renovasi rumah

sudah lama tidak renovasi rumah. ada sekitar dua tahun. kali ini kami berencana untuk memperbaiki atap depan yang meliputi kaso, reng dan tetek-bengeknya beserta genteng baru.

setelah banyak diskusi dalam pillow talk, akhirnya disepakati akan pakai rangka baja ringan sebagai pengganti kayu yang kami pikir akan dapat memperpanjang masa pakai atap.

setelah perjuangan mencari dan mendapatkan tukang bangunan yang akhirnya kami dapatkan seorang tukang yang benar-benar tipikal tukang bangunan banyak omong.

tidak bermaksud underestimate terhadap profesi tukang bangunan, tapi tukang yang satu ini memang seperti tukang jual obat. khayalannya tingkat tinggi. berkata dengan seakan-akan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan hasil yang sangat baik. alasan pengalaman selama puluhan tahun menjadi senjata pamungkasnya.

kami sudah mahfum dengan tipe manusia seperti ini, berhubung memang sulit mencari tukang, terpaksa hired by us, demi waktu yang sudah mepet. alasan waktu adalah alasan berikutnya yang menjadikan kami kurang selektif dalam memilih tukang.

saat negoisasi, kami terhenyak mendengar penawarannya untuk biaya kerja borongan yang tidak masuk kantong (akal). sempat dua hari berturut-turut kami tawar menawar, sampai dengan istri memutuskan untuk kerja harian. kami lihat tukang itu menerima dengan setengah hati. dan dari sini kami sudah mulai tidak enak hati.

kami tahu bahwa setiap pekerjaan dan pekerja memiliki harkat dan martabatnya masing-masing. kami berusaha untuk menjaga itu. ternyata banyak kali kami dikecewakan oleh sikap dan tingkah laku tukang bangunan ini. senang membual kalau dalam bahasa Indonesia. ujung-ujungnya saya berusaha untuk menjaga jarak agar ada kesan bahwa saya boss dari kerja yang sedang dilakukan bersama ini.

ternyata pilihan istri untuk membayar harian sudah tepat. karena setelah kerja selama kurang lebih dua minggu, kami hanya membayar kurang dari setengah harga borongan yang ditawarkan.

mudah-mudahan pekerjaan ini cepat selesai. kami pusing tidak bisa pergi kemana-mana karena harus menunggui tukang yang kerja. bahkan dengan ditunggui saja masih banyak hasil kerja yang tidak dilaksanakan alias bekerja dengan keinginan sendiri. padahal sebagai tukang, mereka seharusnya bekerja sesuai dengan keinginan kami yang hire mereka.

demikianlah renovasi rumah yang baru 80% pencapaiannya.