Jurnal komuter : renyahnya martabak keju (diantara apitan paha waria)

Lagi cerita masa lalu. Kali ini cerita sekian puluh tahun yang lalu, saat komuter masih muda belia gagah perkasa.

Ceritanya komuter masih kuliah. Waktu itu kuliah di ABA Borobudur yang ada di Jl. Kalimalang Jakarta Timur. Komuter ambil kelas malam karena harus kerja untuk bertahan hidup di siang hari. Boleh dibilang ‘sambil bekerja minum kuliah’.

Seperti juga mahasiswa yang lain, komuter juga laraklirik cewe walau tidak jelalatan hingga juling tujuh keliling. Kebetulan hidung komuter mencium aroma wangi nan lembut dari dalam ruang kelas tempat biasa komuter datangi setiap hari (kecuali sabtu minggu). Pemilik wangi tersebut seorang gadis cantik berwajah lembut, berwarna putih (kulitnya + gigi), dengan tubuh seksi, kalau tersenyum bikin mata kelilipan, pokoknya kalau sekedar mpok nori mah lewaaaaaaaaaaaaat.

Melalui pendekatan yang intens (maksa-maksa ngancem), akhirnya bisa juga komuter anter-anter doi pulang, walau Cuma sampai setengah jalan. Kalau sampai rumahnya, jauuuuhhhhh di Pinang Ranti Pondok Gede, padahal komuter harus pulang ke Tangerang.

Tersebutlah malam, di mana komuter pulang kuliah sambil mengantarnya + pukul 09.30. hanya sempat bisa mengantar sampai terminal Cililitan. Waktu itu belum ada PGC tapi masih terminal. Sampai Cililitan, turun angkot, doi langsung minta dibelikan martabak keju, yang pada saat itu masih menjadi barang mewah bagi komuter. Karena jangankan buat beli martabak, buat makan aja susah (tapi udah berani ngelirik cewe). Dia berdiri di samping tukang martabak dengan wajah ngambek…………

Sebagai lelaki perkasa, komuter merasa malu kalau tidak mengabulkan permintaannya. Turunlah titah dari sang komuter kepada abdi dalem pembuat martabak “martabak kejunya satu !”. Tanpa banyak cakap, bak.. bik.. bugg.. jder.. jadilah martabak impian yang disemayamkan dalam kotak karton bertuliskan selamat menempuh hidup baru menikmati. Komuter langsung bayar dengan kontan harga martabak yang Cuma 4.000 perak tersebut.

.

Senyum manis gadisku mengembang, hatiku pun riang, terbang melayang ke awang-awang girang.

Begitu terima martabak doi langsung masuk ke sebuah angkot yang sepertinya si sopir sudah mengincar-incar, karena kelihatan matanya nanar, berbinar-binar.. moga tidak buat onar.

Angkot jalan, komuter melambaikan tangan dengan mesra, wajah sumringah bungah…

Ketika angkot sudah tidak terlihat lagi, dada komuter yang tadinya tegap meloyo, muka yang senang melongo, mengingat duit untuk pulang ke tangerang hanya tersisa 500 perak……..

Bayangkan

Cililitan – perum 2 tangerang, Cuma punya uang 500 perak. Padahal jam menunjukkan pukul 10.30 malam.

Itinery :

  • jalan kaki sampai cawang uki.
  • Lanjut naik bis, dengan kelihaian komuter yang seperti belut. Selamat tidak tertagih oleh kondektur yang celingak-celinguk merasa ada yang belum bayar tapi siapa…. (knek bingung).
  • Citraland grogol, naik angkot (mobil elf) melalui daan mogot. Baru juga duduk mata sudah kriyap kreyep tidak karuan, kemudian lep bablasss lelap…

Di sinilah petualangan dimulai………. Saat tidur tangan komuter berada di samping. Kriyap kriyep lagi mendusin alias terbangun karena ada sesuatu, komuter sedikit membuka mata……. Pemandangan yang indah nan mengerikan. melirik ke kanan, sepasang kaki putih mulus hingga hampir mencapai pangkal paha terlihat dengan jelas di keremangan lampu angkot. Tangan kanan komuter terhimpit oleh paha ituh. Melirik ke kiri pemandangan yang sama membuat celana komuter segera mengecil minta dipermak agar muat dipakai malam itu juga.

OMG.. apa ini ??

Wangi ini, mengingatkan komuter pada tubuh cantik ayam kampus yang sering komuter temui saat pergi ke kantin untuk nongkrong bersama teman-teman (ga’ makan).

Setelah puas menikmati ketertundukkan komuter yang menghasilkan olah fikir fantasi liar tak terkendali, komuter memberanikan diri untuk menegakkan kepala, mencoba memastikan apa yang tengah terjadi. Dengan tangan terhimpit tak tergerak, komuter menengadah memandang tubuh gadis cantik yang ternyata ivan gunawan yang tengah terdiam manis dan melirik komuter dengan senyum seringai menggetarkan jiwa..

Sumpah kalaupun itu bukan ivan gunawan pria macho gemulai yang sering muncul di TV lalu siapa lagi ??

.

Tertengok terpatah-patah komuter memalingkan wajah ke arah kiri… SAMA

Gadis macho manis di sebelah kiri komuter segera menebar pesonanya dengan renyah tertawa manja menyorongkan wajah ke arah komuter yang pongah tak berdaya.

PERTOLONGAN itupun datang

Walau sempat marah karena harusnya bayar 700 perak, komuter hanya bayar 500. Kondektur angkot tersebut adalah dewa penyelamat…………………..

Berjalan kaki sekian ratus kilometer dari Tangerang kota hingga perum 2 Tangerang. Tidak masalah, semangat komuter tengah menyala. Dengan tekad membaja komuter menguatkan hati berusaha untuk selalu terjaga mengingatkan tubuh ini bersegera mandi junub sesampai di rumah………

.

n.b. setelah sekian tahun, komuter baru menyadari ke dua gadis bertubuh tinggi besar gagah gemulai yang pernah menghimpit komuter dengan kilau paha indahnya ternyata menggunakan stoking putih, yang kalau pada malam hari menampakkan tuahnya membuat pemakainya serasa memiliki tungkai indah nan renyah…….

.

.

Sumber gambar : klik aja gambarnya langsung