Jurnal komuter : naik sepeda….. sudah bukan jamannya lagi

Di usia komuter yang terbilang dewasa (usianya saja), komuter perlu untuk lebih mengaktifkan penggunaan organ-organ tubuh agar tetap fit hingga memasuki usia senja nanti. Layaknya pria paro baya lainnya, komuter melakukan aktifitas keseharian dengan rutinitas: bangun pagi, berangkat kerja, bekerja, pulang kerja, nonton tivi, tidur. Nyaris tanpa ada aktifitas olah tubuh (raga).

Sempat terfikir untuk berangkat dan pulang kerja menggunakan sepeda seperti yang sedang happening akhir-akhir ini yaitu bike to work. Karena belum tentu bisa olah tubuh (raga) dengan alasan waktu yang mefet (padahal malas), jadi sekalian berangkat kerja sekalian olah tubuh (raga).

Kebetulan di rumah ada sepeda di belakang milik mbah kung. Kondisinya mengenaskan sekali, mbah kung bilang sepeda itu sudah dimiliki sejak sekitar tahun 60-an. Berarti usianya sangat jauh dengan komuter (tua-an dia). Saat ditemukan sepeda tersebut terkubur setengahnya, hingga perlu sedikit digali. Boleh dibilang sepeda ini bangkit dari kubur.

Dengan semangat perubahan, komuter memperbaiki sepeda sedikit demi sedikit hingga menghabiskan uang lebih dari atau sama dengan setengah jeti. Sebelum dioperasikan sebagai kendaraan berangkat – pulang kerja, komuter gunakan dulu setiap sore untuk membawa abang aji berkeliling perkampungan kemayoran sampai pelosok sunter, galur, cempaka putih dan sekitarnya.

Ternyata….

Naik sepeda tak sesehat yang komuter bayangkan. Bahkan boleh dibilang mudaratnya lebih banyak dibanding manfaatnya (pengalaman pribadi, yang lain aaaau….)

– Polusi di sepanjang jalan di pelosok ibukota tercinta Jakarta raya.

– populasi kendaraan bermotor yang memenuhi semua ruas jalan di manapun anda berada.

– mental para pengendara.  paling parah

Saat mengayuh sepeda, ternyata cukup menguras energi. Walau melelahkan namun menyegarkan, tetapi tarikan nafas yang lebih dalam dan lebih panjang menjadikan debu, asap kendaraan bermotor dll yang biasa disebut polusi udara, dengan leluasa masuk ke dalam rongga pernafasan hingga menjelajahi paru-paru, jantung, berkeliling di aliran darah komuter dari ujung kepala hingga ujung kaki (seperti setan saja).

Setelah mengalami hal di atas komuter segera cari strategi untuk mencari jalan alternatif agar tidak bertemu dengan polusi yang berasal dari kendaraan bermotor. Dipilihlah jalan di perkampungan padat penduduk agar tidak terkena lagi polusi.

Berhasilkah ??

Tidak juga. Setiap pelosok jalan walaupun di gang buntu sekalipun pasti terdapat kendaraan bermotor. Terutama roda dua.

Dan yang paling menakutkan dari berkendara sepeda adalah……., menjadi warga negara kelas terrendah yang pernah ada di muka bumi ini.

Rata-rata pengendara kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat bahkan yang lebih banyak lagi rodanya, semua saling serobot, saling sikut. Pasti terlihat siapa yang kalah. Pengendara sepeda. Jalan raya layaknya rimba pertarungan, layaknya zona pertempuran. Kalau hanya memiliki ilmu tendangan dan pukulan saja, atau hanya memiliki senapan angin dan ketapel saja, sudah pasti tersingkir dari kancah perjalanan.

Pengalaman naik sepeda  hati was-was, kalau malam nightmare, pernafasan sedikit terganggu, sering marah-marah, jadi berburuk sangka terus pada pengguna jalan lainnya.

..Naik sepeda sudah bukan jamannya lagi..