IBSN : kerikil-kerikil tajam, …(dalam arti sebenarnya)

kerikil kecil lebih berbahaya dari pada batu besar.

kalimat diatas adalah kata yang tepat untuk meningkatkan kewaspadaan kita terutama para pengguna kendaraan bermotor roda 2 seperti komuter ini.

saat melintas, melihat ada batu besar otomatis pengendara pasti menghindar, kecuali berkendara sambil SMS an atau sengaja menabrak. namun apa yang terjadi ketika ada serakan batu kerikil terutama di tikungan jalan, apakah mudah terlihat ? lebih seringnya tidak terlihat. komuter pernah hampir mengalami kecelakaan saat sedang setengah rebah ala rossi di sebuah tikungan gara-gara kerikil. untung komuter dapat mengatasi keadaan, dengan cara menegakkan kembali kendaraan dan mengendurkan gas.

hal ini membuat komuter berpikir “alangkah berbahayanya kerikil yang berserak di jalan” hingga suatu saat komuter mengambil keputusan untuk memungut atau menyingkirkan kerikil yang berserak saat melaju pelan di atas kendaraan.

ternyata, niat baik saja tidak cukup. banyak kendala yang komuter temui selama berusaha menjalankan niat ini :

1. waktu yang tidak mencukupi, karena komuter harus segera tiba di tempat tujuan.

2. kesibukan arus lalu lintas, karena tidak bisa sembarangan berhenti saat melihat serakkan kerikil.

3. dicurigai orang lain, karena menyingkirkan kerikil bukanlah hal yang lumrah di mata masyarakat.

demikianlah, hingga sekarang jika memungkinkan komuter akan berusaha menyingkirkan apapun itu yang terlihat membahayakan di jalan. walaupun tidak bisa maksimal, namun niat baik pasti direstui sang maha melihat.

bersih-bersih yuks…..