuter tidak pernah merasa mual atau pusing saat menggunakan segala moda transportasi, maka untuk yang satu ini, isi perut tidak hanya keluar melalui mulut, namun dari semua lubang. Sekali lagi maaf.

Kegiatan libur pendek. Biasanya komuter melakukan perjalanan ke Pantai Trikora. Di sana kami menghabiskan waktu selama tiga hari untuk kemping. Tidak tahu kondisi Pantai Trikora sekarang-sekarang ini, tapi tahun 80′an akhir, suasana masih sangat sepi. Pantainya putih, lautnya terlihat indah. Dan belum dieksploitasi untuk kegiatan apapun, seperti pariwisata. Yang kami lakukan selama di sana paling cari binatang kecil-kecil seperti gong-gong, semacam siput yang memiliki batu di ujung kakinya. Saat siput masuk ke cangkang, tertutup batu tersebut. Batunya seperti batu akik berwarna putih hijau atau biru.

Pernah selama tiga hari kami hanya makan dan minum air kelapa. Makanan lainnya paling mie instan. Gila-gilaan deh. Walau terpencil, pernah juga kami bertemu dengan turis mancanegara. Dua orang wanita paruh baya. Mereka menikmati sekali berlibur di sana. Keduanya berasal dari Jepang. Kami ajak ngobrol dengan bahasa Inggris yang patah-patah dijawab mereka dengan bahasa Inggris yang pendek-pendek. Yang penting kedua belah pihak saling mengerti apa yang dibicarakan. Ditambah lagi gesture.

Tanjung Pinang lebih dekat dengan Malaysia, dibanding dengan ibukota negara atau ibukota provinsi. Budaya Malaysia lebih melekat dibanding budaya Indonesia. Bahkan pernah mata uang yang berlaku di sana adalah dollar Singapura dan ringgit Malaysia. Rupiah tidak terlalu dihargai di sana. Seiring berjalan waktu, ada kebijakan pelarangan penggunaan mata uang asing, hingga sekarang ini.

Siaran radio dan televisi lebih banyak dan lebih populer yang dari negeri jiran. Seperti lagu-lagu Malaysia yang sempat ngetop di Jakarta, di sana sudah duluan populer. Lagu milik Search, grup band yang memopulerkan ‘isabella’ sudah dinyanyikan saat perpisahan sekolah. Sekian bulan kemudian lagu itu meledak di pasaran Jakarta.

Sekian dulu nostalgilanya……. Tidak tahu kapan akan dilanjutkan kembali

november rain

In biker, jakarta, jalan, motor, pengendara, sharing on November 20, 2009 at 1:46 am

setiap sore menjelang pulang, langit pasti gelap. sudah terjadi selama kurang lebih 2 minggu ini. jadi was-was.

untungnya tanggal 7 Nov kemarin komuter ulang tahun. “maksod loh?”

begini, entah dimulai dari kapan tradisi tidak tertulis ini berjalan. namun sepertinya sudah tiga kali atau lebih, setiap komuter ulang tahun pasti dibelikan jas hujan oleh ‘sang mantan’. dan memang setelah dipakai + 6 bulan, biasanya jas hujan tersebut rusak. maklum, komuter memiliki gerakan yang “lasak” kalau kata orang melayu. terutama di bagian selangkangan. ‘mantan’ bilang di bagian itu komuter tajam. sangat tajam bahkan…. terbukti sabtu tanggal 7 malam diberikan, keesokan harinya saat dipakai untuk menjemput, padahal baru dipakai, robek di area tersebut. gara-garanya ? hujan di tengah jalan, pakai jas hujan, setelah sampai dan parkir motorpun, tetap dipakai jas hujannya. karena malam dingin jadi sambil nunggu ‘sang mantan’ datang selama + 2 jam komuter pakai jas hujan, nongkrong di depan mesjid UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.

dulu, lihat kakak yang berkeluarga, saat berulang tahun, keseringan saling memberikan seperangkat alat sholat. sekarang kok tidak nular yah ??

balik lagi ke jas hujan, setelah itu, dua bulan kemudian atau tanggal 20 januari ‘sang mantan’ ulang tahun, 31 januari abang aji ulang tahun. komuter sering kebingungan harus memberikan apa untuk mereka, terutama untuk ‘sang mantan’?

tahun kemarin tanpa sengaja menang lomba blog di bulan Januari. salah satu hadiahnya adalah jas hujan dari salah satu sponsor yang memiliki bisnis online di bidang jas hujan khusus wanita. waktu yang tepat…..

ulang tahun yang akan datang kasih apa yah ??

tiga teguran pagi itu

In biker, jakarta, jalan, jurnal, motor, pengendara on Oktober 15, 2009 at 8:56 am

berperilaku layaknya komuter… tentu saja namanya komuter, pagi berangkat sore pulang. pagi ini berangkat kerja seperti biasa, namun mendapat tiga teguran.

  1. teguran pertama. dari kemayoran sampai galur, belok kanan pasar senen. belok kanan, ketemu jalan kwini, masuk terus sampai kwitang. di kwitang tepat sebelum patung pak tani ketemu lampu merah. saat berhenti di trotoar ada yang jualan koran. iseng tanpa turun dari motor, mata jelalatan melihat berita-berita dikoran yang di hampar. mumpung gratis. penjual korannya wanita yang duduk sambil mencondongkan tubuhnya ke depan hingga kembarannya terlihat jelas walau tidak menyeluruh. karena salah tingkah dan merasa bukan hak, komuter segera beranjak, memajukan motor. tidak jadi baca koran gratis.
  2. teguran kedua. jalan rasuna said kuningan panjangnya berapa kilometer yah…. saat berkendara ada sepasang pria wanita yang berkendara motor mendahului, namun kemudian tidak beranjak dari pandangan alias kecepatan motornya sama. yang aneh dan kemudian menjadi perhatian komuter dari ujung ke ujung adalah, ternyata wanita yang dibonceng, duduk seperti pengemudi, dan menggunakan rok yang tertiup angin. semua isi rok kelihatan. komuter sudah berusaha mendahului agar tidak melihat terus-terusan, tapi seperti dua kendaraan yang kebut-kebutan. akhirnya komuter mengalah dengan mengurangi kecepatan agar motor tersebut bisa jauh dari pandangan tapi, sudah terlanjur sampai daerah mampang. komuter belok kanan, motor itu lurus.
  3. teguran ketiga. akhirnya masuk jalan fatmawati. sesampai di toko serba ada AB (aneka buana) semua kendaraan harus belok kiri, tidak boleh lurus kecuali sudah lebih dari pukul 10.00 atau kecuali hari libur. komuter tidak belok kiri, tidak lurus, tapi belok kanan masuk gang kecil. namanya gang, pasti masyarakat sana menempatkan polisi tidur, jalan raya saja ada polisi tidurnya. pada sebuah polisi tidur yang cukup tinggi, komuter melihat seorang ibu yang masih muda sedang membetulkan baju anaknya dengan cara merunduk. karena akan melewati polilsi tidur, komuter melajukan kendaraan dengan sangat pelan. dan karena itulah semua aktifitas ibu muda yang berada tepat setelah polisi tidur itu terlihat dengan sangat jelas. boleh dibilang slow motion. sambil merunduk, ibu muda tersebut ternyata hanya memakai kaus yang longgar dan tidak mengenakan apa-apa lagi di baliknya. akhirnya seluruh tubuhnya terlihat dengan sangat jelas.

setelah mendapat tiga teguran tersebut, komuter menjadi berpikir….   apa yang salah sih ??

masa cuma baca koran gratis saja tidak boleh……. ??

masa ……. ??

masa ……. ??

mengisi

In jakarta, jalan, motor, pengendara on Oktober 6, 2009 at 12:40 pm

selesai lebaran, kembali pada aktifitas sehari-hari. terakhir posting mengenai berbahayanya atau tidak sehatnya bersepeda di jalan-jalan ibukota Jakarta. bukannya mengatakan bahwa bersepeda tidak bagus, namun akan lebih baik jika memilih tempat untuk bersepeda seperti di Monas atau Senayan.

setelah bersepeda, komuter kembali pada roda dua kesayangan, tumpuan hidup dan harapan. sang roda dua sudah berumur enam tahun pada tahun ini, dan sudah perpanjang stnk satu kali tepat pada ulang tahunnya yang ke 5.

terakhir tanggal 25 September 2009 kemarin, komuter bawa ke berres alias bengkel resmi untuk Suzuki. sang roda dua di servis besar. selama ini hanya servis rutin saja sebulan sekali. untungnya, mekanik bilang sang roda dua baik-baik saja alias tidak ada yang perlu diganti. hal ini pasti karena selalu servis rutin setiap bulan.

untuk diketahui, setiap hari senin ~ jumat selalu komuter gunakan untuk berangkat dan pulang kerja. dengan jarak tempuh + 80 .. 90 km/hari. belum termasuk, pada sore hari saat di rumah, ada saja keperluan yang mengharuskan penggunaan sang roda dua. sabtu ~ minggu pun ada saja keperluan yang membuat sang roda dua berpacu di jalan hingga menempuh jarak yang sama seperti hari kerja setiap minggunya.

komuter tidak menyangka bahwa mesin sang roda dua begitu sehatnya. padahal penggunaan sehariannya cukup berat. yang tidak terawat dari sang roda dua adalah bodinya. bukannya malas mencuci, tapi masa sih harus dicuci tiap hari ? selain tidak sempat, juga waktunya sangat sempit. komuter juga khan butuh istirahat.

setelah servis besar, komuter penasaran dengan hasil servis yang menyatakan bahwa mesin motor sangat sehat. maka hari sabtu, 26 september 2009 tepat pukul 09.00 wib, pergi ke Puncak berboncengan. dari komplek Inkopad – Parung bergerak ke arah stasiun Bojong gede, lanjut Pemda Cibinong. mentok Jalan Raya Bogor belok kanan arah Bogor. masuk Sentul melewati terowongan tol jagorawi tembus gerbang sirkuit Sentul, belok kanan. komuter lupa lagi jalurnya, tapi yang pasti tembus-tembus di Gadog.

untuk yang kendaraannya kurang laik jalan atau ragu-ragu lebih baik lewat jalur biasa, yaitu melalui terminal baranang siang, tajur terus ke atas. karena melalui sentul, kemiringan jalan sangat curam. untung roda dua milik komuter sudah servis besar, dengan mudah melahap curamnya jalan. melihat motor yang lain, termehek-mehek hingga motor 4 tak mengeluarkan asap dari knalpotpun, tetap tidak bisa nanjak.

pulang dari puncak, penggunaan bahan bakar ternyata lumayan irit. wow…. padahal roda dua sengaja diservis besar karena ingin jual untuk ganti yang baru. sekarang kalau dijual malah timbulnya jadi sayang.

jual ga’ yah ??

Jurnal komuter : naik sepeda….. sudah bukan jamannya lagi

In bahan bakar, bensin, biker, jakarta, jalan, jurnal, motor, pengendara, polusi on Agustus 26, 2009 at 8:36 am

Di usia komuter yang terbilang dewasa (usianya saja), komuter perlu untuk lebih mengaktifkan penggunaan organ-organ tubuh agar tetap fit hingga memasuki usia senja nanti. Layaknya pria paro baya lainnya, komuter melakukan aktifitas keseharian dengan rutinitas: bangun pagi, berangkat kerja, bekerja, pulang kerja, nonton tivi, tidur. Nyaris tanpa ada aktifitas olah tubuh (raga).

Sempat terfikir untuk berangkat dan pulang kerja menggunakan sepeda seperti yang sedang happening akhir-akhir ini yaitu bike to work. Karena belum tentu bisa olah tubuh (raga) dengan alasan waktu yang mefet (padahal malas), jadi sekalian berangkat kerja sekalian olah tubuh (raga).

Kebetulan di rumah ada sepeda di belakang milik mbah kung. Kondisinya mengenaskan sekali, mbah kung bilang sepeda itu sudah dimiliki sejak sekitar tahun 60-an. Berarti usianya sangat jauh dengan komuter (tua-an dia). Saat ditemukan sepeda tersebut terkubur setengahnya, hingga perlu sedikit digali. Boleh dibilang sepeda ini bangkit dari kubur.

Dengan semangat perubahan, komuter memperbaiki sepeda sedikit demi sedikit hingga menghabiskan uang lebih dari atau sama dengan setengah jeti. Sebelum dioperasikan sebagai kendaraan berangkat – pulang kerja, komuter gunakan dulu setiap sore untuk membawa abang aji berkeliling perkampungan kemayoran sampai pelosok sunter, galur, cempaka putih dan sekitarnya.

Ternyata….

Naik sepeda tak sesehat yang komuter bayangkan. Bahkan boleh dibilang mudaratnya lebih banyak dibanding manfaatnya (pengalaman pribadi, yang lain aaaau….)

- Polusi di sepanjang jalan di pelosok ibukota tercinta Jakarta raya.

- populasi kendaraan bermotor yang memenuhi semua ruas jalan di manapun anda berada.

- mental para pengendara.  paling parah

Saat mengayuh sepeda, ternyata cukup menguras energi. Walau melelahkan namun menyegarkan, tetapi tarikan nafas yang lebih dalam dan lebih panjang menjadikan debu, asap kendaraan bermotor dll yang biasa disebut polusi udara, dengan leluasa masuk ke dalam rongga pernafasan hingga menjelajahi paru-paru, jantung, berkeliling di aliran darah komuter dari ujung kepala hingga ujung kaki (seperti setan saja).

Setelah mengalami hal di atas komuter segera cari strategi untuk mencari jalan alternatif agar tidak bertemu dengan polusi yang berasal dari kendaraan bermotor. Dipilihlah jalan di perkampungan padat penduduk agar tidak terkena lagi polusi.

Berhasilkah ??

Tidak juga. Setiap pelosok jalan walaupun di gang buntu sekalipun pasti terdapat kendaraan bermotor. Terutama roda dua.

Dan yang paling menakutkan dari berkendara sepeda adalah……., menjadi warga negara kelas terrendah yang pernah ada di muka bumi ini.

Rata-rata pengendara kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat bahkan yang lebih banyak lagi rodanya, semua saling serobot, saling sikut. Pasti terlihat siapa yang kalah. Pengendara sepeda. Jalan raya layaknya rimba pertarungan, layaknya zona pertempuran. Kalau hanya memiliki ilmu tendangan dan pukulan saja, atau hanya memiliki senapan angin dan ketapel saja, sudah pasti tersingkir dari kancah perjalanan.

Pengalaman naik sepeda  hati was-was, kalau malam nightmare, pernafasan sedikit terganggu, sering marah-marah, jadi berburuk sangka terus pada pengguna jalan lainnya.

..Naik sepeda sudah bukan jamannya lagi..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.