di Brunei #1

baru dapat wifi gratisan.

Bukan yang pertama kali saya menjejakkan kaki di tanah borneo. tapi ini adalah jejak pertama saya di negara Brunei. Negara kecil di utara pulau Kalimantan atau Borneo. Sebagai catatan perjalanan, saya akan membuat tulisan ini dalam bentuk jurnal.

Minggu, 12 Agustus 2012. pukul 07.00 kami terdiri dari saya beserta anak dan istri beranjak dari rumah di Parung – Bogor menuju Bandara Soekarno Hatta – Cengkareng. Moda angkutan pertama adalah kendaraan umum yang biasa disebut angkot tujuan stasiun Bojong Gede. Dari stasiun kami menumpang kereta commuter line dan turun di stasiun Gambir. Pukul 08.40 bis damri gantian membawa kami langsung menuju bandara Soekarno Hatta – Cengkareng. tidak sampai satu jam kami sampai.

Menunggu waktu check in, kami sedikit bernarsis ria. tentu saja ini bukan yang pertama kali bagi saya berada di bandara. Tapi dari pada kami saling bersedih karena harus berpisah sementara, kami isi selang waktu dengan foto-foto. Pukul 12.50 papan penunjuk menampilkan penerbangan saya. akhirnya kami berpisah. saya masuk ke dalam untuk boarding pass. Istri dan anak hanya bisa melambaikan tangan saja melepas kepergian saya. ‘Terima kasih ya sayang sudah mengantar’.
Masuk kedalam, koper beserta tas gendong dicek dengan alat x-ray yang sudah tersedia. cukup merepotkan. segera ke perwakilan maskapai Royal Brunei untuk boarding pass. ketika koper ditimbang, ternyata hanya 10 kg saja. padahal yang diperbolehkan adalah 20 kg. Dan kami diharuskan membayar tax bandara sebesar Rp. 150.000,-. Teman saya yang kemudian saya temui saat boarding pass membawa koper seberat 21 kg. lebih 1 kg dan tidak ditarik pembayaran atas kelebihannya.

Masuk imigrasi mudah saja tidak perlu antri seperti yang lain karena hanya beberapa orang saja yang menggunakan passport diplomatik berwarna biru. Shalat Dzuhur di Musholla yang tersedia kemudian kami bersegera masuk lagi ke jalur yang telah ditentukan. ternyata ada pemeriksaan barang bawaan lagi. kali ini saya tanya pada mereka “akan ada lagikah pemeriksaan seperti ini berikutnya?”. Alhamdulillah sudah tidak ada lagi. terus terang saya tidak nyaman dengan pemeriksaan tersebut, karena harus melepas tas pinggang yang dikait ke celana. saya lihat semua orang terutama pria harus melepas ikat pinggang dan celananya melorot. sungguh merepotkan.

Kembali menapaki lorong yang kali ini membawa kami tepat di sebelah pesawat yang sedang bongkar muat penumpang. Seharusnya ini penantian terakhir yang menegangkan sekaligus menyenangkan. hati deg-deg plass melihat lalu lalang pesawat di landasan. Seketika penantian ini terkacaukan dengan pengumuman penundaan waktu keberangkatan. ‘tetap semangat’.

Tepat pukul 14.15 molor 25 menit dari yang seharusnya, kami dipersilahkan naik. Masuk lorong goa persegi empat, kami langsung masuk pesawat. Di pintu masuk sempat ambil tabloid yang disediakan. Dari tiga tabloid, saya ambil satu yang sekilas tertulis borneo. Ternyata berbahasa Inggris. cape dehhh.

Royal Brunei. Satu-satunya maskapai yang ada di Brunei Darussalam. Sebuah monopoli dalam dunia penerbangan. Pramugarinya pria. Kurang seru.