komuter

di Brunei #3

In jurnal on Agustus 15, 2012 at 5:27 pm

Senin, 13 Agustus 2012. Dari tiga puluh orang lebih siswa, hanya saya yang berpuasa. Maka sahur di pukul 4 pagi adalah kegiatan yang lumayan memicu adrenalin. Kamar kami di lantai 2 menuju ruang makan di lantai dasar adalah uji nyali. Kalau boleh saya gambarkan situasi di sini seperti gedung-gedung tua tak berpenghuni yang ketika siang hari sudah menakutkan apalagi malam hari. untung setan dan pocong beserta afiliasinya sedang dibelenggu. untuk sementara ini amanlah.

Pagi seperti yang telah dibrifing tadi malam, bagi mereka yang tidak puasa disediakan sarapan pukul 06.00.s.d 07.30. Selanjutnya kami masuk bis untuk berangkat ke sekolah. Jarak mes ke kelas sekitar 3 menit dengan mobil.

Berkaitan dengan penggunaan mobil, ternyata termaktub dalam peraturan bahwa kemanapun siswa pergi, terutama keluar lingkungan mes harus bermobil. Dan mereka menjalanan peraturan ini dengan ketat. Konsekwensinya adalah mereka menyediakan bis + driver dan Administrasion Officer (AO) yang stand by 24 jam. Siswa dari mes sebelah yang cuma sepelemparan batu saja dari mes kami mendapat teguran karena mereka datang ke dining room yang terletak di mes kami tanpa bis alias jalan kaki berramai-ramai. :hammer:

Hari pertama masuk sekolah, kami diarahkan menuju suatu aula yang disebut dengan Halbi Hal. Di sana kami mendapat brifing bahwa hari pertama itu adalah pembagian kelas. Kami melihat di jadwal bahwa kelas terbagi dua berdasarkan tingkatan, yaitu elementary dan intermediate. Kemudian kami dibagi dua untuk mengikuti ujian. Dibagi dua karena dari empat skill yang diujikan, untuk ujian listening, laboratorium bahasanya hanya mampu menampung setengah dari kami. Saya mendapat giliran listening dengan rombongan pertama.

Selesai tes pertama, semua siswa kecuali saya, kembali masuk bis untuk coffee break di dining room yang ada di mes. [cape naik turun bis]. Sambil menunggu, saya tertidur di kelas. :redface:. Setelah yang lain kembali, kami segera mengerjakan tes kedua. Tes yang kami lakukan kurang lebih sama dengan tes masuk di Pusdiklat Bahasa tempat saya bekerja.

Kembali ke aula Halbi. kami mendapat pengarahan dan pengambilan pas foto. Dilanjut dengan gladi untuk pembukaan kursus.. Upacara pembukaan akan dilaksanakan keesokan harinya, hari selasa.

Kurang lebih pukul 12… waktu setempat, kami kembali ke mes. Bagi mereka yaitu semua teman saya mendapat lunch di dining room. Hanya saya yang lunch di Musholla. TGIM :biggreen:.

Back to my room, sempat terlelap seketika, ketika teman membangunkan karena kami ada acara yang harus dilakukan. Yang kami tahu, bahwa kami akan dibawa ke kedutaan besar. Saya beserta teman memakai pakaian bebas formil.

Ternyata bukan hanya kesenian yang diklaim oleh negara tetangga. Bahkan budaya jam karetpun terjadi di sini. Mungkin kita perlu bersegera mematenkan budaya ini agar tidak diambil oleh negara lain seperti Brunei ini. Kami dijanjikan akan berangkat pukul 14.00 waktu setempat. Tapi baru benar-benar berangkat satu jam kemudian :kagets::.

Berangkatlah kami. Ada beberapa orang yang terlihat memakai baju sangat bebas, dalam arti seperti baju yang biasa dikenakan di rumah. Bercelana pendek, kaus oblong. Dalam benak saya, “kok boleh”. Tersadarlah saya bahwa kami hanya mengantar orang Laos ke kedutaan besar mereka, kemudian the rest termasuk saya dibawa ke pusat kota. sebelum sampai ke tujuan yang sebenarnya, kami menunggu orang Laos di suatu tempat yang kemudian saya ketahui adalah Stadium Negara Hassanal Bolkiah.

Seperti di Indonesia, pada bulan ramadhan, banyak sekali pedagang dadakan di sini yang menjual ta’jil. Tapi berbeda dengan di Indonesia, penjual ta’jil disini tidak sembarangan dalam berjualan. Pemerintah memberikan mereka beberapa lokasi berjualan sementara yang mirip bazaar. Salah satunya di sekitar stadium ini.

Sedikit aneh pada awalnya, karena ini bulan ramadhan, kenapa kami dibawa kesini? Dan tidak membutuhkan waktu lama ketika saya menyadari that I’m minority here :beer:. Teman yang tidak berpuasa dengan santai berkeliling pasar dan icip-icip. Sementara saya …….. :mewek::gulinggulingbambu::.

Tidak sedikitpun tergerak di hati saya untuk membeli penganan yang ada di sana. Takut mubazir. Teringat pengalaman sebelumnya, di pesawat saya dibekali makanan oleh pramugari pria. Kemudian dijamu oleh Athan Indonesia kolonel Sunaryo di rumahnya. Berlanjut setiba di mes mendapat welcome meal. Semua makanan itu sangat membekas di perut saya, sehingga ketika sahur tiba saya hanya bisa makan sedikit sebagai formalitas.

Akhirnya orang Laos yang ditunggu datang. Beranjaklah kami ke tujuan sebenarnya. – The Mall – the one and the only mall here. They proudly present their mall to us. Saya tidak sempat bertanya ke orang Laos atau Kamboja atau Vietnam, wether there is a mall in their country or not. Tapi yang pasti di Indonesia, Jakarta terutama, mal seperti ini adalah mal kecil yang hanya terdiri dari 4 lantai (atau 5?) dan tidak terlalu banyak pengunjungnya. Tidak ada yang saya beli disini kecuali sabun untuk mencuci baju karena barang lainnya tidak ada yang mendesak harus dibeli. AO yang mengantar kami bertanya kenapa saya tidak membeli sesuatu. Jawaban saya adalah tidak ada yang unik, semua ada di Indonesia. Jadi jika bisa dibeli di Indonesia, kenapa harus membeli di Brunei?.

Malampun tiba, setelah berbuka hanya dengan air mineral karena tidak kebagian tempat di restoran tersedia, kamipun masuk bis. Back to the dorm.

Lelah beraktifitas seharian membuat dinner kurang terminati. Saya berusaha makan banyak, tapi tak selera. Terlalu lelah. Bahkan sempat sakit perut karena stres.

Saking lelahnya, saya sulit tidur. Teman saya memanggil dari ruang lobi dengan kabar yang menyenangkan bahwa dia dapat sinyal wifi dan sedang berselancar on the net. Waktu lajang, bertemu dengan gadis cantik adalah sesuatu yang melelehkan hati. Sekarang yang kami desperately want is jaringan internet. tha da… :beer: we got it now.

Surfing hingga lupa waktu.

About these ads
  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Zainal…

    Sejalan dengan berlalunya Ramadhan tahun ini.
    Kemenangan akan kita gapai
    Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi
    Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa
    Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu
    Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT

    Di hari yang FITRI ini, dengan TULUS HATI
    Saya mengucapkan mohon MAAF LAHIR & BATHIN
    Semoga ALLAH selalu membimbing kita bersama di jalan-NYA

    SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI
    Salam Ramadhan dari Sarikei, Sarawak. :D

  2. Subhanallah, masih lagi di Brunei ya.
    Asyik membaca perjalanan ilmu di Brunei.
    Saya sendiri walau Sarawak berdekatan dengan Brunei, masih belum sampai ke sana.
    Cadangnya hujung tahun ini menggunakan jalan darat. :D

    Selamat atas segala pengalamannya dan mudahan pengalaman berharga bisa memberi banyak manfaat buat semua yang membacanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: