di Brunei #4

Selasa, 14 Agustus 2012. Gara-gara dugem di dunia maya, terlambat bangun sahur. No sahur oke, ngantuks? tidak kereeen!! (Tn. Crabb:episodesekian).

Acara hari ini adalah Opening Ceremony. Sedianya secara jadwal akan dibuka pukul 08.00. Sesuai dengan usulan saya sebelumnya, bahwa bersegeralah kita bangsa Indonesia mematenkan budaya jam karet. karena ternyata Opening Ceremony dilaksanakan sekitar pukul 11.00 pagi. :kagets::tepokjidat:.

Pembukaan dihadiri oleh Athan Indonesia, kolonel Sunaryo. [Terima kasih pak, sudah hadir di sini menyemangati kami]. Foke alias foto keluarga alias foto bersama segera dilakukan. Kebetulan hanya dua orang siswa dari Indonesia diantara sekian banyak siswa dari negara lainnya, perwakilan Indonesia mendapat tempat di barisan depan daripada siswa lain tepat di belakang pejabat pimpinan dan undangan. Siswi wanita hanya enam orang, kami mengapit mereka saat foke tersebut.

Selesai pembukaan kami dibagikan kartu identitas sebagai pengganti passport yang mereka tahan. Dengan resmi saya menyandang pangkat letnan setara dengan letnan satu di Indonesia. (fyi: letnan muda = letnan dua).

Pukul 12…. kami dikembalikan ke mes. Siswa yang tidak berpuasa lunch, saya langsung kembali ke kamar. Persiapan mencuci baju. Sehari sebelumnya kami request mesin cuci pada AO, dan tadi malam mereka menunjukkan mesin cuci yang dapat kami pakai.

Selesai mencuci, saya berusaha tidur. Namun sebelumnya sudah bilang pada roommate bahwa nanti sore saya berencana untuk main ke pantai yang ada tepat di samping mes.

Di tengah lelap, teman membangunkan menagih janji untuk go to the beach. walau tergagap saya segera bangun, wudhu dan shalat Ashar.

The beach – dekat saja sebenarnya. Tepat di bawah mes kami. Berjalan menuju kesana harus menuruni tangga yang kemudian membuntu. Kami tetap mengikuti alur jalan yang masih terlihat walau sudah tertutup semak menghutan. Ya.. antara mes dan pantai harus membelah hutan sepanjang + 50m. Hutan di negara Brunei berada di mana-mana, bahkan di tengah kota terdapat hutan. apalagi di seputaran mes yang kami tempati.

Hutan di antara mes dan pantai adalah hutan yang memanjang dari ujung atas Brunei hingga bawah. Tak terpikirkan oleh saya adanya kehidupan di hutan ini. Yang kemudian pemikiran ini terkoreksi di hari berikutnya.

at the beach. sepi, terdapat tumpukan batu yang sepertinya sengaja dibangun untuk memecah ombak agar tidak terjadi erosi. Teringatkan pantai di Indonesia yang kebanyakan sudah komersial. Di sini pantai memanjang dari ujung ke ujung, sejauh mata memandang. tak ada aktifitas sama sekali (pemikiran yang kembali terkoreksi kemudian).

Saya meninggalkan sendal sebagai penunjuk jalan masuk nanti saat akan kembali. Teman saya mengambil arah ke kiri saya ke kanan. Pemilihan arah kekanan dimaksudkan agar saya tidak perlu berduaan di pantai, karena selain bukan muhrim saya ingin berkesendirian.

Baru beberapa menit menikmati hutan dan laut di pantai membentang, teman menyusul. Sedikit percakapan, saya memutuskan berjalan saja sepanjang pantai. Sebenarnya saya ingin mengucapkan keberatan jika kami berjalan bersama, karena memang saat itu saya sedang ingin sendiri. Tapi saya tidak tega.

Membelah hutan lagi saya sampai di pantai sebelah. Terlihat jejak ban mobil yang masih baru. Seorang pria jogging melewati kami dan hanya say hi. wow ternyata ada juga aktifitas di pantai ini. Sampah di sempadan antara pantai dan hutan makin menguatkan bahwa di sini ada aktifitas yang saya fikir tidak ada.

Akhirnya kami berdua memutuskan untuk kembali ke mes. Dalam perjalanan kembali, saya menemukan sendal yang saya tinggalkan sebagai penunjuk pintu masuk dan terkaget dengan adanya jejak ban mobil/ATV yang terlihat jelas di dekat sendal, padahal ketika kami datang belum ada. Dua puluh menit yang aneh.

Karena mentari masih menunjukkan teriknya, saya memutuskan untuk eksplorasi mengelilingi mes sendirian. Walau puasa, tapi karena tidak ada kegiatan lain yang harus dilakukan, maka ngabuburit adalah pilihan terdekat. Memutari mes yang dipenuhi dengan hutan-hutan yang sambung menyambung dengah hutan sepanjang pantai, sendirian. what a/an ….. (fill in the blank with your feeling)

Menjelang Maghrib, saya bersiap memakai pakaian yang diperbolehkan untuk memasuki dinning room yaitu baju berkerah, celana bahan dan bersepatu. Memasuki dinning room, petugas dapur mendatangi saya dan mengatakan bahwa makanan sudah habis dan mempersilahkan saya untuk makan di dapur bersama dengan perwira dari Brunei yang juga sunkay atau berbuka puasa.

Selesai makan, kami dikumpulkan oleh AO dan briefing.

Selesai briefing, saya kembali ke kamar dan menulis jurnal.

Selesai menulis jurnal, saya turun ke common room untuk surfing again.

Selesai surfing, tidur ……….. good night everyone :kiss: