komuter

di Brunei #9

In jurnal on Agustus 22, 2012 at 8:11 am

Minggu, 19 Agustus 2012. Hari terakhir puasa malah tidak makan sahur karena kesiangan. Mandi dan berkemas, saya segera turun untuk menunggu Liaison Officer yang berjanji untuk mengantar saya ke pusat kota.

Tidak jadi.

Ijin tidak diberikan karena saya akan pergi tanpa kawalan. Sejujurnya setelah empat hari berada di sini saya terfikir bahwa kami adalah prisoners. Bahkan hanya untuk pergi keliling komplek ini sajapun tidak diperbolehkan.

Makan, minum, nonton tv dan online the net saja kegiatan yang kami dapatkan di sini. Beruntunglah kami dari Indonesia karena Atase Pertahanan kami sangat memperhatikan kami.

Diantara peserta, hanya kami berdua yang sering keluar jail, karena diundang beliau

Pagi itu saya membuka netbook dan membiarkannya digunakan oleh teman. Saya sendiri malah tertidur di sofa yang ada di teras dekat lobi.

Fasilitas yang disediakan di sini memang sangat extravaganza menurut saya. Barang yang diinginkan ada di sini. Air, listrik bisa didapat dengan berkelimpahan. AC di kamar yang bisa nyala 24 jam dan sah. Air hangat untuk mandi. Makanan yang tersedia. Jangan-jangan para narapidana yang memiliki harta banyak seperti gayus atau ayin juga memiliki perasaan yang sama seperti kami yaitu hidup di sangkar emas.

Siang hari itu, teman-teman resah dan gelisah. Lunch belum datang hingga pukul 14…. lewat. Baru datang menjelang pukul 16….. Salah satu keuntungan saya yang berpuasa adalah saya sudah terbiasa tidak makan siang. jadi tidak perlu resah dan gelisah lagi.

Makan siang datang terlambat ternyata karena belepotannya jalur komando di penanjong garison ini. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas islam, akhir Ramadhan adalah awal libur panjang. Mungkin agak mirip dengan Bali yaitu banyak libur. Cuti hari raya hanya di atas kertas. Selepas cuti masih juga open house ke senarai tempat, libur yang diijinkan. CI bilang aktifitas open house akan berlangsung selama kurang lebih satu bulan. :melongo:

Malam takbiran

Di mes saja. Nonton tv dan online hingga larut malam. Tidak ada yang lebaran keesokan harinya kecuali saya. sunyi sepi sendiri.

Di sini saya tidak bisa sembarangan mengunjungi seseorang, walau itu teman. Jika tidak diundang, maka tidak bertamu. Open house adalah kata lain dari undangan. Orang Brunei akan menyempatkan diri untuk datang ke rumah seseorang jika orang itu mengadakan open house, karena tidak ada lagi kesempatan untuk saling bertamu kecuali saat open house.

Malam takbiran tidak ada yang open house :redface: untuk saya. Kalaupun ada, belum tentu saya bisa datang. Selain tempat saya ditempatkan jauh dari mana-mana, kemana-mana saya harus dapat kawalan. That’s the rule. And the next question is, siapa yang akan mengantar saya dan mengawal saya? Ini adalah saat-saat kritis bagi masyarakat Brunei. Semua orang sibuk mengurus Hari raya. Tak ada lagi yang namanya profesional mengurusi pekerjaan. Seperti yang terjadi pada kami. Untung saya punya nomor handphone AO dan LO, maka kami bisa menghubungi mereka untuk minta makan siang.

Demikian pula makan malam. Harus minta.

Tapi mereka menjanjikan besok untuk menjemput saya pergi shalat Ied.

okay

Selamat Iedul Fitri. Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. :mewek::gulinggulingbambu:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: