amanah

saya baru saja selesai mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) yang diadakan oleh kementerian tempat saya bekerja. lama diklatnya + dua bulan. boleh dibilang kami adalah kelinci percobaan karena ini angkatan pertama dari diklat yang baru saja dibuka. nama diklatnya adalah diklat teknis jabatan pengolah dan yang setingkat. bagi saya mengikuti diklat ini merupakan refreshing karena kami tinggal di asrama dan bersekolah dari pagi hingga sore melupakan sejenak kantor dan segala rutinitasnya.

selain refreshing, banyak manfaat yang bisa dipetik dari penyelenggaraan diklat ini. materi-materi yang disajikan sangat-sangat mengena sekali bagi kami aparatur negara. di diklat kami dikenalkan dan dicerahkan dengan materi pelayanan publik, percepatan pemberantasan korupsi, pelayanan prima, reformasi birokrasi dan lain-lain sebagainya. secara kasat mata kami sangat mengerti dengan materi yang diajarkan, hingga saya tersadarkan akan tampilan semu kami semua berkaitan dengan materi yang kami terima.

di buku kenangan saya pribadi menuliskan pesan : “biasakan yang benar, bukan hanya membenarkan yang biasa”

pesan itu saya dapat dari jaringan socmed juga yang membuat saya ingin mencerahkan teman-teman agar berbuat sesuatu yang benar dari pada hanya “biasanya begini… biasanya begitu….”

di akhir diklat saya tersadarkan bahwa semua materi yang kami dapat ternyata hanya berfungsi sebagai pengetahuan saja. bukan sesuatu yang harus dijalani. semua kembali pada kebiasaan bukan pada hal yang benar. apakah ini hanya perasaan saya saja atau harus diceritakan kronologisnya …

kami akan tutup hari rabu. satu hari sebelumnya, selasa pagi di kelas, bendahara mengumumkan bahwa uang kas tersisa tujuh ratus ribu rupiah. tak lama seorang teman menyampaikan bahwa perlu bayar office boy atas bantuan mereka selama ini. akhirnya dibayarkan seratus ribu rupiah, tersisa enam ratus ribu rupiah. sempat terjadi perdebatan untuk memanfaatkan uang tersebut. saya salah satu yang mengusulkan uang dibagi saja dengan rincian satu orang dua puluh ribu rupiah karena kami semua berjumlah tiga puluh orang. namun seorang teman dengan retorika dan semangat orasi layaknya bung karno berpidato, mengusulkan agar uang tersebut digunakan untuk kebersamaan dengan acara nanti malam berangkat bersama-sama ke tukang bakso dan makan bakso bersama pada pukul tujuh malam. masuk akal. secara aklamasi usulan tersebut segera mendapat sambutan positif.

tak lama kemudian dapat kabar bahwa makan siang dan malam ditiadakan, diganti dengan uang sebesar sepuluh ribu rupiah dengan rincian pagi lima ribu rupiah, malam lima ribu rupiah. entah siapa yang menunjuk, salah satu dari kami mengambil alih untuk mengurus uang tersebut yaitu sepuluh ribu rupiah dikalikan tiga puluh orang sama dengan tiga ratus ribu rupiah.

siang hari kami mendapat makan nasi padang. saya pikir dari uang yang sepuluh ribu rupiah.

malam harinya tidak ada kebersamaan. kami yang hanya bertiga puluh orang ternyata telah memiliki kelompok-kelompok dan setiap orang lebih mementingkan kelompokknya dibanding kebersamaan yang tadi pagi dielu-elukan di dalam kelas. saya sedikit tersadar.

keesokan harinya menjelang upacara penutupan diklat, kami berkumpul di ruang kelas dan saya sempat berkata dengan nada sedikit keras mengenai penggunaan uang enam ratus ribu rupiah dan mendapat penjelasan bahwa uang tersebut telah dibelikan makan siang kemarin yaitu nasi padang. saya bingung, ini atas inisiatif siapa. uang tersebut sudah dikomitmen bersama untuk kebersamaan pada malam hari. dan saya sadar bahwa pemegang uang tersebut bukanlah orang yang amanah. dan yang lebih mengagetkan lagi teman-teman yang lain tidak mempermasalahkan hal tersebut, walau pada dasarnya mereka membenarkan saya tapi bagi mereka hal ini tidak masalah. mungkin karena uang yang hanya berjumlah dua puluh ribu rupiah tersebut maka tidak ada satupun yang protes.

teman-teman telah membenarkan yang biasa. padahal itu tidak benar. coba bayangkan, uang yang berjumlah dua puluh ribu rupiah dikali tiga puluh orang saja masih disalahgunakan pemakaiannya. bagaimana jika mengelola uang rakyat yang bermilyar rupiah??

saya tersentak dengan mind set dan culture set yang telah dicoba untuk dicerahkan oleh para widyaiswara selama dua bulan diklat ternyata tidak berbekas. kami tetap manusia-manusia dengan karakter dan pemikiran sebelumnya yaitu bermental korupsi dan apatis.

berlanjut dengan uang sepuluh ribu rupiah perorang. gara-gara protes keras saya, pemegang uang menjadi bingung. ada beberapa orang yang keukeuh bahwa uang tersebut adalah uang kebersamaan. dan saya tetap pada pertanyaan “uang itu uang siapa?”

kesimpulan saya adalah perlu yang namanya potong beberapa generasi di tubuh aparatur negara agar mind set dan culture set tersegarkan dan reformasi birokrasi serta percepatan pemberantasan korupsi segera terwujud. dan sepertinya generasi saya termasuk yang dipotong itu. dilema

berlanjut setelah seminggu ditutup tiba-tiba dapat kiriman pulsa sepuluh ribu rupiah dan tak lama sms masuk yang menyatakan bahwa itu uang makan yang dia bingung mau diapakan.

sekali lagi amanah

jika selama ini mengelola uang tanpa ada pertanggungjawabannya, maka ketika saya berteriak mereka jadi bingung sendiri walaupun tetap keukeuh dengan kebiasaan-kebiasaan lamanya.

saya juga termasuk terlambat masuk diklat. ketika diklat masuk minggu ketiga saya baru bergabung. oleh karena itu saya tidak faham pengelolaan uang oleh bendahara kecuali mengikuti saja alur yang sudah ada. padahal setelah saya teliti lagi banyak hal-hal yang perlu dipertanyakan dan sepertinya bendahara perlu disumpah pocong biar bendahara sebagai pemegang amanah dapat membuktikan bahwa uang yang dipegangnya sesuai dengan amanahnya.

demikianlah sekilas amanah.