komuter

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘tujuh belas agustus’

di Brunei #7

In jurnal on Agustus 19, 2012 at 1:07 pm

Jumat, 17 Agustus 2012. MERDEKA

Pagi kami dijemput oleh supir dari Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Brunei pada pukul 06.00 am. Berita yang kami terima adalah kami akan melaksanakan Upacara Bendera kemerdekaan Republik Indonesia di kedutaan.

Pakaian yang dikenakan adalah batik.

Terus terang ketika masih di Jakarta saya sempat akan membeli atau menjahit jas untuk dibawa dan dipakai di saat-saat khusus seperti ini. Tapi ketika tanya pada beberapa teman yang pernah ke LN, mereka menyatakan bahwa untuk Indonesian people cukup pakai batik. Karena batik adalah pakaian nasional bangsa Indonesia. And I agreed with them. Selain itu ternyata harga jas sangat mahal. Waktu sidang thesis saya sewa lima puluh ribu rupiah perhari. Ketika wisuda saya tidak pakai jas. Langsung saja pakai toga.

Pukul 07.00 upacara dimulai. Tengok kiri kanan, lihat bahwa ada beberapa wanita yang menggunakan batik seragam sekitar lima puluh orang lebih. Saya pikir itu masyarakat Indonesia yang tergabung dalam satu perkumpulan seperti layaknya perantauan. Dari hasil bertanya pada seseorang yang berada di samping saya, akhirnya saya mengerti bahwa mereka itu adalah tki yang bermasalah.

Saya tidak tahu secara detail permasalahan mereka karena setiap tki memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Tapi saya berharap yang terbaik untuk penyelesaian masalah yang mereka hadapi.
dan bukan hanya tki wanita itu saja, ada juga tki pria di samping mereka tapi tidak berbatik. Hanya pakaian biasa yang menurut kebiasaan saya tidak tepat dipakai untuk mengikuti sebuah upacara bendera. Apalagi ini upacara kenegaraan. Namun kembali lagi kemungkinannya adalah mereka tercampakkan di sini entah kenapa dan yang tersisa adalah pakaian yang melekat di tubuh seperti yang dipakai sekarang. :nohope:

Selesai upacara, kami beranjak menuju kediaman Atase Pertahanan. Sedianya kami akan bermalam di rumah beliau.

Sempat terlupakan bahwa hari itu adalah hari Jumat. Saatnya shalat Jumat.

Pukul 11.00 waktu setempat, saya persiapan untuk shalat Jumat. Bertanya pada pembantu rumah tangga, katanya bapak biasa berangkat dari rumah pada pukul 12.30. Sempat juga saya tanya mengenai jarak mesjid, katanya “dekat”. Karena bapak sedang di kantor, jadi jika tidak ada teman maka saya akan berangkat sendiri.

Pukul 12.lewat, bapak datang dan mengajak saya untuk bersiap shalat Jumat. Pukul 12.30 kami berangkat menggunakan mobil. Baru saja mobil berbelok di ujung jalan, kami sudah tiba di tujuan. :kagets:

Akhirnya saya mohon ijin pada bapak untuk pulang dari mesjid akan jalan kaki saja. Masuk Mesjid, ambil wudhu. Tempat wudhu terpasang karpet. :matabelo: Shalat diajak masuk ke dalam oleh supir. Benarlah apa yang selama ini saya baca tentang mesjid di Brunei. Semua berAC. Tidak terbayangkan sebelumnya akan sedingin ini. Coba tadi pakai jaket. Tapi memang akan aneh juga kalau pakai jaket, karena yang lain biasa saja. selain ac, juga pakai kipas angin yang terpasang di langit-langit. dinginnya double. :menggigil:

Selesai shalat, duduk-duduk dulu di teras mesjid. Ada beberapa orang yang juga duduk-duduk di teras mesjid, ngariung. sepertinya mereka saling kenal. Salah satu dari mereka berteriak pelan kepada yang lain “MERDEKA” dan membicarakan tentang tujuhbelasan.

Segera saya buka percakapan dengan pertanyaan klasik “dari Indonesia?”.

Mereka mengiyakan dan sepertinya kami bisa mulai dengan percakapan yang lebih seru, hingga saya tersadarkan pada satu kenyataan bahwa bahasa Indonesia mereka payah. Banyak terjadi misunderstanding.

Akhirnya saya sudahi percakapan tak nyambung itu dengan kata klasik “mari pak, duluan”. :kabur:

Dari sekian banyak orang yang mengaku Indonesia, ketika berbicara malah gagap dan bingung. Saya jadi ikutan bingung.

Tambah bingung lagi ketika dalam perjalanan pulang yang hanya memakan waktu kurang dari tiga menit. Semua orang bermobil cuma saya saja yang berjalan kaki. Ada juga sih yang jalan, tapi rumahnya di samping mesjid atau cuma beda satu gang.

Back to DA’s house digonggong anjing di ujung jalan. Tidak mampu untuk lari. Jalan aja yang cepat. Masuk rumah, masuk kamar, online.

Sore kami kembali ke kedutaan untuk Upacara Penurunan Bendera dan sunkai bersama alias buka puasa bersama di kedutaan.

Upacara dilaksanakan dalam cuaca hujan. Tetap khidmat. Pesertanya lebih banyak lagi karena bertepatan dengan acara sunkai.

Sunkai. Ramai dengan anak-anak. Ramai dengan ibu-ibu. Ramai dengan makanan khas Indonesia.
Sambal. Saya bungkus untuk makan di mes. Makanan Brunei kebanyakan kari dan tidak pedas walau tidak juga manis. Kerinduan saya akan masakan ala Indonesia terobati.
Bungkus sambal, kantongin. :malu:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.