komuter

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘mtb’

buyar

In b2w, sepeda on Juli 23, 2012 at 1:40 pm

per hari ini, selasa 17 juli 2012 saya berusaha untuk menulis lagi. sebenarnya banyak ide, tapi ketiadaan jaringan membuat ide-ide itu berkumpul dan ketika sudah mendapat waktu, malah membeku. freeze.

pagi dimulai dengan b2w. gowes sejauh 20 km dari rumah ke kantor. rute yang dilewati rute terpendek yang didapat dari hasil nyasar-nyasar sebelumnya. rute ini memang enak dilewati ketika matahari telah terbit atau belum terbenam. pemandangannya mantaps bahkan di siang hari yang terik. masih banyak pohon-pohon dan jarang rumah. terhampar sawah-sawah dan sungai kecil. namun lain halnya ketika melewatinya di saat bulan masih tersenyum.

seperti hari ini. pukul 05.00 sudah keluar rumah. tentu saja kondisi masih gelap. karena terbiasa melewati rute terpendek ini, pagi itupun tanpa disadari ambil rute tersebut. baru sadar ketika mulai masuk gang. mau putar balik sudah terlanjur kejauhan. masuk saja terus. sebenarnya bukan tidak mau melewati rute ini ketika fajar belum merekah. tapi dasar penakutlah yang membuat gowes datar ini menggetarkan dengkul.

belokan pertama masih ada rumah. bahkan pintunya terbuka, tanda penghuni sudah beraktifitas. belokan kedua ada musholla. pasti masih ada yang shalat subuh nih. belokan ketiga “krik..krik..krik.. gelap. belokan keempat gelap dan masuk persawahan. tapi nun jauh di ujung sana terlihat sesosok sedang masuk ke sebuah gudang di pinggir sawah. belokan berikutnya di tengah gelap terkagetkan dengan adanya pengendara sepeda lain dari arah berlawanan. sama-sama tidak pakai penerangan. bedanya sepeda saya bercat putih, jadi masih bisa dicermati ketika mendekat. sepeda dia hitam semua. untunglah tidak saling bertabrakan, hanya kaget saja.

sebenarnya panjang jika ingin dituliskan disini tentang horor yang saya alami pagi itu. karena selain di shortcut itu, jalan setelahnya juga ternyata masih gelap dan rimbun. boleh dibilang masih termasuk hutan walau perkebunan. hii………

buyar

janga nanya lagi ya

In bahasa, jurnal, sepeda, sharing on Juni 17, 2012 at 9:23 am

membiasakan pada sabtu untuk gowes keliling kemana saja. mengingat usia sudah tak lagi muda (lebay; biarin).

sabtu 09-06-2012, kurang lebih pukul 06.00, saya beranjak dari rumah untuk gowes memuaskan dahaga. karena satu dan lain hal saya tak bisa b2w, maka sabtu harus dioptimalkan gowes. bingung juga sih untuk menentukan tujuan gowes. selama ini saya berfikir, bahwa gowes itu enak kalau bersama rombongan. okay benar enak, tapi ada beberapa hal yang kemudian menjadi pertimbangan untuk gowes sendiri saja.

untuk gowes dengan rombongan maka harus memiliki jadwal yang disepakati bersama. kemudian saya ketahui dan rasakan bahwa kesepakatan ini sulit sekali saya penuhi. kantor saya libur sabtu minggu. tapi dalam satu bulan saya kena jadwal piket yang biasanya sabtu. jadi terlepaslah satu sabtu. kemudian abang aji sangat faham bahwa sabtu saya libur, maka dia juga sudah jaga-jaga terutama di hari kamis dan jumat, pesan ke saya untuk antar dia ke sekolah di hari sabtu. dan memang abang aji ini memiliki ingatan seperti gajah. tidak ada lupanya. jadilah sabtu ternak teri (anter anak anter istri).

demi mengejar gowes, terkadang saya bolos ternak teri. pura-pura lupa dsb. pagi setelah persiapan. selesai sarapan (wajib) langsung kabur. karena tidak berani bersepakat dengan rombongan, akhirnya saya gowes sendiri. dari pada cari spot gowes yang menyusahkan, saya putuskan gowes ke bekasi, ke rumah kakak. dengan jarak tempuh 46 km dan waktu tempuh dua jam setengah. saya sampai di tempat kakak di bekasi. seperti layaknya gowes, ketika sampai di satu spot, saya langsung makan terus tidur. tak lupa ganti baju dulu, baju gowesnya dicuci.

lagi enak-enak tidur, abang aji sms. marah-marah. memang abang aji sudah punya nomor sendiri tapi hp tidak boleh dibawa-bawa karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. cukup di rumah saja. karena memang salah, saya terima dimarahi abang aji melalui sms.

berbicara tentang sms. abang aji ini paling tidak suka basa basi. selama seminggu kemarin, abang aji ulangan kenaikan kelas. senin sekitar pukul 10.00, saya sms ke abang aji menanyakan tentang ujiannya hari itu. tapi dasar abang aji, selain dijawab dengan jawaban singkat juga dikasih pesan “janga nanya lagi ya”. lho, dikasih hp karena ingin tahu kegiatan dan hal-hal yang kira-kira bisa kami bantu. ini malah tidak mau ditanya. kemudian, di sms tidak mau jawab. hadeuh, jaman sekarang orang tua diatur anak.

Cuma tertawa saja

In b2w, biker, motor, pengendara, sepeda on Mei 16, 2012 at 7:59 am

Bersepeda di siang hari bersama anak semata wayang. Hampir seharian kami berkeliling keluar masuk hutan di sekitar komplek. Walau panas tapi menyenangkan. Cukup menyenangkan karena hampir di setiap tikungan kami berhenti. Dan hampir dari setiap perhentian kami nongkrong di warung.

Berangkat sekitar pukul dua belas siang, setelah shalat dzuhur. Kembali lagi di rumah pukul lima belas ba’da shalat ashar. Pulang balik dibuka dan ditutup dengan shalat. Alhamdulillah perjalanan kami lancar.

Walau pakai sepeda mtb, tapi sepeda saya single speed, alias hanya satu percepatan. Sebelumnya dapat musibah ketika sedang gowes di sekitar rumpin. Anting rear delairure (rd) patah. Ketika itu terpaksa pulang naik angkot. Sekarang anting sudah dipasang setelah pencarian yang cukup lama. Tapi baru sekedar pasang antingnya dan rd saja. Kabel penghubung antara rd dan shifter belum dipasang. Jadilah sepedah mtb single speed.

Untungnya dengkul ini sudah beradaptasi dengan tandjakan, jadi walau bagaimanapun untuk tandjakan di sekitar komplek masih bisa ditolerir. Kecuali satu tandjakan yang gagal digowes karena kebanyakan tertawa.

Bicara tertawa, diakhir perjalanan menjelang masuk gang ke rumah ada seorang ibu mengendarai motor matik membonceng seorang ibu dengan ukuran yang sama dengannya (ndut) dan seorang anak di depan. Jalan dalam kondisi kosong, tapi karena bertegur sapa dengan seseorang di pinggir jalan, ibu itu agak kesulitan mengendalikan motornya. Gundukan selokan di ujung jalan bikin motor matiknya kurang tenaga. Komplikasi yang unik.

Padahal jalan lega dan dalam kondisi kosong, tapi karena sempat menengok ke pinggir jalan untuk bertegur sapa, ditambah motor matiknya loyo melewati gundukan, eh malah sepedah yang disalahkan. Saya cuma tertawa saja. Tapi sempat juga saya ingatkan padanya karena sembarangan menyalahkan sepedah. Saya katakan ” pakai helm kalau naik motor!”. Karena sedang kesal, jawabannya singkat saja “au ah”.

Sekali lagi saya cuma tertawa saja.

[touring] gowes tasik pangandaran

In b2w, jalan, seli, sepeda on Februari 15, 2012 at 2:58 pm

rabu 18 januari 2012, seorang teman gowes dengan tiba-tiba mengundang saya untuk ikut gowes ke kampung halamannya di Tasikmalaya. tentu bukan hal yang mudah untuk mengambil keputusan : apakah akan ikut atau menolak. pertimbangannya adalah karena mendadak, saya tidak ada persiapan. yang harus dipersiapkanpun lumayan berat yaitu persiapan alasan ke istri dan anak agar diijinkan ikut.

tanggal 19-01-2012 malam mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa.

rencana berangkat besok setelah pulang kantor.

dilema

jumat 20-01-2012, sebuah hari yang berat. bagaimana tidak, istri berulang tahun dan saya bukannya menemani malah pergi. saya tahu bahwa saya bukanlah pria dengan tingkat keromantisan yang tinggi. tapi…………..

setelah apel sore di kantor, dengan segera saya bersalin rupa. mandi, shalat kemudian berangkat. tujuan pertama adalah RL pondok indah. karena akan touring sejauh 110 km tasik ~ pangandaran, maka sepeda harus dipersiapkan dengan baik. salah satu persiapan yang harus dilakukan menurut saya adalah servis selayaknya servis rutin. selesai servis beranjak ke terminal lebak bulus. entah mengapa di depan poins square lebak bulus kayuhan ini terhenti oleh bau daun terbakar. sungguh membuat perut ini keroncongan. segera menepi dan memesan nasi bakar lauk ayam.

setengah kenyang setelah mengkonsumsi nasi yang cuma secuil, sepeda saya arahkan masuk terminal lebak bulus. setahu saya masuk peron terminal luar kota harus bayar. tapi alhamdulillah sambil gowes saya masuk terminal tidak dipanggil oleh petugas, hanya orang-orang yang terlihat akan mudik saja yang dipanggil. tidak butuh waktu lama saya segera menemukan bis yang saya cari bis primajasa jurusan tasik.

berangkat pukul 18.00 entah melewati jalan mana, yang pasti saya terbangun ketika kondektur berteriak-teriak “terminal tasik habis”. saya minta diturunkan di pool primajasa saja karena memang sudah berjanji dengan teman untuk bertemu di sana.

sesampai di pool primajasa,sepeda dikeluarkan oleh kondektur dari bagasi kanan bis. ini awal tragedi. kondektur bilang, “ini apaan pak” sambil menunjukkan besi kecil yang hanya sedikit lebih besar dari lidi. tuing….. ternyata baut quick release. “lah murnya mana?” gedubrakan cari cari mur kecil seukuran upil gedean dikit. tidak ketemu. akhirnya sepeda digeletakkan di depan bangku ruang tunggu penumpang.

hati rasanya tidak keruan.

sampai di pool sekitar pukul 00.30, yang artinya pas tengah malam lebih dikit. ditengah galau saya putuskan untuk tidur saja. sekitar pukul tiga terbangun oleh perut yang keroncongan. Alhamdulillah sepeda masih berada di tempatnya. segera saya ke kantin yang ada di situ juga, pesan mie instan. lumayan hangat. tiduran ga’ bisa tidur akhirnya inisiatif charge battery hp. karena charge di tempat orang lalu lalang, maka mata terus saja tertuju ke situ. ga’ bisa tidur. pukul 05. lebih dikit, muncul teman-teman yang akan gowes bareng. lega hati ini. akhirnya sepeda diakalin pakai mur seadanya yang penting bisa jalan, walau was-was. setelah mandi dan shalat di musholla belakang pool kami berangkat menuju rumah teman untuk pinjam mur.

Alhamdulillah di rumah teman dapat sarapan pisang, serabi khas tasik dan teh manis. terpikir untuk makan bubur nantinya ternyata malah tidak sempat. pukul 07.30 kami berangkat menuju titik kumpul yaitu kantor telkom di jalan merdeka tasik. sebelum berangkat briefing terlebih dahulu dan tak lupa foto :

start dimulai kurang lebih pukul 08.00, kemudian entah jalan apa namanya kami mulai gowes. karena awam tentang daerah Tasik ya udah saya ikuti saja mereka yang sudah gowes di depan.

perjalanan ternyata tak sesulit yang selama ini saya bayangkan. hanya dengan mengikuti yang di depan semangat gowes jadi tak pernah kendur. tidak seperti saat gowes sendiri yang kadang-kadang jenuh hingga gowesan menjadi tidak stabil.

etape pertama ditempuh kurang lebih 60 km. lumayan jauh dan selain jalan yang berkelok-kelok terdapat satu tanjakan yang cukup terkenal di kalangan pesepeda Tasik dan sekitarnya yaitu tandjakan tepung kanjut. saya tidak tahu kenapa dinamakan seperti itu, tapi menurut teman saya yang mengerti bahasa sunda nama tepung kanjut berkonotasi cukup ‘nakal’. pitstop kami telkom banjarsari.

setelah pitstop di banjar sari, kami gowes lagi menuju pangandaran. karena sudah beradaptasi dengan cuaca di sana, saya gowes dengan stabil. jika di etape pertama sering disalip, sekarang lumayan bisa nyalip dan nyundul ke front row. entah memang sudah rejekinya, tiba-tiba teman di depan melipir ke warung dan hati saya tergerak untuk ikutan. setelah jajan dan melepas lelah sekitar lima menit, kami beranjak lagi. ternyata teman saya itu sudah menguasai medan alias tahu seluk beluk jalur ini. penghentiannya di warung tadi adala layaknya pijakan orang yang akan melompat, karena setelah warung yang kami singgahi kami berhadapan dengan tandjakan berikutnya yaitu tandjakan mplak. nama daerahnya emplak. tandjakannya lumayan bikin galau. teman saya itu langsung ngacir di tikungan pertama. selain sudah mengetahui medan, pasti dia sering berlatih di sini dan sepeda yang digunakan adalah roadbike. tentu saja saya yang pakai mtb dengan ban besar jadi ketinggalan. tapi tidak masalah. alon-alon asal kelakon. Alhamdulillah, saya khatam hingga finish di telkom pangandaran, tepat saat adzan Ashar berkumandang.

di kantor telkom pangandaran, kami ditampung. akomodasi tersedia. makan minum dan dapat kamar tidur berupa aula.

setelah mandi dan shalat, rencana lihat sunset di pantai barat, tapi cuaca tidak mendukung karena mendung dan sedikit gerimis. sore di pangandaran hanya dihabiskan dengan duduk-duduk santai sambil minum teh bareng yang lain.

malam sehabis shalat maghrib, makan malan kemudian rebahan. tau-tau terbangun pukul 00.00. ternyata ketiduran. tengah malam kedinginan. dalam gelap malam segera pakai kaus lengan panjang, celana panjang, kaus kaki dan sarung tangan. tak lupa handuk ditutupkan ke muka. tak lama kemudian terdengar orang yang melakukan sesuatu dan saya yakin dia pasti mematikan AC. karena kemudian hembusan angin dan suara dari AC menghilang.

teuteup tidur lagi sampai pagi. bangun dini hari selesai shalat, keluarkan lagi sepedah. tujuan : ke pantai pangandaran. ternyata pantai terbagi dua, pantai timur dan pantai barat.

lanjutkan gowesan, ternyata sepeda mengarah ke pantai timur dan memang sekalian hunting sunrise. tapi memang nasib tidak berpihak, ternyata pagi itu sedikit mendung. (mendung kok sedikitsedikit). ya sudah, naik ke dermaganya dorong sepedah dari ujung ke ujung. tak lupa saat ada yang melintas, dimintain tolong untuk memoto.

puas di pantai timur, mampir dulu bubur nasi pakai ayam. minumnya teh manis

kenyang, pindah ke pantai barat. ga’ pake lama langsung aja sergap orang yang lewat untuk dimintain tolong ambil foto.

selesai foto-foto balik lagi ke telkom, ternyata banyak sepeda yang lagi diloading ke mobil. dari sekian mobil, semuanya penuh sepeda. dari pada saya ikutan loading sepedah ke Tasik, lebih baik loading sepedah ke bis langsung pulang ka rumah. setelah dipikir-pikir dengan seksama akhirnya diputuskanlah untuk bersegera pulang. sebelum abang aji dan maminya nelponin lagi nyuruh pulang. malu ahh dibilang kaya’ bang toyib.

ba’da ashar sudah sampai rumah lagi. Alhamdulillah…..

touring bersepeda ke bandung

In b2w, pengendara, seli, sepeda on Juni 7, 2011 at 8:47 am

sepedahan kali ini tidak jauh-jauh, masih di Indonesia bahkan masih di pulau Jawa juga yaitu ke Bandung. awalnya cuma berbalas komen di situs b2w-indonesia, saat itu saya membaca kilas balik perjalanan oom Moch Suparyanto ketika touring ke bandung sendirian. kemudian oom Moch Suparyanto berbaik hati mengirimi saya nomor HP milik oom Theo ‘the ranger’ yang berencana touring ke bandung bersama pasukan ranger. karena memang tidak ada jadwal acara, maka malam kamis di waktu yang mepet, saya mengirimi oom theo SMS tentang keinginan saya gabung dan mencegat mereka dengan gagah berani di ujung gang komplek rumah saya di parung bogor.

berikutnya mari simak gambar untuk cerita touring NEWBIE saya ini, silahkan :

funbike ke curug sawer – bogor

In b2w, jalan, jurnal, seli, sepeda on Mei 10, 2011 at 8:19 am

ngariung pesepeda bogor

In b2w, seli, sepeda on Mei 5, 2011 at 10:21 am

 

gowes rabu pagi

In b2w, biker, jakarta, jalan, seli, sepeda on Mei 4, 2011 at 10:18 am

Sepeda tanpa standar

In biker, sepeda on Maret 9, 2011 at 7:59 am

abang aji selalu meletakkan sepedanya dengan cara digeletakkan begitu saja, padahal sudah dipasang standar agar sepeda bisa diletakkan berdiri. karena jika digeletakkan begitu saja bisa merusak cat sepeda, terlebih lagi makan tempat. mungkin karena teman-temannya juga melakukan hal yang sama maka abang aji dengan yakinnya menggeletakkan begitu saja, walau diberitahu bagaimanapun tetap saja digeletakkan lagi. sudah banyak jurus yang dilakukan agar abang aji mau menggunakan standar sepedanya, tapi tetap saja tidak mempan.

perilaku abang aji ini sepertinya mendapat pembenaran setelah saya membeli sepeda baru bergenre mtb. beberapa minggu yang lalu saya membeli sepeda, dan anehnya tidak ada standarnya. penjualnya bilang memang tidak ada karena sepeda yang saya beli adalah mtb. Apa bedanya sepeda mtb dengan sepeda lainnya?

setelah di rumah, dilihat-lihat ternyata sepeda ini menyediakan bracket untuk standar. jadi jika saya beli standar bisa dipasang di situ. Karena kesibukkan maka standar belum terbeli. sabtu 5 Maret 2011, kebetulan teman-teman dari gowel mengajak jalan ke satu spot yang disebut km0. Kebetulan pula hari itu saya available, maka berangkatlah hari itu bersama rombongan. selama bersama teman-teman saya perhatikan tidak ada satupun dari sepeda mereka yang memakai standar. ada satu yang pakai standar dan menjadi bahan ceng-cengan alias diketawain.

Ini membingungkan. bukannya bagus pakai standar? atau sayanya yang ketinggalan jaman. singkat cerita sampailah kami di lokasi. dan memang begitulah adanya, di sana tersedia bambu yang dibuat layaknya jemuran baju tapi lebih pendek. dan seperti juga jemuran, bambu ini digunakan sebagai standar sepeda dengan cara menggantungkan sepeda tepat di bawah sadelnya. Seperti ini penampakannya :

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.