jurnal komuter : liku perjalanan

Seiring bertambahnya waktu, kala usia berkurang dengan bertambahnya kerutan di ujung mata terluar kiri dan kanan. Keinginan untuk melanjutkan hidup secara mapan harus segera terwujud, meninggalkan keinginan berkehidupan secara egois tanpa mengurangi kenyamanan bernafas setiap paginya. Ketika air bening putih nan segar membasahi wajah kantuk di pagi hari yang dingin, jiwa petualang segera bangkit memasrahkan diri di hadapan-Nya kemudian bersegera melanglang buana untuk mempertahankan hidup dan menghidupi. Adakah hari ini berhasil menjalani hidup tanpa sedikitpun cela atau celah berperilaku salah ??

Menyalakan tunggangan di luar rumah, berharap suaranya tidak mengganggu tetangga. Kerutinan sebulan sekali mengunjungi servis resmi membuat suara mesin terjaga pelan, walau tak dipungkiri bahkan suara pintu perlintasan kereta api nun jauh di sana dapat terdengar hingga ke telinga para penidur di ujung malam, apatah lagi suara pelan tungggangan ini di lingkungan padat rapat nan damai. Maaf di pagi lembab dingin sepi di balik hangatnya selimut, harus mendengar suara tunggangan tua yang harus menguik menghangatkan dapur pacu agar langkah berjalan dapat lancar menghantar sang kusir mencapai tujuan.

Jalan bukan ramai oleh pelaku kehidupan lain, hanya masih segelintir saja kelebat kuda besi dan kereta beroda empat memapasi tunggangan sedari peranjakan depan rumah hingga persemayaman seharian kuda besi tuk setia menanti sang tuan mengais rejeki demi nafas-nafas mereka tersayang. Sebuta pagi ini bahkan penjaja berita kertas masih bersidekap dalam balutan jaket lusuh mungkin bau disudut-sudut teras istana menanti hantaran cetakan informasi lelaku umat hari sebelumnya.

Aturan tetap aturan, penanda tetap memerah, tunggangan tetap berjalan. Punggawa penegak disiplin tidak berada di tempat. Tak lekang oleh aturan tak lekang oleh waktu budaya instan tetap terjaga sempurna bersemayam dalam dada pengusung garuda Indonesia tercinta. “Bagaimana bisa sampai tujuan jika harus menunggu penanda menghijau”. Demikian pikir mereka. Antri adalah aib. Berhenti menimbulkan keributan. Kedamaian adalah hal utama dalam hidup. Kesalahan berjamaah adalah hal terindah. Bahkan Amie Rais tak berdaya KKN tetap ada tak menggila namun jaya.

Lekuk tubuh terbalut lingeria lusuh berpupur peluh. “kesiangan”, kata mereka. Uang bukan satu-satunya tujuan mengalong setiap malam. Bertemu sesama merupakan kebutuhan. Bersatu kita teguh, itulah kekuatan. Kuat layaknya kodrat sebagai pria lembut layaknya kodrat sebagai (keinginan menjadi) wanita. Menghindar itu yang dilakukan bila bersirobok dengan mereka. Bukan luka najis bernanah, namun waspada.

Embun menguap panas merayap. Satu jam rentang terpakai bersama sang tunggangan. Bukan rossy yang berputar dalam lintasan. Sejauh jarak terpindai, ini jalur terdekat tercepat terlalui setiap pagi rutin lima kali dalam seminggu. Berpuluh tahun terjalani, sampai kapan?