di Brunei #11

Selasa, 21 Agustus 2012. Hari kedua lebaran. As the schedulle, ABDB (angkatan bersenjata diraja brunei) mengunjungi Istana Sultan untuk open house. Dan kami Include di dalamnya.

Terus terang saja akan ada antiklimaks yang akan saya tuliskan di sini. Tapi kembali pada aturan baku, blog saya tulisan saya. Maaf jika ada yang tidak berkenan.

Jauh sebelum kedatangan saya ke Brunei, saya sudah mengangankan untuk berkunjung kekediaman Sultan Brunei seperti yang ada di tulisan tentang Brunei, bahwa beruntunglah jika berkunjung saat lebaran karena bisa open house di istana dan bertemu Sultan.

Dimulai pukul 04.00 waktu setempat. Di Jakarta pukul 03.00. Kami bangun dan mulai berkemas. Untung mandi pakai air hangat, jadi tidak kedinginan. Sarapan dengan pop mie. Pihak katering tidak datang sesuai perjanjian, maka plan B adalah seduh mie dalam gelas.

Sebelum pukul 05.00 kami sudah berangkat. Berganti bis di dekat surau dengan bis yang lebih besar. Saya segera memanfaatkan waktu dengan shalat Subuh di surau. Kami menunggu pergantian bis selama kurang lebih 20 menit.

Bis besar seukuran bus transjakarta datang. Bergegas kami naik. Keberangkatan ini adalah keberangkatan untuk ke satu titik kumpul berikutnya yaitu mesjid Jame Asr Hassanil Bolkiah. Menunggu lagi hingga lebih satu jam di sana. Kegiatan menunggu adalah foto-foto depan mesjid. Sampai bosan berpose. Mati gaya.

Berangkat lagi. Kali ini bis langsung masuk ke Istana Nurul Iman. Turun bis, menunggu lagi. Kurang lebih satu jam kami menunggu di luar ketika ada panggilan untuk masuk ke dalam dengan tertib. Kali ini saya senang karena kami mendapat prioritas dan kawalan masuk ke dalam. Petugas di sana menahan antrian lainnya dan mempersilahkan kami lewat. Masuk ke dalam kami harus melewat pintu pendeteksi benda logam seperti yang selalu ada di bandara. Saya lihat alarm selalu berbunyi setiap ada yang lewat. Tidak ada satupun yang digeledah. Tentu saja alarm akan selalu berbunyi karena hari itu jadwal ABDB yang datang berkunjung. Seragam ABDB kebanyakan terbuat dari logam, maka sudah pasti alarm terus saja berbunyi ketika kami lewat. Sayapun mengantongi handphone.

Melewati alat pendeteksi logam, kami diberi sticker kecil yang ditempelkan di baju atau lengan yang bisa terlihat oleh orang lain/penjaga.

Masih tetap dalam barisan, kami mulai masuk ke zona pengambilan makanan. Dimulai dari nasi, lauk pauk dan sayuran diakhiri dengan sendok garpu. Meja makannya bercampur dengan pengunjung lain.

Minuman kami ambil setelah meletakkan makanan di meja yang kami dapatkan dengan sedikit susah payah. Berlanjut dengan makanan kecil yang berupa kue-kue dan puding. Suasananya mirip dengan resepsi pernikahan.

Pengumuman dibunyikan tanda kami dipersilahkan masuk. Okay, Sultan sudah bersedia menerima kami. Berbaris lagi dalam satu baris, masuklah kami ke dalam satu hall atau aula. Tempat duduk panjang telah menanti. Kami didudukkan dalam satu barisan. Tempat duduk pria dan wanita dipisahkan di sayap kiri dan sayap kanan. Kiri untuk pria, kanan untuk wanita. pengaturannya adalah kami pria duduk saling berhadapan dengan wanita. Terpisah di tengah aula dengan dekorasi bernuansa hari raya. setengah jam kami duduk.

Panggilan lagi, kami berdiri bersiap menemui Sultan. Lima menit, duduk lagi. Lima menit kemudian kami berdiri lagi dan berjalan keluar aula. Tepat di pintu keluar aula, berdiri menunggu selama kurang lebih 45 menit.

Dipersilahkan jalan tapi berhenti di tangga turun. Jalan lagi dengan sumringah karena ada banyak kameramen dan fotografer yang mengambil gambar.

jReNg … jReNg …

Memasuki Istana sebenarnya.

Dari jauh sudah terlihat barisan Sultan beserta keluarga yang menanti kami the foreigner yang akan bersalaman dengannya.

Teman kami sudah masuk.

Saya berada di kedua paling belakang dalam barisan.

Approaching the Sultan.

Menjelang shake hand, teman berbisik dari belakang “hormat..!”

Saluting him up.

Salaman.