di Brunei #5

Rabu, 15 Agustus 2012. Lelap tidur terbangunkan oleh suara ketukan. Seorang petugas dapur dengan senyum mengatakan “sahur..!”. Alhamdulillah ada yang membangunkan. Makan sahur, tidak lupa saya pesan teh manis panas. Entah mengapa kami selalu disediakan minuman yang dingin. Saya sempat lihat di dapur, batu es berjibun di tempat penyimpanannya. Tidak siang, tidak malam, saya perhatikan mereka selalu menyajikan minuman dingin. Seorang perwira Brunei yang saya temui menyatakan, jika ingin minum atau makan sesuatu tinggal bilang. Pembuktiannya adalah tadi malam menjelang ke kamar, saya pesan milo panas dan benar-benar dibuatkan oleh mereka. Itu sebabnya saya berani request teh manis panas sebagai teman sahur.

Sahur kemudian tidur adalah kesalahan besar. Hampir saja terlewatkan shalat Subuh. Bangun pagi seperti biasa dibangunkan teman. Shalat, mandi dan persiapan lainnya. Baru sadar kemudian setelah berada di kelas bahwa saya lupa shaving. Perintah jelas dari mereka yang mengasuh di sini bahwa kami harus selalu tampil klimis. That’s why kami harus shave our mustache every morning.

Sementara yang lain breakfast, saya masih menyikat sepatu. Sekitar pukul 07.20 saya segera bergabung dengan yang lainnya untuk menunggu dijemput bis yang akan membawa kami ke sekolah.

At the school kami masuk ke dalam halbi hal, sebuah ruang yang di kantor saya biasa disebut sebagai ruang teater karena memiliki bangku yang berundak. Rendah di depan meninggi kebelakang. Tidak lama kami di sana kami diperintahkan pindah entah kemana, karena saya dilarang ikut. Tertinggal di kelas sendirian tanpa ada instruksi harus melakukan apa, membuat saya teralienasi dengan lingkungan sekitar.

Lima belas menit kemudian pintu terkuak. Masuklah siswa yang berasal dari Brunei yang entah sedang mengikuti pendidikan apa, karena saya tidak sempat tanya. Tujuh orang masuk, satu orang keluar lagi. Tak lama yang tadi keluar, masuk lagi dengan membawa kantong plastik yang terlihat berisi buku kecil. Dikeluarkanlah buku-buku tersebut sejumlah kami yang ada dalam kelas. Saya terima buku yang dibagikan ternyata Surat Yasin.

Ngederess atau baca Yasin di sekolah, baru kali ini saya lakukan. Takjub.. ya. Mereka masih berseragam PDU suaranya sahdu membaca yasin hingga selesai. Saya mengikuti saja seperti saat ada selamatan di lingkungan rt.

Sunyi kembali menyapa di ruang teater yang dingin. Sekian menit berlalu, seorang guru memanggil dan mengajak pindah untuk bergabung dengan teman lainnya di ruang teater juga tapi lebih kecil dan terletak di lantai atas.

MOL dan MDS atau mengenal orang lain dan mengenal diri sendiri. Kami didaulat satu persatu ke depan untuk memperkenalkan diri kami masing-masing, dan teman lainnya boleh mengajukan pertanyaan.

Sesion perkenalan selesai, siswa kembali ke mes untuk coffee break dan saya tinggal saja di kelas karena malas naik turun bis. Sempat berbincang dengan pengajar yang ternyata outsourching dari Malaysia. Kami berbicara panjang lebar hingga teman dari mes kembali ke kelas.

first lesson – pelajaran pertama dibuka dengan reading. Kami masih berada dalam satu kelas secara keseluruhan. Tenaga pengajarnya Staf Ramdina. Pelajaran ini selesai kemudian kami divided sesuai warna kartu yang kami dapat. Kartu berwarna biru dinamai kelas Alpha. Sementara yang berwarna hijau mendapat panggilan kelas Bravo. Dan saya tergabung dalam kelas Alpha.

Pelajaran berikutnya adalah writing. Tenaga pengajarnya Staf Raimah. Hanya sampai pukul 12.30 saja untuk kemudian kami kembali ke mes. Dan ketika yang lain lunch di dinning room, seperti biasa saya lunch di Musholla lantai atas.

Tidur sekejap, tergagap dibangunkan, turun lagi ke bawah dengan membawa celana seragam yang kepanjangan. Siang itu kami dijanjikan akan dibawa ke barbershop untuk potong rambut. Selain itu saya juga dijanjikan untuk diperbaiki celana panjangnya karena kepanjangan.

Seperti biasa, tak ada ceritanya kami berjalan kaki. Cukur rambutpun kami naik mobil yang berjarak hanya setengah dari jarak ke sekolah yang cuma tiga menit.

Keberuntungan berpihak pada mereka yang memang tidak ingin dicukur. Barbershop penuh. Banyak siswa sedang dicukur rambutnya. Bukan dicukur sepertinya karena mereka semua botak.
Saya minta diantar ke tukang permak celana. Akhirnya perjalanan ini terselesaikan dengan diperbaikinya celana saya, dan yang lain tidak jadi cukur karena penuh.

Janjinya tomorrow akan kembali. Tapi saya pesimis.

Kembali ke kamar. Sebelum masuk kamar saya mendengar suara berisik tepat di samping kamar kami. Penasaran saya perhatikan seperti musang/tupai. Segera saya ambil kamera untuk ambil gambar. Sekejap saya terpana dengan apa yang saya lihat. Itu adalah kumpulan monyet yang membuat kegaduhan tepat di hutan di samping kamar kami.

Terpana ternyata hutan yang kami lewati kemarin menuju pantai memiliki entitas yang cukup menakutkan. Monyet hutan atau kera liar. Kelak kami berbincang dengan petugas mes, saya mendapat informasi bahwa monyet-monyet itu nakal. Sudah tidak takut lagi dengan keberadaan manusia. Bahkan sering masuk ke mes dan mencuri di dapur.

Dengan ini saya segera mendeklarasikan untuk mengunci pintu dan jendela yang selalu saya buka karena selama ini saya yakin aman. Saya tidak ingin kecerobohan kami dimanfaatkan oleh monyet-monyet itu untuk mengacau di kamar kami.

Sore berjalan seperti biasa. Tak ada lagi jalan-jalan di pantai karena ternyata selain memang tidak diperbolehkan, kami juga takut dengan terkuaknya rahasia penghuni hutan yang selama ini kami pikir kosong.

Berbuka puasa berbarengan dengan teman yang dinner. Sesampai di dinning room, lauk dan nasi baru saja ditambah. Petugas dapurnya mengeluh. Ternyata teman-teman saya itu kalau makan banyak. Dan memang ketika berbincang-bincang dengan saya teman-teman saya itu memanfaatkan sekolah ini untuk perbaikan gizi :mimisan:.

Untunglah kami orang Indonesia tidak seperti itu. Bayangkan saja mereka makan dengan nasi dan lauk yang menggunung. Selain itu mereka nambah yang bukan sekali tapi dua kali. Itu berarti mereka makan tiga piring sekali makan :hammer:.

jadi lapar:mrgreen: