di Brunei #2

Pukul 17 lewat sekian, terjejak kaki di Brunei. lorong demi lorong kembali kami jalani ketika tiba di bawah tangga menuju booth imigrasi, seorang pria dengan ramah menyapa nama saya. Alhamdullillah … kami pikir inilah penjemput kami. orang itu bernama Eko, asli orang Indonesia. Dia meminta passport kami dan meminta menunggu. Tidak butuh waktu lama urusan keimigrasian telah selesai berlanjut ambil bagasi. lima menit juga langsung selesai dan bersegeralah kami jalan keluar bandara.

‘takjub’ itu yang saya rasakan pertama kali ketika keluar bandara dan berjalan tanpa halangan menyeberangi jalan. Mobil-mobil yang sedang berjalan langsung berhenti ketika kami tiba di pinggir jalan untuk menyeberang.

Bersama rombongan penjemput kami bermobil menuju suatu tempat yang ternyata kediaman Athan Indonesia di sekitar Gadong. Lancar saja perjalanan tak ada macet.

Pesan yang jelas saya ingat dari pimpinan kami sebelum kami berangkat adalah ‘datangi rumah Athan’. Ternyata langsung terpenuhi tanpa kami bersusah payah mencari. Alhamdulillah.

Kami disuguhi dengan keramahtamahan khas Indonesia. Berbuka bersama keluarga Athan Indonesia di Brunei Darussalam. Sungguh suatu pengalaman yang sangat membuat kami bersukur.

Sekitar pukul 08…. datang tamu yang sepertinya mereka lega mendengar ketibaan kami…. Saya senang ada yang terlihat antusias atas kedatangan kami di sana. Namun berapa saat setelah terjadi percakapan, terkuaklah satu kenyataan.

Sebenarnya kami baru saja ‘diculik’. Seharusnya penjemput kami adalah pihak sekolah yang barusan datang ini. Mereka sibuk dan bingung mencari kami. Padahal jiwa dan keselamatan kami selama di Brunei ini adalah tanggung jawab mereka.

Dan memang sudah diatur oleh Allah SWT. Kami dua manusia kecil yang lemah tak berdaya memiliki orang-orang yang berlomba-lomba melindungi kami. Terima kasih ya Allah…..

Pihak sekolah bermaksud membawa kami ‘pulang’ ke tempat yang seharusnya. Pelan dan santai saja Athan kami berkata “tinggalkan saja mereka berdua, nanti diantar”.

Athan berkenan menerima kami di kediamannya hingga kurang lebih pukul 09… Kami diantar kembali ke suatu tempat yang kemudian kami ketahui adalah mes, tempat kami akan berada selama di Brunei.

Penanjong Gareson

Berlokasi di Tutong. jaraknya tidak terlalu jauh dari Gadong. tapi dengan bermobil. Fyi : jika di Indonesia, Kopassus memiliki motto bagi para prajuritnya yaitu ‘lima langkah .. lari’ maka di sinipun ada motto yang tidak tertulis yaitu ‘lima langkah bermobil’. Tidak ada orang jalan kaki di sini, semua bermobil.

nama mes kami adalah ‘Mes Pegawai Gareson’. Tinggal kemudian bersama kami di sana adalah teman-teman kelas yang berasal dari negara-negara Asean antara lain Kamboja, Vietnam dan laos. mereka masing-masing mendapat satu orang satu kamar, kami satu kamar berdua. Alhamdulillah …..

Suasana mes lumayan menakutkan, terutama bagi saya. berbatasan dengan laut, dikelilingi hutan. Dan sepertinya mes ini berada paling ujung dari kompleks Penanjong Gareson ini.

itu sebabnya saya bersyukur kami tidak ditempatkan masing-masing satu kamar namun berdua satu kamar.