Jurnal komuter : pengendara sang sosialita,

Jurnal perjalanan kali ini adalah hotel Nikko di Jl. M.H. Tamrin Jakarta Pusat. Memenuhi undangan dari Duta Besar Jepang dalam rangka resepsi perayaan Self Defense Japan Force Day atau kalau tidak salah merayakan hari jadi pasukan bela diri Jepang seperti HUT TNI tiap tanggal 5 Oktober. Tidak seperti HUT TNI yang dirayakan dengan upacara di tengah lapangan panas terik dan lama tanpa belas kasihan, perayaan pasukan bela diri Jepang seperti layaknya resepsi pernikahan tapi tanpa pengantin. Bahkan di awal acara atau saat dimulainya acara, sambutan yang diberi cukup singkat, hangat dan lucu. Mungkin Indonesia butuh pembaruan atau reformasi dalam hal merayakan hari ulang tahunnya. Minimal tidak berpanas-panas ria di lapangan.

Mari mulai ….. berangkat dari kantor sekitar pukul 17.30 menembus kemacetan lalu lintas di seantero penjuru Jakarta (lebay mode: on) tidak sampai satu jam berhasil mencapai tujuan. Thanx God.

Setelah parkir, langsung menuju TKP. Dalam perjalanan sempat bertemu mantan siswa yang ternyata juga diundang, lumayan akan ada teman ngobrol untuk nanti di dalam.

Seperti juga undangan pernikahan, di lorong menuju pintu masuk, kami sudah ditunggu oleh jejeran pagar ayu yang menyediakan buku tamu untuk kami isi dan mengambil undangan yang telah kami terima sebagai pembuktian bahwa benar kami undangan bukan penyusup yang ingin makan enak dan gratis. Tapi kok tidak dapat souvenir sih ??

Beranjak ke ujung lorong satunya lagi, tibalah kami di pintu masuk. Di sanapun kami sudah ditunggu oleh tuan rumah yang berdiri berjajar menyambut, setelah bersalaman dari ujung ke ujung, tibalah kami di dalam dengan selamat ……

Melewati pintu, disambut gadis-gadis membawa baki berisi minuman. Setelah ditawari komuter memerhatikan semuanya bersoda bahkan ada beer. ” ada yang lain?” Tanya komuter.

“ada, orenjus” gadis itu menjawab.

“mau dunkz!” kata komuter.

“tunggu ya” gadis itu tersenyum dan pergi.

Tak lama kemudian gadis itu datang lagi membawa pesanan. ternyata orenjus tak semanis gadis yang memberikannya, tapi daripada tidak ada…..

Karena datang tepat waktu, maka saat itu juga acara dibuka dengan sambutan yang super singkat namun penuh canda. Dan tibalah sesi yang ditunggu-tunggu,…… menyantap hidangan.

Gerai terdekat adalah soba mie. Mie ini khusus dihidangkan pada musim panas, rasanya dingin seperti baru keluar dari kulkas.

Gerai berikutnya, tempura.

Gerai berikutnya, mix dikit-dikit : nasi goreng, lasagna, sate, lontong, dan ada sekitar 3 jenis makanan lagi dicampur dalam satu piring hingga penuh.

Gerai berikutnya, hidangan penutup. semua yang ada …sikat……

Masih tersisa 2 gerai lagi, namun perut sudah tidak mengijinkan dan sebagaimana layaknya seorang sosialita, komuter harus banyak menyapa dan menjalin percakapan dengan undangan lainnya. Dari sekian banyak undangan, komuter mengenal beberapa orang diantaranya karena pernah menjadi gurunya atau pernah menjadi rekan kerja, setelah say hello dengan mereka, komuter akhirnya harus berhadapan dengan undangan dari Negara lain yang tentu saja bahasa Indonesianya cukup membingungkan. Bersosialisasi dengan para undangan yang pengetahuan bahasa Indonesianya terbata-bata, tentunya berbicarapun tidak dengan bahasa Indonesia, pun tidak dengan bahasa betawi. Bahasa tarzan dikit-dikit………….

Pukul 19.45-an sebelum diusir, komuter bersama rombongan mengundurkan diri dari hadapan khalayak ramai, kembali melintasi karpet merah yang terbentang sepanjang 3 meter dijejeri penghalang agar nyamuk pers tidak mendekat dan hanya dapat mengambil gambar dari jauh saja… sesekali mereka meneriaki memanggil nama agar menengok ke arah mereka saat gambar terekam. Para bodyguard menjaga segala kemungkinan buruk yang terjadi dengan lebar karpet sekitar 2 meter, gambar kami bersama tuan rumah akhirnya berhasil diambil dan dipublikasikan di Koran kompas blog komuter, silahkan nikmati……..

.