komuter

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘camping ground’

kemping di taman nasional gede pangrango [teks]

In bahan bakar, jalan, jurnal, motor, pengendara, sharing on Juli 4, 2012 at 12:29 pm

jika posting sebelumnya dalam bentuk gambar, maka kali ini disajikan dalam bentuk teks.

pendahuluan. setelah sekitar dua belas tahun tidak pernah lagi menjejakkan kaki di gunung gede pangrango. hari itu sabtu 30 Juni 2012 dengan sangat nekad saya memutuskan untuk pergi kemping di sana membawa anak dan keponakan. saya sebut ini nekad, karena selain sudah lama tidak naik (hiking), beberapa minggu lalu ada 14 orang yang saya kenal tersesat di TNGP. dan mereka dianggap mendaki secara ilegal karena memasuki kawasan TNGP tanpa laporan kepada petugas. tapi mungkin ini juga yang menyebabkan saya kangen naik lagi ke sana. dan karena tidak ingin salah seperti ke empat belas orang itu, saya memutuskan untuk kemping di lokasi yang sudah disediakan untuk kemping keluarga.

persiapan. perjalanan dimulai sekitar pukul dua pm. kami mempersiapkan barang yang akan dibawa. kami bertiga masing-masing membawa barangnya sendiri-sendiri. barang yang dibawa hanya pakaian ganti untuk besok pulang dan pakaian tangan panjang untuk tidur nanti malam. tak lupa bawa pakaian renang karena kami berencana untuk main air di sungai. dan pukul tiga lewat, kami beranjak dari rumah. setelah salim dengan nenek, kami pergi ke rumah teman abang aji terlebih dahulu untuk menyerahkan kado ulang tahun. karena tidak bisa menghadiri perayaan ulang tahun, terpaksa pemberian kado disegerakan dalam perjalanan pergi.

awal. keberangkatan kami begitu terasa ketika menyetop angkot untuk keluar komplek. sampai di jalan besar, kami turun berganti angkot lagi. sampai di terminal Merdeka – Bogor, kami bermaksud ganti angkot lagi. tapi yang namanya abang aji tidak boleh lihat jajanan. langsung saja minta dua ribu beli cireng. ketika berjalan menuju angkot kami melewati Museum Perjoangan bogor. foto-foto dulu dari luar, karena pagar ditutup. naik angkot lagi turun di ekalos. bingung naik apa lagi, mampir dulu ke atm. ambil uang secukupnya. keluar atm ada yang jualan ayam goreng. kami beli satu. setelah tanya ke penjual mengenai kendaraan yang akan kami naiki, kami akhirnya memilih naik angkot lagi tujuan ciawi. dalam perjalanan, abang aji membuka hadiah ulang tahun temannya yang berupa nasi plus ayam ala kentaki. nasinya saya bagi dua yang sebagian saya taruh di penutup makanan dan ayam yang barusan dibeli ditaruh di situ dan diberikan ke keponakan. jadilah mereka berdua makan nasi + ayam di dalam angkot. saya hanya telan ludah saja.

sampai ciawi, bingung lagi. abang aji mau pipis. putar-putar dulu cari tempat yang bisa dipipisi. dapat informasi jika mau ke cibodas lebih baik naik mobil elf warna putih. teringat melihat mobil itu di ujung jalan selepas jalan tol. balik lagi ke perempatan ciawi. saat itu sudah menjelang maghrib. tapi tujuan kemping masih belum pasti, walau sudah tergambar dalam benak.

perjalanan panjang. naik elf putih tujuan cianjur. masuk mobil, langsung penuh. langsung berangkat. menjelang gadog kendaraan kami dihentikan polisi. ternyata baru saja dimulai penutupan jalan. -OMG- angkot putar balik, masuk jalur alternatif. melewati palalangon tembus cisarua. sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi saya karena jadi tahu jalan alternatif. kemudian tragedi. masuk kembali ke jalur utama, ternyata kami masih tertinggal kendaraan yang naik alias harus stop karena penutupan jalan. dengan sedikit bandel, supir menjalankan kendaraan dengan tersendat-sendat di bahu jalan. selain mobil kami, ada juga beberapa mobil pribadi lainnya melakukan hal yang sama. setelah beberapa meter melakukan hal tersebut, mobil berhenti sama sekali. tanya supir, katanya masih lama berangkatnya. akhirnya kami ijin untuk cari makan dulu. waktu itu sudah sekitar pukul tujuh pm.

mundur mengambil jalur turun, kami menemukan warung makan. nasi rames dua, nasi goreng satu. untungnya saya dan anak termasuk manusia yang makan cepat. yang kasian keponakan. selain makannya normal, nasi gorengnya masih digoreng ketika kami sudah selesai makan. seharusnya ini bukanlah sebuah masalah, karena kalau ditinggal oleh mobil, kami akan mengambil mobil lainnya. khan belum bayar. namun pemikiran tinggal pemikiran. baru saja nasi goreng panas datang, tiba-tiba elf yang kami tumpangi datang. dengan segera kami perintahkan keponakan kami untuk makan cepat. bahkan lebih cepat dari bayangannya yang terlihat masih mangap. teh manisnya dibungkus. setelah tanya, kenapa elf balik arah, ternyata digerebek polisi. semua kendaraan yang parkir di sana di suruh turun. wow :matabelo: kemudian mobil kembali masuk ke jalur alternatif. jalanya sempit dan putar-putar. dengan pemandangan rumah-rumah layaknya di jakarta, berdempetan dan pagar tinggi. kiri kanan orang arab. lah.. kenapa jadi banyak arab di sini??

keluar lagi masuk jalan utama. mobil stag lagi. mengingat pengalaman sebelumnya, sang supir menagih sewa ke seluruh penumpang. karena kalau ada penumpang yang tercecer bisa-bisa tidak membayar seperti kejadian yang hampir menimpa kami sebelumnya. tak sempat menghitung waktu, ketika penutupan jalan selesai, kami segera masuk mobil dan berangkatlah mobil ke tujuan yang masih samar tapi terbayang jelas di pelupuk mata. lewat Mesjid At taaun, abang aji mengajak mampir. tapi nanti susah cari kendaraanya. melewati rindu alam, menjelang warung mang ade, sempat terpikir untuk berhenti saja dan menginap di situ. tidak jadi. mobil mulai menurun. dataran tertinggi telah terlewati. abang aji bingung, “kok turun pi?” katanya. setelah saya berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak dan tidak dimengerti saya, abang aji manggut-manggut tanda tak mampu (halahh..).

cibodas. setelah turun dari elf warna putih. kami menyeberang jalan. sepi….. . . . . baru menyeberang jalan, datang angkot berwarna …… entah kuning entah orange entah khakhi entah krem. pokoknya saya tahu bahwa mobil itu yang akan membawa kami ke atas. ternyata masih ada juga masyarakat yang naik turun di malam sepi ini. bahkan ibu-ibu dengan bayinya.

sampailah kami di ujung perjalanan. jreng jrengngng..ngng………….. turun angkot bayar lima ribu dikembalikan seribu. langsung masuk ke toko yang masih buka (sepertinya satu-satunya yang masih buka). kami tanya ke pamilik warung, “kemping sudah disediakan tenda?” ternyata tidak. harus bawa sendiri. kalau mau menyewa boleh. bingung sewa di mana nih, tanya lagi sama pemilik warung itu “ada tenda yang bisa disewa?”. dan alhamdulillah pemilik warung segera kontak temannya yang ternyata penjaga di sana (jagawana ??). dan kami mendapat satu tenda untuk tiga orang, katanya yang tersisa tinggal itu. tidak ada matras karena sudah habis. saya dengan sombong dan angkuh menyatakan, “tidak apa-apa yang penting tenda”.

dan keberuntungan masih berpihak pada kami. penjaga tersebut membawa tenda pluss sleeping bag, tiga buah. walau tidak pesan saya ambil juga. semuanya termasuk pasang Rp. 100.000,-. masuk ke perkemahan, kami ditanya mau kemah di mana.. karena sudah malam dan malas eksplorasi, kami malah minta masukan dari dia. katanya di sini saja. pas di bawah tangga masuk. yang penting tenda berdiri, saya katakan boleh…… tendapun berdiri.

eksplorasi. saat tenda didirikan, kami melihat ada api unggun di seberang jalan. foto-foto dulu. selesai tenda berdiri, kami masuk dan persiapan tidur. guling sana guling sini, mungkin karena terlalu lelah, kami susah tidur selain itu abang aji takjub dengan pengalaman pertamanya ini akhirnya kami keluar tenda. pertama jalan tidak jauh. kemudian kami menemukan ada sebuah goa yang gelap gulita dan menyeramkan. ternyata itu gua komodo. panjangnya cuma sekitar lima mater. dari ujung goa terlihat sinar dan masuklah beberapa orang dari ujung gua lainnya melewati kami. karena penasaran, akhirnya saya beranikan diri untuk masuk. dan ternyata kami keluar di ujung gua lainnya dan bertemu warung. okay.. something new buat kami. berkelilinglah kami kesana kemari hingga bertemu sungai. abang aji seperti biasa, pipis.

ternyata malam itu, banyak sekali yang kemping. (baru nyadar). dan mereka jalan-jalan bukannya tidur. tersadarkan akan hal ini, kami seperti layaknya anak-anak yang mendapat mainan baru so excited. berkeliling berkeliling berkeliling dalam gelap tanpa rasa takut. di sana kami seperti berada di pasar malam. dibantu oleh sinar bulan yang lumayan terang, kemudian lampu dari warung dan lampu dari tenda-tenda lainnya, kami berkeliling berkeliling berkeliling.

terakhir kami sampai di mushola yang terletak di ujung dekat kali. kami sebut ujung karena sudah tidak ada lagi jalan di sana. dan abang aji mengajak kami untuk shalat isha. berjamaah kami shalat. dengan air yang dingin kami wudhu. khusyu dan nikmat. selesai shalat dengan wajah tanpa dosanya abang aji bilang bahwa dia BAB di celana. gubrakss…… segeralah kami beranjak ke toilet umum yang ada di sebelah musholla. selesai mencuci celana dan celana dalam abang aji, kami memutuskan kembali ke tenda. abang aji kembali ke tenda tanpa menggunakan celana. untungnya pakaian yang digunakan adalah jersey untuk bersepeda yang di bawahnya ada karet. jadi tidak terlalu ketahuan bahwa dia tidak bercelana.

tidur tak tidur. sampai di tenda dengan segera kami persiapan tidur. masuk sleeping bag. setelah terlihat bahwa anak-anak tidur, segera saya pejamkan mata. tidak bisa. makan snack berbunyi krauk-krauk. abang aji bangun sambil tertawa. kami makan snack bersama. inilah suasana kemping. mungkin karena rasa kantuk sudah mulai datang, abang aji segera merebahkan diri. terdengar ada suara satu keluarga yang sedang mendirikan tenda. abang aji bilang “berisikk..” segera suara-suara itu berbisik. abang aji tidur.

tujuan wisata berikutnya

In bahasa, jakarta, sharing on Juni 30, 2012 at 10:42 am

hari ini, sabtu 30 Juni 2012. abang aji menerima raport kenaikan kelas. walau tidak bermaksud untuk mendahului kehendak Allah. tapi InsyaAllah kami yakin bahwa abang aji (akan) naik kelas. yang menjadi pertanyaan adalah : bagaimana nilainya?

memiliki anak tidak sama dengan memiliki barang/benda. seberapapun berharganya benda, seorang anak tidak dapat dibandingkan dengannya. dalam hal ini, kami selalu berusaha yang terbaik dalam menjaga dan mendidik anak kami sesuai dengan tuntunan dan tuntutan hidup.

tuntunan hidup adalah semua yang diajarkan dalam agama islam. dan kami menyadari bahwa kami sangat berkekurangan dalam mengamalkannya. namun tetap saja kami harus mengajarkannya kepada abang aji. jadi kami belajar agama hingga setua ini dengan cara mengajarkannya kepada abang aji. memang dari hasil membaca/blogwalking kami sering sekali menemukan bahwa menjaga pelajaran agar tidak lupa adalah dengan mengajarkannya kembali kepada orang lain. hal ini terbukti secara pribadi dari pengalaman saya.

karena jabatan saya di kantor adalah Widyaiswara. maka saya berkecimpung dalam kegiatan belajar mengajar di kantor. pelajaran yang diajarkan adalah pelajaran tingkat pradasar hingga tingkat dasar. jadi siswa belajar dari nol hingga mencapai tingkat dasar. dalam standart noryoku shiken (Japanese Language Proficiency test) siswa akan mencapai hasil level empat dari lima level yang ada. level satu yang tertinggi, level lima yang terendah.

awal-awal mulai mengajar, saya getol sekali meningkatkan kemampuan keilmuan saya. ketika itu ada pemikiran bahwa jika mengajar siswa dalam level tertentu, maka saya harus memiliki kemampuan minimal satu level di atasnya. tapi setelah dua belas tahun mengajar, saya mendapat pemahaman baru, karena program yang kami miliki adalah dari tingkat pradasar hingga tingkat dasar, ilmu yang saya miliki tidak terpakai semuanya. bahkan karena jarang dipakai, maka banyak lupa dan hilang, menguap seiring usia.

terbukti bahwa pelajaran yang selalu diamalkan dengan cara diajarkan kembali kepada orang lain akan mendarah daging. tapi pelajaran yang tidak pernah diamalkan/diajarkan kembali kepada orang lain, akan hilang musnah. untuk mendapatkannya kembali harus belajar kembali.

demikianlah yang terjadi pada kami. banyak tuntunan agama yang terlupa dalam menjalani hidup. ketika memiliki anak, kami ingin dia mengikuti semua aturan agama. dan konsekwensinya adalah kami harus juga menjalaninya. untuk menjalaninya, kami harus tahu ilmunya. untuk tahu ilmunya : belajar lagi.

tuntutan hidup adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bertahan hidup di dunia ini. semua hal yang berkaitan dengan cara-cara bertahan hidup sebagai bekalnya berperang nanti kami berikan/ajarkan. dan seperti juga tuntunan hidup, mengajarkan abang aji agar bisa bertahan hidup nantinya juga cukup sulit.

bagi saya pribadi, untuk dapat bertahan hidup maka harus memiliki ketrampilan dan keahlian. semua itu bisa didapatkan dengan cara dipelajari. untuk lebih memudahkan kami mengajarkan abang aji agar bertahan dalam hidupnya, kami masukkan dia ke sekolah. kami masukkan dia ke bimbel. dan kami masukkan dia dalam kegiatan olah raga.

saya yakin para orang tua pasti juga melakukan hal yang sama. tapi pasti juga caranya berbeda. karena setiap anak adalah unik. mereka berbeda-beda. dan setiap orang tua juga memiliki cara yang berbeda juga dalam menangani anaknya. kompleks sekali hidup ini.

kami pusing dan lelah dalam keseharian bertahan hidup. abang aji juga pusing dan lelah dalam keseharian belajar bertahan hidup. oleh karena itu, kami secara keseluruhan bermaksud untuk dormansi sejenak.

ngapain ?

wisata pastinya

kemana ??

kemana….. kemana….. kemana ??

lah.. ayu ting ting aja bingung. apalagi kami.

jadi…

tujuan wisata berikutnya adalah : …..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.