Jurnal komuter : IT gawat darurat bersama wanita malam dan narsis

+- chapter one -> IT

‘Uang mudah diraih, ganteng tak dapat ditolak”, demikian kiasan yang menjadi angan-angan setiap insan di belahan bumi manapun juga. Mengingat hal seperti itu, komuter tak bisa berkutik/menolak ketika diberi surat perintah untuk mengikuti lomba pembuatan portal. Sudah menjadi rahasia umum di lembaga tempat komuter bernaung bahwa setiap ada perlombaan yang tidak terlihat jelas secara fisik, seperti sepak bola atau yang lainnya, maka perlombaan-perlombaan yang diselenggarakan cenderung sandiwara belaka. Hanya sebagai ajang tali kasih dari pimpinan kepada bawahan, melalui pemenangan peserta lomba yang dianggap telah berjasa padanya. Jika lomba sepak bola tidak bisa ditentukan siapa pemenangnya sebelum lomba berakhir, maka lomba pembuatan portal atau semua jenis lomba yang berbau IT sudah dapat diprediksi siapa yang akan menjadi juaranya. Bukan karena hasilnya bagus atau berkualitas, namun sebagai ajang tali kasih, pimpinan akan memberikan sesuatu kepada seseorang sebagai balas jasa dengan cara dimenangkan saat berlomba. Dan hal ini tidak bisa dikritik atau dipertanyakan karena sebagai bawahan, komuter beserta kurcaci-kurcaci lainnya harus bersikap loyal. Diikutkan lomba hanya sebatas “ngramein doang”. Tidak usah memikirkan bagaimana agar menang. Yang penting ikut, kualitas hasil lomba nomor sekian. Sukur-sukur bisa nyangkut juara ke 3 atau harapan 1. Lumayan…… *menghayal

+- chapter two -> gawat darurat

Hari ini Rabu, 10 Februari 2010 sedianya final lomba pembuatan portal. Setiap tim memaparkan portal yang telah dibuat. Jauh hari sebelumnya, komuter bersama teman satu tim telah merencanakan/diwajibkan untuk hadir. Namun apa daya Rabu pagi sekitar pukul 1.30, komuter terdampar di ruang gawat darurat rumah sakit Gatot Soebroto. Abang aji semalaman susah tidur, karena dadanya sesak dan batuk-batuk. Komuter, yang selama ini dikenal sebagai pria gagah perkasa
Melankolis, memutuskan membawanya ke rumah sakit. Jadilah rabu kelabu itu, komuter sekeluarga berada di rumah sakit seharian, sehingga tidak bisa ikut paparan pembuatan portal yang sedang dilombakan. (i’m saved)

+- chapter three -> wanita malam

Rahasia umum lainnya adalah kehidupan malam di sekitaran segitiga senen. Setelah sampai di ruang gawat darurat, komuter bergegas ke luar untuk membeli pulsa. Pulsa sangat penting karena komuter harus menghubungi banyak orang mengenai keberadaan komuter saat itu. Di sebelah gerbang rumah sakit ada satu konter yang buka . pas komuter ke sana, ada tiga orang yang sedang berdiri di depan konter. Tidak jelas kegiatannya apakah sedang transaksi beli pulsa atau apa…. komuter berusaha tidak peduli dan langsung nimbrung untuk beli pulsa. Sebenarnya di hati komuter timbul keragu-raguan untuk berada di lingkaran konter itu, namun telepon singkat dari mamie yang sedang menjaga abang aji di ruang gawat darurat dan meminta untuk bersegera, membuat komuter nekat. Di lingkaran itulah komuter merasa sedikit sesak nafas, karena dari obrolan dan tingkah mereka, sudah tidak disangsikan lagi. Merekalah yang selama ini membuat kehidupan malam panas bergelora, penuh rintih desah. Aagghhhhh…hhhhh.. dan yang membuat komuter tidak tahan lagi, serta memicu adrenalin untuk cepat-cepat menuntaskan misi penting ini adalah kebulan asap dari mulut mereka yang bagai lokomotif. (ikutan sesak nafas kaya’ abang aji)

+- chapter three -> narsis

Masuk gawat darurat, Sesuatu yang mencemaskan. Komuter seperti biasa menghadapi situasi itu langsung sakit perut. Tipikal stress sehari-hari. Dengan kombinasi yang mematikan; 1. masuknya abang aji ke gawat darurat, 2. Terancam tidak bisa hadir dalam paparan portal, 3. Terkaget-kaget dengan kehidupan malam sepotong metropolitan, komuter menghubungi seorang mentor, seorang senior yang selama ini menjadi tambatan bertanya di kala bengong. Beliau adalah pemilik blog berngaran http://cenya95.wordpress.com . sejatinya tahun kemarin beliau juri dalam lomba IT. Tahun ini mencoba peruntungan dengan menjadi peserta. Padahal keikutsertaan beliau karena di lembaga tampatnya bekerja (baru pindah) tidak ada yang peduli dengan lomba ini, sementara setiap lembaga wajib mengirimkan peserta untuk ikut. Jadilah beliau turun pangkat jadi peserta, bersaing dengan tim komuter memperebutkan pepesan kosong gosong melompong. Nasehat sakti yang beliau alamatkan ke komuter adalah, “udeh nyantai aje, ga’ usah mikirin lomba. Pasti menang deh, minimal juara 4 atau harapan 1”. Betul juga, khan pesertanya ada 4 tim, pasti tim komuter menyabet kemenangan dalam lomba ini, minimal juara harapan 1. Cihui…. (menghibur diri) tak lupa bernarsis ria……. CEKIDOT :

Cuma satu photo yang ditampilkan, yang lain menyusul.