komuter

Arsip untuk ‘biker’ Kategori

mimpi

In bahan bakar, biker, jakarta, jalan, jurnal, motor, pengendara on Mei 6, 2013 at 8:43 am

aku bermimpi.

ternyata mimpi bukanlah terjadi ketika tertidur.

mimpi terjadi ketika tengah terjaga.

aku melihat aku terpana.

mp3

ini bukan ulasan tentang motor mp3 piaggio 500cc. ini ulasan tentang mimpiku. mimpi seorang pria pemimpi. yang selalu bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan mimpi. aku ingin memiliki mp3. mungkin sepuluh tahun lagi baru terwujud. tapi tetap mimpi yang melenakan. aku senang memiliki mimpi ini.

mimpiku yang lain telah terwujud atas perkenan Allah swt. dan masih banyak mimpi yang juga belum terwujud. tapi aku yakin. man jadda wa jadda. terus bermimpi. terus berusaha. terus terjaga.

Cuma tertawa saja

In b2w, biker, motor, pengendara, sepeda on Mei 16, 2012 at 7:59 am

Bersepeda di siang hari bersama anak semata wayang. Hampir seharian kami berkeliling keluar masuk hutan di sekitar komplek. Walau panas tapi menyenangkan. Cukup menyenangkan karena hampir di setiap tikungan kami berhenti. Dan hampir dari setiap perhentian kami nongkrong di warung.

Berangkat sekitar pukul dua belas siang, setelah shalat dzuhur. Kembali lagi di rumah pukul lima belas ba’da shalat ashar. Pulang balik dibuka dan ditutup dengan shalat. Alhamdulillah perjalanan kami lancar.

Walau pakai sepeda mtb, tapi sepeda saya single speed, alias hanya satu percepatan. Sebelumnya dapat musibah ketika sedang gowes di sekitar rumpin. Anting rear delairure (rd) patah. Ketika itu terpaksa pulang naik angkot. Sekarang anting sudah dipasang setelah pencarian yang cukup lama. Tapi baru sekedar pasang antingnya dan rd saja. Kabel penghubung antara rd dan shifter belum dipasang. Jadilah sepedah mtb single speed.

Untungnya dengkul ini sudah beradaptasi dengan tandjakan, jadi walau bagaimanapun untuk tandjakan di sekitar komplek masih bisa ditolerir. Kecuali satu tandjakan yang gagal digowes karena kebanyakan tertawa.

Bicara tertawa, diakhir perjalanan menjelang masuk gang ke rumah ada seorang ibu mengendarai motor matik membonceng seorang ibu dengan ukuran yang sama dengannya (ndut) dan seorang anak di depan. Jalan dalam kondisi kosong, tapi karena bertegur sapa dengan seseorang di pinggir jalan, ibu itu agak kesulitan mengendalikan motornya. Gundukan selokan di ujung jalan bikin motor matiknya kurang tenaga. Komplikasi yang unik.

Padahal jalan lega dan dalam kondisi kosong, tapi karena sempat menengok ke pinggir jalan untuk bertegur sapa, ditambah motor matiknya loyo melewati gundukan, eh malah sepedah yang disalahkan. Saya cuma tertawa saja. Tapi sempat juga saya ingatkan padanya karena sembarangan menyalahkan sepedah. Saya katakan ” pakai helm kalau naik motor!”. Karena sedang kesal, jawabannya singkat saja “au ah”.

Sekali lagi saya cuma tertawa saja.

menjadi lebih baik atau tidak menjadi lebih baik (hanya tetap baik)

In b2w, biker, jakarta, jalan, jurnal, motor, pengendara, seli, sepeda on Februari 10, 2012 at 8:54 am

dalam hidup selalu penuh dengan pilihan. bagi saya, pilihan itu selalu dua : kanan atau kiri. dan dari setiap pilihan akan selalu melahirkan pilihan lagi. dan pilihan lagi. dan pilihan lagi. ketika kedua pilihan adalah pilihan baik, maka pilihlah yang terbaik.

pertanyaannya adalah bagaimana menentukan yang terbaik dari yang baik agar bisa menjadi lebih baik ??

pertanyaan di atas terkait dengan terus adanya perbaikan jalan di daerah saya. jalan-jalan yang selama ini kami gunakan adalah jalan makadam yang penuh dengan kubangan dan berbatu. kemudian diaspal dan menjadi baik. sekarang kemana-mana jadi enak. pinggang tidak pegal lagi. tangan tidak tremor lagi. sepertinya NJOP juga ikutan naik nih.

perbaikan jalan ternyata tidak berhenti di jalan utama saja. tapi masuk ke jalan-jalan kecil atau gang-gang penghubung antar desa dan antar komplek. sekilas ini merupakan satu kemajuan. betulkah demikian ……….

ada pro ada kontra. ada kelemahan ada kelebihan. ada kiri ada kanan. ada jin ada (u) jang. demikian juga dengan program perbaikan jalan-jalan yang menjangkau hingga pelosok desa. benarkah itu merupakan program untuk memajukan desa ??

saya akan menjawab pertanyaan di atas secara saya. dengan sudut pandang saya. sesuai dengan keuntungan dan kerugian yang saya alami. bukan atas kepentingan orang lain, apalagi orang banyak. tapi kepentingan saya sendiri.

melewati jalan utama ketika berangkat atau pulang kerja berarti harus memutar sejauh kurang lebih 2 kilometer. selama ini tidak masalah karena jalan utama sudah diaspal dan bagus. sekitar sebulan lalu jalan kecil antara komplek tempat saya tinggal dan perkampungan penduduk dicor beton. melewati jalan itu untuk berangkat dan pulang kerja menghemat jarak tempuh. lumayanlah selain memutar dua kilo yang terpangkas, akses jalan ini juga mengarah ke rute yang lebih memendekkan jarak lagi. jadi kalau ditotal sekitar lima kilometer terpangkas secara signifikan. wow :matabelo::matabelo:

tapi timbul juga penyesalan dalam diri. kenapa mesti dibetonisasi… kenapa :mewek: padahal jalan-jalan perkampungan penduduk adalah rute favorit saya bersepeda. keluar masuk perkampungan bersepeda merupakan kegiatan rutin sabtu minggu. kegiatan ini dilakukan tidak perlu jauh-jauh, karena perkampungan di sekitar komplek perumahan saya merupakan track terbaik dalam bersepeda. selain persawahan dan perbukitan terdapat juga hutan-hutan kecil yang terkadang menurut saya masih perawan. karena beberapa kali saya buka jalan di sana.

jalan-jalan kecil atau gang-gang yang sudah dibetonisasi membuat lalulintas menjadi ramai. sebenarnya mayoritas penduduk perkampungan bukanlah pekerja kantoran. karena itu mereka lebih banyak berada di sekitar rumah sehari-harinya. ketika jalan belum dicor, penduduk hanya nongkrong-nongkrong saja di depan rumah. ketika jalan sudah dicor dengan beton, penduduk menjadi memiliki mobilitas yang tinggi. berseliweran ke sana kemari menggunakan sepeda motor. tempat tongkrongan menjadi lebih banyak dan lebih jauh, tidak hanya sekedar depan rumah.

bersepeda di jalur yang ramai mengurangi kenyamanan. tapi berangkat-pulang kerja dengan variasi rute yang bisa diubah-ubah juga menjadi keenakan tersendiri.

sebenarnya betonisasi perkampungan penduduk itu adalah sesuatu yang menjadi lebih baik atau tidak menjadi lebih baik (hanya tetap baik) ????

berteman embun pagi

In biker, blogor, jalan, jurnal, polusi, seli, sepeda on November 23, 2011 at 1:55 pm

gowes rabu pagi

In b2w, biker, jakarta, jalan, seli, sepeda on Mei 4, 2011 at 10:18 am

ketika menggapai asa

In b2w, biker, jakarta, sepeda on April 18, 2011 at 12:45 pm

sempat terfikir, alangkah enaknya komuter hingga Jakarta dengan sepeda. namun memang tidak bisa gowes sejauh itu dan butuh pergantian moda. sabtu 16 april 2011, dengan sedikit ragu saya tetapkan untuk beranjak ke jakarta dalam rangka melakukan beberapa kegiatan sekaligus selama dua hari.

itinery :

keluar dari rumah tepat pukul 07.00 : jalan yang dilalui adalah komplek inkopad tajurhalang menelusuri jalur aspal sasak panjang, pasar selasa, tembus stasiun bojong gede.

stasiun bojong gede pukul 08.00 : tanya petugas di peron, ternyata tidak ada kereta ekspress. tanya kereta yang akan berangkat, ternyata kereta ac ekonomi. dengan tekad bulat, beli dua tiket, satu untuk saya satu untuk sepeda. dengan memberanikan diri melewati petugas pemeriksa karcis di peron dengan menenteng xtrada 4. lolos.

dalam kereta : sudah siap-siap adu argumen jika kondektur memarahi. ternyata tidak ada masalah, dan saya memberikan hanya satu tiket tanpa ada komentar. tiket satunya lagi mubazir deh.

stasiun gondangdia pukul 09.15 : sampai dengan selamat, alhamdulillah.. sedikit foto kemudian turun. ampun dah turun tanggga gotong xtrada 4.

gedung senatama kwitang pasar senen : masuk kuliah di lantai 3. xtrada titip di parkiran motor. modal nekat meninggalkan strada di sana dengan asumsi, dekat dengan petugas satpam, semoga aman.

selesai kuliah pukul 11.00 : keluar kelas bertemu dengan oom sambas dari setbadiklat. haha -hihi sebentar, turun ke parkiran dan …. alhamdulillah masih ada. bayar parkir seribu rupiah, ancang-ancang keluar dari basement pakai gigi terringan.

keluar gedung ketemu teman yang lagi nongkrong, ikutan nongkrong makan mie ayam. siippp. dibayarin.

gowess lagi sekitar pukul 11.30 : kwitang – pasar senen – galur – sumur batu. beli oleh-oleh buat mertua. sampai di rumah mertua cuma sekedar mampir, pergi lagi.

mampir di rumah abang ipar di daerah kebon kosong, ambil kaus untuk ikut funbike besok.

rumah susun dakota kemayoran pukul 12.30 : tempatnya memang kecil cuma satu kamar, tapi lumayan buat kilas balik waktu bujangan dulu tinggal di sini. kegiatannya : nonton tv, secara di rumah tc error, dan nonto dvd. tidur malam pukul 24.00.

pagi setelah shalat subuh pukul 05.30 : berangkat funbike ke RSPAD  Gatot Soebroto. makan bubur sebagai sarapan.

karena malas menunggu, pukul 08.500 : selesai funbike langsung pulang tidak menunggu pembagian doorprize.

stasiun gambir pukul 09.00 : mau beli karcis kereta ekspress, ternyata dijadwalkan berangkat pukul 11.00. jadi selama dua jam ngapain aja……………… akhirnya pindah stasiun ke gondangdia.

stasiun gondangdia pukul 09.05 : setelah angkat-angkat xtrada 4 dengan disaksikan banyak mata, sampailah di loket. kereta terdekat yang akan datang adalah kereta ekonomi. nekat, beli satu tiket Rp. 2.000,- angkat xtrada lagi ke peron, ampuuun dach……

sukses masuk kereta ternyata di dalam juga ada mtb yang dibawa oleh seorang yang mungkin sudah pensiun karena terlihat tua tapi bugar. sukurlah ada temannya. mpet-mpetan di dalam kereta dinikmati saja.

berhubung funbike cuma keliling Monas yang tidak pakai nandjak, maka jiwa petualangan bangkit. turun kereta di stasiun citayam.

stasiun citayam pukul 10.00 : keluar stasiun, bermacet ria kemudian mampir di tukang ketoprak. setelah makan, tanya-tanya rute jalan pada orang sekeliling, segera meneruskan perjalanan.

putar-putar dari citayam menuju rumah malah lebih lama karena sampai rumah sekitar pukul 13.00. berarti funbike sendirian lebih memuaskan dari pada funbike rame-rame di Monas.

untuk tidak menimbulkan rasa penasaran, cekidot :

Sepeda tanpa standar

In biker, sepeda on Maret 9, 2011 at 7:59 am

abang aji selalu meletakkan sepedanya dengan cara digeletakkan begitu saja, padahal sudah dipasang standar agar sepeda bisa diletakkan berdiri. karena jika digeletakkan begitu saja bisa merusak cat sepeda, terlebih lagi makan tempat. mungkin karena teman-temannya juga melakukan hal yang sama maka abang aji dengan yakinnya menggeletakkan begitu saja, walau diberitahu bagaimanapun tetap saja digeletakkan lagi. sudah banyak jurus yang dilakukan agar abang aji mau menggunakan standar sepedanya, tapi tetap saja tidak mempan.

perilaku abang aji ini sepertinya mendapat pembenaran setelah saya membeli sepeda baru bergenre mtb. beberapa minggu yang lalu saya membeli sepeda, dan anehnya tidak ada standarnya. penjualnya bilang memang tidak ada karena sepeda yang saya beli adalah mtb. Apa bedanya sepeda mtb dengan sepeda lainnya?

setelah di rumah, dilihat-lihat ternyata sepeda ini menyediakan bracket untuk standar. jadi jika saya beli standar bisa dipasang di situ. Karena kesibukkan maka standar belum terbeli. sabtu 5 Maret 2011, kebetulan teman-teman dari gowel mengajak jalan ke satu spot yang disebut km0. Kebetulan pula hari itu saya available, maka berangkatlah hari itu bersama rombongan. selama bersama teman-teman saya perhatikan tidak ada satupun dari sepeda mereka yang memakai standar. ada satu yang pakai standar dan menjadi bahan ceng-cengan alias diketawain.

Ini membingungkan. bukannya bagus pakai standar? atau sayanya yang ketinggalan jaman. singkat cerita sampailah kami di lokasi. dan memang begitulah adanya, di sana tersedia bambu yang dibuat layaknya jemuran baju tapi lebih pendek. dan seperti juga jemuran, bambu ini digunakan sebagai standar sepeda dengan cara menggantungkan sepeda tepat di bawah sadelnya. Seperti ini penampakannya :

 

 

Catatan perjalanan

In biker, jalan, jurnal, sepeda on Januari 25, 2011 at 10:29 am

Sebuah catatan bisa saja berupa gambar. Karena gambar dapat mewakili kata yang ingin diungkap. Oleh karena itu, nikmatilah :

.

Lokasi : [komplek inkopad, parung bogor] – [setu tonjong tajurhalang] – [pasar selasa, desa citayam]

Waktu : sabtu, 11 desember 2010. Pukul 14.00 s.d. ba’da ashar

Bukan cerita fiksi

In b2w, biker, jakarta, pengendara, sepeda on Januari 6, 2011 at 10:42 am

Ini kisah hati yang terpana pada satu titik seksi bergenre fiksi.

Siang terik di jalan letjen s. parman

.Tahun delapan puluhan di jalan letjen s. parman memang sudah seramai sekarang. Namun belum ada jalan tol diantara kedua belah jalur. Pagar pembatas antar jalur terpasang dengan kokohnya. Sekokoh hati para penyeberang yang menyeberangi jalan tanpa peduli pada jembatan penyeberangan. Terik siang tidak menyurutkan kayuhanku menyusuri jalan anggrek rosliana slipi. Sesampai di ujung jalan, tepatnya di samping slipi plaza jalan terputus. Belum ada jembatan layang seperti sekarang yang menghubungkan slipi dan tanah abang. Yang ada hanya jembatan penyeberangan.

Tahun delapan puluhan memang sudah tidak sepi lagi. Lalu lalang kendaran dari arah tomang menuju bundaran slipi sangat ramai. Demikian pula sebaliknya. Dengan mata yang tertatap waspada, kami bersiap berjibaku mengadu nyawa dengan para pengguna kendaraan bermotor untuk menyeberangi jalan letjen s. parman di bawah jembatan penyeberangan. Genggaman tanganku erat menuntunnya menyeberangi jalan diburu raungan pengguna kendaraan bermotor yang tidak bersahabat tentunya.

Tahun delapan puluhan di terik berdebu lintas jalan letjen s. parman sangat mendebarkan. Adrenalin terpacu menyeberang dengan gegas. Satu jalur terseberangi. Pengendara kendaraan bermotor seakan dapat dikalahkan dengan telak. Satu kemenangan terendus dari satu sudut bibir berminyak keringat terik siang berdebu. Garis pembatas. Besi pagar kokoh melintang menjadi handicap berikutnya bagi kami para penyeberang jalan. Aku tidak sendiri. Yang lain sendiri walau wanita. Rok bukan penghalang. Besi tajam di setiap inci pagar pembatas bagai penggaruk tak berbayar bagi selangkangan (mereka) yang gatal.

Tahun delapan puluhan dan ramai lalu lalang tak terbilang. Yang ku sayang dapat dengan mudahnya menyelusup menembus pagar pembatas melalui celah bawah pagar walau sempat bergesekan dengan tanah kotor di bawahnya lagi. kerampingannya merupakan satu anugerah terindah yang memudahkan melewati celah sekecil jarak antar pagar. Merebah kemudian berdiri untuk kembali bersiap menyeberangi satu jalur lagi jalan letjen s. parman. Ketegangan mulai merayap, memicu adrenalin yang sempat lepas setelah pagar pembatas.

Tahun delapan puluhan beriring keberhasilan kami menuntaskan misi penyeberangan jalan letjen s. parman di kedua jalur. Ketibaan kami di sisi lain jalur jalan letjen s. parman menimbulkan rasa haru yang dalam. Bukan yang pertama aku berjibaku menghadapi kerasnya kehidupan lalu lintas jalan bersamanya. Dan aku yakin bukan yang terakhir pula hal seperti ini kami lakukan. Tapi ternyata itu yang terakhir. Terakhir kalinya aku menggenggam erat saat menghantarnya menyeberangi jalan. Layaknya seorang gentleman terhadap lady. Kenangan terakhir.

Era y2k kini. Era digitalisasi di segala bidang. Aku terpana padanya. Satu sosok yang mirip dirinya. Yang kugenggam erat saat menyeberangi jalan. Seperti yang ku tahu dari televisi sang dewa pengetahuan. clbk cinta lama bersemi kembali.

Era y2k kini. Bahkan sudah masuk tahun yang kesepuluh. Kutemukan kembali sosok dirinya yang pernah setia menemaniku selama tiga tahun menempuh perjalanan hidup di tahun delapan puluhan. Tahun-tahun yang membangkitkan kenang.

Era y2k kini. Dan memang bukan cerita fiksi di tahun delapan puluhan. Kutemukan sosok dirinya sekarang untuk menemaniku kembali menjalani arung kehidupan berlalu lintas antar rumah ~ kantor.

Era y2k kini. Sekali lagi bukan tentang cerita fiksi di tahun delapan puluhan yang ku miliki dan temani diri dengan setia. Ini adalah kebangkitan satu kenang tentangnya saja. Dan tentu akan temani ku arung jalan antar parung ~ cinere setiap perjalanan kerja.

Salam atas kembalinya dirimu teman. Lupakan lintas jalan letjen s. parman yang makin ramai. Ramping dirimu tak perlu lagi mengepit di antara pagar pembatas. Cukup menyempil di ruang tamu kecil berbagi bersama kami.

Bersamanya :

Catatan : fiksi adalah kata yang kuberikan untuk satu jenis sepeda yang sebutan sebenarnya adalah fixed gear. Sebuah sistem dalam mengayuh sepeda, dimana kayuhan sepeda tak kan berhenti selama roda berputar. Dulu kami menyebutnya : dultrap.

jumat itu

In b2w, biker, jakarta, jalan, pengendara, sepeda on Desember 8, 2010 at 12:44 pm

.

pgi itu terasa berbeda. betapa tidak! rute perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam menjadi molor hingga dua jam lebih. itu semua karena keinginan saya mendapatkan teman gowess di pagi hari saat berangkat kerja. dengan sedikit memutar atau lebih tepatnya menjauh dari arah ke kantor, saya berangkat menuju tkp alias tikum alias lokasi rendevuw di daerah stasiun bojong gede. padahal bojong gede ke kantor jaraknya sama dengan dari rumah ke kantor , kerumah lagi. tapi demi bisa duet, saya paksakan gowess lebih jauh lagi.

alhamdulillah bertemu dengan teman yang dijanjikan. tidak terlalu jauh kami gowess bersama. hanya dari stasiun bojong gede sampai menjelang stasiun citayam. itupun terpotong karena kami bertemu tidak benar-benar di stasiun bojong gede melainkan di pertengahan antara stasiun bojong gede dan stasiun citayam.

apapun yang telah terjadi, saya senang.

ternyata setelah pertemuan dan kemudian perpisahan, hujan datang tanpa diundang. Allah manurunkan berkahnya dalam basah. saya pasrah. setelah berjas hujan, saya lanjutkan perjalanan. tapi apalah artinya jas hujan yang cuma bisa menutupi barang-barang yang memang tidak boleh basah. karena tubuh saya tetap saja kuyup.

beruntung di ruang kerja saya, setiap orang mendapat meja kerja. walau di luar hujan saya masih dapat menjemur pernak-pernik yang basah oleh hujan di meja kerja saya. itupun setelah sebelumnya larak-lirik memantau kegiatan atasan. takutnya sedang berkeliling memantau anak buahnya, seperti saya.

meja kerja saya memang tidak banyak kertas atau sejenisnya, karena saya selalu rapihkan dalam tempat yang berbentuk rak warna coklat di atas meja. komputer berada di samping, dengan meja tersendiri. walhasil saya masih dapat bekerja di meja komputer. dan memang hari itu lumayan sibuk, jadi ketika tiba saatnya pulang saya sedikit kaget, karena ternyata jemuran saya sudah kering.

ini gambar meja komputer di samping meja kerja saya :

.

isinya, seperangkat komputer merek hp pavilion dan printer k7100. webcamnya saya pasang menghadap ke depan meja kerja saya dengan alasan untuk memantau aktifitas orang yang lalulalang. kebetulan pula saya senang buat foto bernuansa candid.

demikian postingan yang sebenarnya hanya ingin menampilkan meja di jumat itu menjadi postingan yang diikutkan dalam kontes. semoga menang *ngarep

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.