mental pengendara

saya akan mendeskripsikan perilaku yang didasarkan pada mental kita sebagai manusia indonesia dengan contoh kasus yang saya alami sendiri sesuai kronologi.

1. sabtu 16 juni 2007, di jalan P. Antasari jakarta selatan, perempatan pasar cipete, sekitar pukul 07.00 pagi, dari arah blok m menuju arteri. lampu lalulintas menunjukkan warna merah kendaraan berhenti kecuali yang akan belok kiri, karena di trotoar jalan terdapat rambu huruf s di coret, menandakan tidak boleh ada kendaraan yang berhenti. namun ada yang tidak biasa pagi itu, seorang ‘biker’ menghalangi jalan kopaja yang akan belok kiri, sopir kopaja klakson, malah kena marah dari ‘biker’ tersebut, dengan kata-kata “lampu merah, ngga lihat kamu?!!! dengan wajah marah dan terkesan berada pada posisi yang benar, teriak pula terdengar sampai jauh. terus terang kami (biker juga) merasa malu dan risih dengan perilaku ‘biker’ kaga tau aturan tersebut, terus terang juga ‘biker’ tersebut berseragam polisi dengan helm warna putih bertuliskan POLISI yang akan terlihat dari jarak jauh sekalipun. mungkin ini yang disebut oknum. tapi yang pasti perilaku ini juga dilakukan oleh kebanyakan biker lain, seperti contoh  berikut ini.

2. dari arah jatinegara menuju pasar senen di perempatan salemba, jalan padat merayap kebanyakan biker mengambil jalan di sebelah kiri (ada juga yang lewat trotoar), di depan saya seorang biker terlihat jalan tidak stabil dan jarak antara motornya dengan motor di depannya terlihat jauh (jarak 3 mobil sedan), setelah saya perhatikan ternyata biker tersebut sedang berinteraksi di telepon. ini menyusahkan saya karena sebentar-bentar harus ngerem untuk mencegah tidak berbenturan. karena kesal saya tabrak knalpotnya dengan cara tidak ngerem. dia langsung nengok dan berkata ” lagi nelpon” dengan wajah inosen dan terkesan menyalahkan saya yang tidak sabaran, padahal bukannya tidak sabaran tapi dianya ga peduli ama keselamatan orang lain. kalo yang celaka cuma dia aja sih ga apa-apa.

demikian 2 contoh kasus mengenai mental pengendara yang tidak merasa bersalah walaupun berbuat salah, mungkin ini karena sudah menjadi budaya bangsa indonesia kali ya.